Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Alireza Arafi Ditunjuk Jadi Pemimpin Sementara Iran, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

M Robit Bilhaq • Kamis, 5 Maret 2026 | 07:34 WIB

 Ayatollah Alireza Arafi
Ayatollah Alireza Arafi

RADARTUBAN - Pemerintah Iran secara resmi menetapkan Alireza Arafi sebagai Pemimpin Tertinggi sementara untuk mengisi kekosongan jabatan setelah wafatnya Ali Khamenei.

Khamenei dilaporkan gugur dalam serangan udara terpadu yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada hari Sabtu (28/2) waktu setempat.

Langkah penunjukan tersebut disepakati sebagai upaya menjamin stabilitas roda pemerintahan di tengah masa transisi hingga ditemukannya sosok pemimpin tetap.

Merujuk pada undang-undang dasar yang berlaku di Iran, hak prerogatif untuk menentukan Pemimpin Tertinggi berada di bawah wewenang Majelis Pakar, yaitu sebuah lembaga yang diisi oleh kurang lebih 90 ulama senior yang jabatannya diperbarui setiap delapan tahun melalui proses pemilihan.

Baca Juga: Tangis Pecah di Televisi Nasional: Iran Resmi Konfirmasi Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei

Peran Transisi di Tengah Ketidakpastian

Dalam fase peralihan, Arafi berperan sebagai pakar hukum dalam Dewan Kepemimpinan kolektif.

Arafi bersinergi dengan Presiden Masoud Pezeshkian serta Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei untuk mengemban tugas dan kekuasaan Pemimpin Tertinggi hingga Majelis Pakar memberikan keputusan final mengenai pengganti permanen.

Baca Juga: Donald Trump Klaim Ayatollah Ali Khamenei Wafat, Iran Belum Konfirmasi

Profil dan Rekam Jejak Alireza Arafi

Ayatollah Alireza Arafi tumbuh di lingkungan keluarga ulama besar dan lahir di Meybod, Provinsi Yazd pada tahun 1959,

Arafi belajar ilmu agamanya di Qom, yang dikenal sebagai episentrum pendidikan Islam Syiah di Iran.

Gelar Mujtahid yang berhasil diraihnya memberikan legitimasi hukum bagi Arafi untuk memproduksi fatwa secara mandiri.

Kekuatan Arafi pengaruhnya lebih banyak terpupuk melalui posisi-posisi di lembaga strategis dibandingkan panggung politik praktis.

Antara tahun 2009 hingga 2018, Arafi dipercaya untuk memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa di Qom.

Lembaga pendidikan tersebut mempunyai peran vital dalam mendidik calon ulama, baik yang berasal dari dalam negeri Iran maupun dari mancanegara.

Arafi pernah memberikan pernyataan bahwa jaringan institusi pendidikan yang dipimpinnya tersebut membawa misi menduniakan ajaran Syiah.

Meski ucapannya sempat menjadi perbincangan publik, hal tersebut mengonfirmasi posisi Arafi yang kuat dalam ranah diplomasi keagamaan negara.

Loyalitas dan Karier Politik

Mendiang Ali Khamenei selama menjabat konsisten menaruh kepercayaan kepada Arafi dengan memberikan berbagai mandat penting.

Perjalanannya dimulai dari posisi imam salat Jumat di Meybod dan Qom, hingga akhirnya ditarik menjadi bagian dari Dewan Penjaga pada tahun 2019.

Pengamat politik menilai, penempatan Arafi di berbagai posisi strategis tersebut adalah bukti nyata atas loyalitas ideologis serta kemampuan manajerialnya yang mumpuni di mata kepemimpinan lama.

Walaupun sempat mengalami kekalahan saat mencoba memperebutkan kursi Majelis Pakar di Teheran pada pemilu 2016, ia berhasil bangkit melalui pemilu sela tahun 2021.

Puncak karier politiknya Arafi di Majelis Pakar terjadi pada pemilu Maret 2024, di mana Arafi meraih suara tertinggi di Teheran dan didapuk sebagai wakil ketua kedua.

Pencapaian tersebut semakin mengokohkan pengaruhnya dalam mekanisme penentuan pemimpin masa depan.

Sikap Tegas terhadap Amerika Serikat

Dalam urusan luar negeri, Arafi memegang sikap yang sangat kontras dan agresif terhadap Amerika Serikat.

Arafi tidak segan melabeli Amerika sebagai titik pusat dari praktik pelanggaran hak asasi manusia di dunia.

Dalam pidato tahun sebelumnya Arafi mengatakan degan tegas bahwa ambisi AS untuk menekan Iran agar menghentikan pembuatan alutsista merupakan hal mustahil yang tidak akan pernah terwujud.

Saat ini, Iran tengah berada dalam suasana duka nasional yang dijadwalkan berlangsung selama 40 hari.

Di saat yang sama, mata dunia sedang tertuju pada langkah-langkah yang akan diambil oleh Majelis Pakar dalam proses pemilihan Pemimpin Tertinggi yang baru.

Untuk saat ini, posisi Ayatollah Alireza Arafi menjadi sangat krusial dalam menakhodai salah satu periode transisi politik paling bersejarah bagi Iran sejak pecahnya Revolusi Islam 1979. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#pemerintah iran #Ayatollah Alireza Arafi #Amerika Serikat #Israel #ali khamenei #konflik