Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sisi Lain Kehidupan Jemaah Haji Tuban di Makkah Mencuci di Rooftop, Menikmati Denyut Kehidupan Syisah dari Meja Ngopi

Dwi Setiyawan • Rabu, 13 Mei 2026 | 14:44 WIB
Sejumlah jemaah laki-laki merokok sambil menyeruput kopi di teras hotel. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Sejumlah jemaah laki-laki merokok sambil menyeruput kopi di teras hotel. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji, ada dua tempat di pemondokan jemaah haji yang jadi tempat bersantai dan bersih-bersih yang luput dari sorotan. 

Di rooftop Tayeb Hotel Makkah, kain ihram putih berkibar diterpa angin gurun. Di sela-selanya, pakaian muslimah, sarung, pakaian harian, hingga handuk menggantung semrawut pada bentangan tali rafia yang diikat seadanya pada pipa air, pilar bangunan, dan kerangka tangga besi. Jemuran-jemuran itu silang sengkarut.

Di sudut lain, deretan mesin cuci berdiri di bawah dua kanopi terpisah. Satu untuk jemaah laki-laki, satu lagi untuk perempuan. Namun, sekat itu sering kali hanya formalitas. Banyak jemaah datang berpasangan, suami istri, ibu dan anak, atau sesama anggota keluarga. Mereka mencuci bersama sambil berbincang ringan.

Baca Juga: Nomor 7 dan 10, Penanda Jalan Jemaah Haji Tuban ke Baitullah

Bagi sebagian pasangan suami istri yang selama di Makkah menempati kamar terpisah, rooftop justru menjelma menjadi ruang temu. Di tempat itulah mereka bisa bercakap, bertukar cerita, atau sekadar memastikan kabar masing-masing di tengah jadwal ibadah yang padat.

Di hotel yang menjadi pemondokan jemaah haji Tuban yang tergabung di kloter 26, 29, dan 30 itulah Jawa Pos Radar Tuban memotret aktivitas privasi yang jarang jadi sorotan. 

Sumarno, jemaah haji kloter 26, misalnya. Senin (11/5) sore, mencuci bersama istrinya. Sambil mencuci, aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Tuban itu sesekali melempar gurauan kepada Tutik Musarofah yang bersama suaminya tengah menjemur tak jauh dari tempatnya.

‘’Nyuci di tempatku aja Mbak, aku buka laundry,’’ guraunya kepada jemaah se-kloternya yang juga sesama ASN Pemkab Tuban itu.

Tak hanya jemaah. Para petugas haji yang tinggal di kawasan Syisah itu juga memanfaatkan lantai teratas hotel lima lantai tersebut untuk mencuci pakaian. Minggu (10/5) sore, Rahmatulla, salah seorang petugas sektor mencuci sejumlah baju dinasnya warna coklat muda di salah satu mesin cuci.

Mencuci di Makkah menghadirkan pengalaman berbeda dibanding di tanah air. Di bawah terik matahari yang pada siang hari mencapai 39–40 derajat Celsius, pakaian basah hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk benar-benar kering. 

Panas menyengat yang berpadu dengan embusan angin kering gurun menjadi “mesin pengering” alami. Rooftop juga menjelma menjadi ruang multifungsi. Karena hotel tidak menyediakan area khusus merokok, sebagian kecil jemaah memanfaatkannya untuk menikmati sebatang-dua batang rokok. Ada pula yang menjadikannya tempat bercengkerama sambil nyeruput kopi.

Sejumlah jemaah di rooftop area laki-laki Tayeb Hotel Makkah. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Sejumlah jemaah di rooftop area laki-laki Tayeb Hotel Makkah. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

Pemandangan itu nyaris terlihat setiap pagi dan sore. Tak jarang, ketika sang istri sibuk mencuci, para suami memilih duduk santai bersama jemaah lain. Mereka berbincang ringan sambil menunggu jemuran mengering.

Begitu istrinya kembali ke kamar, mereka masih bertahan di atas, melanjutkan obrolan dan ngudut. “Saya baru habis enam batang, jemuran istri sudah kering,” ujar Djarwo Sandi, jemaah kloter 29 asal Desa Sembung, Kecamatan Parengan.

Fasilitas serupa juga tersedia di pemondokan lain. Termasuk Fariz Ajyad 2 Hotel yang ditempati jemaah Tuban yang tergabung di kloter 27 dan 28.

Bedanya, tempat cucian di hotel bernomor 404 ini di lantai satu. Misbahul Munir, ketua Kloter 28 mengatakan, area cucian hotelnya berukuran sekitar 5x20 meter. Posisinya di samping hotel. Akses masuknya di dekat resepsionis.  “Saya sudah dua kali mencuci,” kata Ketua Kloter 28 Misbahul Munir.

Baca Juga: 14 Tahun Menabung dari Recehan, Mukarromah, Penjual Mainan di Jenu Akhirnya Berangkat Haji

Sementara itu, untuk urusan bersantai, Tayeb Hotel menyediakan ruang terbuka di depan lobi. Di area berukuran sekitar 5x5 meter itu tersusun empat set meja-kursi.
Selepas asar hingga menjelang magrib, tempat ini menjadi titik kumpul favorit para jemaah. Dari sana, mereka menikmati denyut kawasan sektor 1.

Mulai lalu-lalang jemaah dari berbagai negara, pedagang kaki lima yang menawarkan pernak-pernik haji, buah segar, sayuran, hingga aneka jajanan bercita rasa Indonesia.

Manajemen hotel memang menyiapkan sudut kecil itu sebagai ruang nyaman bagi tamunya. Di dekat resepsionis tersedia kopi, teh kemasan, gula, serta perangkat pemanas air yang bebas digunakan.

Bagi sebagian jemaah, fasilitas sederhana itu cukup menjadi kemewahan kecil di tengah kerasnya ritme ibadah haji. “Saya saban sore ngopi di sini,” ujar Budiono, jemaah kloter 26.

Di kota yang tak pernah benar-benar tidur selama musim haji, rooftop, ruang cuci, dan sudut ngopi itu mungkin tampak sepele. Namun, justru di tempat-tempat itulah para jemaah menemukan jeda.

Sebuah ruang untuk kembali menjalani aktivitas rutin seperti di rumah, mulai mencuci, menunggu jemuran kering, menyeruput kopi, berbincang, lalu bersiap kembali menunaikan panggilan suci. (ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#madinah #Haji #makkah #ibadah