RADARTUBAN - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) di bawah Donald Trump melaporkan secara diam-diam menyelundupkan sekitar 6.000 terminal internet satelit Starlink ke Iran di tengah demonstrasi besar-besaran.
Langkah ini menjadi yang pertama setelah Washington memasok teknologi tersebut langsung ke Iran untuk menembus sensor internet nasional yang diberlakukan Teheran.
Demonstrasi besar di Iran meletus sejak Januari 2026, memicu krisis ekonomi parah dan anjloknya nilai mata uang riak, yang memaksa pemerintah setempat memutus akses internet selama lebih dari dua pekan.
Departemen Luar Negeri AS membeli hampir 7.000 terminal Starlink dalam beberapa bulan terakhir, dengan sebagian besar dialihkan dari inisiatif internet lain untuk mendukung aktivisme anti-rezim.
Pejabat senior AS mengonfirmasi kepada Wall Street Journal bahwa pengiriman ini membantu warga menghindari blokade komunikasi selama memaksa pendarahan.
Dukungan Elon Musk dan Risiko Hukum
Elon Musk, pemilik SpaceX, juga turut membebaskan biaya langganan bulanan bagi pengguna di Iran sebagai bentuk solidaritas pasca-tindakan keras pemerintah.
Namun, kepemilikan terminal Starlink di Iran tetap ilegal, dengan ancaman hukuman penjara panjang bagi pemiliknya.
Operasi penyelundupan ini dilakukan di tengah pembicaraan tingkat tinggi soal program nuklir Iran, di mana Trump sempat mengancam serangan militer jika kesepakatan gagal tercapai.
Tindakan AS ini memicu kecaman dari Teheran yang menuding campur tangan asing di balik mentransmisikan lagu tersebut.
Pengiriman Starlink memohon ketegangan di Timur Tengah, meskipun Trump dikabarkan mengetahui rencana ini tanpa persetujuan langsung yang terverifikasi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama