Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Viral! Remaja Gugat YouTube dan Meta di AS, Ngaku Mental Rusak Sejak Main Medsos di Usia Dini

M Robit Bilhaq • Sabtu, 28 Februari 2026 | 10:34 WIB

 ilustrasi penggunaan media sosial
ilustrasi penggunaan media sosial

RADARTUBAN - Dampak signifikan dari penggunaan media sosial secara berlebih terhadap kondisi kejiwaan anak di bawah umur tengah menjadi sorotan tajam.

Fakta-fakta mengenai hal ini terkuak dalam rangkaian persidangan perkara perdata yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat.

Persidangan Soroti Dampak Media Sosial pada Anak

Dalam persidangan tersebut, seorang psikolog berlisensi bernama Victoria Burke dihadirkan sebagai saksi ahli untuk menguji apakah perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum atas desain aplikasi mereka yang dituding memicu krisis kesehatan mental pada kalangan generasi muda.

Victoria Burke memberikan kesaksian untuk mendukung pihak pengacara penggugat, yang dalam catatan pengadilan diidentifikasi dengan nama Kaley GM.

Diketahui bahwa penggugat telah mulai berinteraksi dengan platform video YouTube sejak dirinya berusia enam tahun, dan mulai menggunakan Instagram saat menginjak usia sembilan tahun.

Baca Juga: Jovial Da Lopez Soroti Tren Kemewahan di Media Sosial, Tegaskan Integritas Lebih Bernilai dari Materi

Diagnosis Gangguan Mental yang Dialami Penggugat

Di hadapan dewan juri, Burke memaparkan bahwa dirinya sempat mendiagnosis Kaley mengalami gangguan kecemasan umum, yang dalam perkembangan selanjutnya direvisi menjadi fobia sosial serta gangguan dismorfik tubuh.

Meskipun Burke tidak secara langsung menarik kesimpulan tunggal bahwa media sosial adalah penyebab utama masalah yang dialami Kaley, namun dalam proses pemeriksaan silang, Burke menegaskan bahwa pengalaman kliennya di dunia digital merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kondisi mentalnya.

Kaley sering kali mengeluhkan tindakan perundungan daring yang dilakukan oleh teman-temannya.

Gadis tersebut juga sempat bercerita kepada Burke bahwa ia pernah mencoba untuk benar-benar melepaskan diri atau menghapus keberadaannya dari media sosial, sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali menggunakan platform tersebut.

Dampak Positif dan Negatif Media Sosial

Burke tidak memungkiri bahwa interaksi Kaley dengan media sosial tidak selamanya membawa dampak buruk.

Berdasarkan pengakuan gadis tersebut, dirinya sebenarnya sangat menikmati proses pembuatan konten video untuk diunggah, meskipun sering kali merasa sangat kecewa dan frustrasi ketika ada pihak lain yang mengeklaim karya miliknya tanpa izin.

Terkait konsep kecanduan media sosial, Burke menjelaskan bahwa fenomena tersebut hingga saat ini belum secara resmi diakui dalam bidang keahliannya.

Istilah kecanduan ini pun belum dimasukkan sebagai kategori diagnosis resmi dalam panduan utama profesional kesehatan mental di Amerika Serikat, yakni Diagnostic and Statistical Manual edisi terbaru.

Pembelaan dari Pihak Meta dan YouTube

Di sisi lain, pihak Meta membela diri dengan merujuk pada rekam medis Kaley yang memperlihatkan adanya sejarah panjang mengenai pelecehan secara verbal maupun fisik di masa lalu.

Selain itu, mereka menyoroti adanya keretakan hubungan antara Kaley dengan kedua orang tuanya yang dipicu oleh perceraian saat ia masih berusia tiga tahun.

Sementara itu, tim hukum YouTube berargumen bahwa Kaley dianggap tidak memanfaatkan berbagai fitur pengaman yang telah disediakan untuk melindungi pengguna dari perundungan.

Fitur-fitur tersebut mencakup sarana untuk menghapus komentar negatif serta alat untuk membatasi durasi waktu menonton video guna mencegah penggunaan yang berlebihan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#anak dibawah umur #youtube #gangguan mental #remaja #Amerika Serikat #meta