RADARTUBAN - Amerika Serikat dan Iran kembali mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka siap untuk kembali berperang di tengah gencatan senjata yang rapuh.
Upaya diplomasi yang dijadwalkan di Pakistan masih belum jelas kelanjutannya, dengan kedua pihak saling menuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ditetapkan Selasa (7/4).
Wakil Presiden AS JD Vance tiba di Islamabad pada Sabtu (18/4) untuk menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan dalam rangka perundingan damai antara AS dan Iran.
Pertemuan ini digelar di tengah gencatan senjata yang rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan berperan sebagai mediator.
Baca Juga: JD Vance Batal Pimpin Delegasi AS Temui Iran di Pakistan, Trump Sebut Masalah Keamanan
Pemerintah AS menyatakan kesiapannya untuk kembali melanjutkan perundingan. Namun, Iran belum memberikan kepastian soal keikutsertaannya dan justru menuduh Washington melanggar gencatan senjata melalui blokade pelabuhan dan penahanan kapal.
Presiden Donald Trump mengancam Iran agar mematuhi kesepakatan dan mengganggu kapal di Selat Hormuz.
Ia menegaskan blokade yang diterapkan AS "hampir-hampir mengancurkan" dan tidak akan dihentikan sampai program nuklir Teheran tercapai.
Trump menekankan bahwa Iran seharusnya hadir dalam peran di Pakistan.
"kami sepakat untuk berada di sana." Ia juga memperingatkan bahwa jika gencatan senjata berakhir, "banyak bom akan mulai berjatuhan."
Pimpinan parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan angkatan bersenjatanya siap jika AS kembali memulai permusuhan.
Para mediator mendorong putaran kedua pembicaraan damai AS-Iran setelah putaran pertama di Islamabad pada 12 April berakhir tanpa kesepakatan.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan kembalinya konflik bersenjata saat gencatan senjata berakhir pada Rabu (22/4). (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni