RADARTUBAN - Dilaporkan terdapat setidaknya 13 orang dari kalangan warga sipil yang meninggal dunia setelah sebuah ledakan dahsyat mengguncang gudang penyimpanan amunisi militer di pusat ekonomi Burundi.
Peristiwa tersebut menyebabkan kobaran api yang sangat besar sehingga memicu terjadinya kerusakan parah pada bangunan rumah serta kendaraan yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Insiden tersebut berlangsung di sebuah kawasan yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi, sehingga menimbulkan kepanikan yang meluas di seluruh penjuru kota.
Pihak militer Burundi menjelaskan bahwa selain korban jiwa yang telah disebutkan, terdapat 57 orang lainnya yang mengalami luka-luka akibat ledakan amunisi tersebut.
Kecelakaan di pangkalan militer yang berlokasi di Bujumbura ini diduga penyebab utamanya berasal dari adanya hubungan arus pendek listrik atau korsleting.
Jenderal Gaspard Baratuza selaku Juru bicara militer, menyatakan dalam keterangan resminya pada awal April 2026 bahwa banyak hunian warga di berbagai lingkungan sekitar serta kendaraan pribadi mengalami kerusakan.
Selain itu, berbagai macam peralatan serta fasilitas milik militer juga ikut hangus terbakar dan hancur akibat ledakan tersebut.
Meski demikian, pihak militer belum memberikan rincian lebih lanjut terkait apakah ada anggota tentara yang menjadi korban tewas, namun mereka mengonfirmasi ada tiga personel militer yang masuk dalam daftar korban luka.
Awal dari ledakan yang terjadi tersebut diketahui pada Selasa malam di gudang persenjataan utama milik Pasukan Pertahanan Nasional Burundi yang terletak di pinggiran selatan Bujumbura, tepatnya kawasan Musaga.
Penyimpanan senjata di Musaga ini lokasinya memang berada di area yang sangat padat dan letaknya bersisian dengan Institut Tinggi Kadet Militer, yang berfungsi sebagai tempat pelatihan sekaligus asrama bagi para calon perwira.
Saat ini Negara Burundi sendiri sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan, bahkan sempat dinobatkan oleh Bank Dunia sebagai negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi di dunia berdasarkan PDB per kapita pada tahun 2023.
Negara tersebut tengah berjuang menghadapi krisis ekonomi yang telah berlangsung lama, termasuk di antaranya adalah masalah kelangkaan bahan bakar yang sangat serius.
Seorang pejabat kepolisian senior yang ikut terjun dalam tim pemadaman api pada malam kejadian menjelaskan bahwa dalam proses penjinakan si jago merah sempat terkendala oleh minimnya ketersediaan air.
Baca Juga: Ledakan Hebat Guncang Gedung 8 Lantai di Bandar Abbas, Iran
Dirinya menjelaskan bahwa banyak harta benda yang musnah akibat kebakaran hebat tersebut dan mengakibatkan kamp utama militer di lokasi itu kini telah rata dengan tanah menjadi abu.
Presiden Burundi, Evariste Ndayishimiye, telah menyampaikan rasa simpati dan duka citanya kepada para korban terdampak melalui pesan singkat di media sosial pribadinya.
Pihak berwenang di Burundi juga mengeluarkan instruksi agar masyarakat segera melaporkan jika menemukan amunisi yang belum meledak melalui sambungan telepon khusus.
Otoritas keamanan juga memberikan peringatan tegas kepada warga agar tetap waspada dan dilarang keras untuk menyentuh benda-benda berbahaya tersebut demi menghindari jatuhnya korban tambahan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama