RADARTUBAN-Setibanya di Madinah pada Kamis (30/4) dini hari, rombongan jemaah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Umrah (KBIHU) Al Fajri Tuban tidak langsung beristirahat panjang pascaperjalanan yang melelahkan.
Mereka justru diajak mengenali lingkungan sekitar melalui orientasi lapangan di ruang tamu Jawharul Rasyid Madinah, tempat pemondokannya.
Langkah awal tersebut terbukti mampu membantu 90 jemaah KBIHU Al Fajri yang tergabung di kloter 28 beradaptasi dengan cepat di Kota Nabi.
Kegiatan yang mirip ‘’opspek’’ itu memberi hasil nyata.
Sejak tiba hingga beberapa hari menjalani rangkaian ibadah di Madinah, seluruh jemaah tercatat mampu beraktivitas mandiri tanpa tersesat.
Baca Juga: Setelah Terbang Sembilan Jam ke Tanah Suci, Jemaah Haji Tuban Jaga Kebugaran dengan Senam Peregangan
“Alhamdulillah, tidak ada jemaah yang kesasar,” ujar Kasdikin, salah satu dari tiga penggerak KBIHU Al Fajri.
Menurut dia, orientasi lapangan menjadi bagian penting dalam fase awal kedatangan.
Sebab, tidak semua jemaah familiar dengan tata ruang kawasan Madinah.
Begitu juga istilah-istilah yang digunakan petugas maupun penanda lokasi di sekitar maktab.
Karena itu, pembekalan lapangan diperlukan agar seluruh jemaah memiliki pemahaman yang sama dalam mengenali titik-titik penting.
Kesamaan persepsi tersebut memudahkan mereka saat harus kembali ke maktab secara mandiri atau ketika menghadapi situasi terpisah dari rombongan.
“Ini penting supaya jemaah punya kesepahaman dalam menyebut istilah dan mengenali tempat-tempat baru,” katanya.
Selain orientasi, KBIHU Al Fajri juga rutin menggelar evaluasi kegiatan harian, termasuk pelaksanaan ziarah dan kunjungan ke Raudhah.
Evaluasi dilakukan menyusul adanya sejumlah penyesuaian kebijakan teknis selama pelaksanaan ibadah di kawasan Masjid Nabawi.
“Dengan demikian, mereka bisa memastikan siapa yang belum masuk Raudhah dan siapa yang sudah masuk. Jangan sampai ada jemaah yang belum pernah masuk,” tambah Saiun Ngalim dan Doni Agista Herwindana, penggerak lainnya.
Memasuki Senin (4/5) malam, fokus pendampingan bergeser pada persiapan perpindahan dari Madinah menuju Makkah.
Koordinasi dan evaluasi kembali digelar untuk memastikan seluruh jemaah memahami tata cara pergeseran, mulai dari kesiapan administrasi hingga ketentuan saat mengambil miqat.
Langkah itu dinilai penting agar tidak terjadi pelanggaran saat niat umrah dimulai.
Lebih dari sekadar urusan teknis, pembekalan tersebut juga diarahkan untuk menyiapkan kesiapan mental jemaah menghadapi rangkaian ibadah yang lebih padat dan menguras tenaga di Makkah.(*)
Editor : Dwi Setiyawan