Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelang Puncak Haji, Jemaah Diimbau Kurangi Umrah Sunah dan Fokus Jaga Kondisi Fisik

Dwi Setiyawan • Kamis, 21 Mei 2026 | 14:52 WIB
Perjalanan sai jemaah haji Tuban yang tergabung di kloter SUB 29 diikuti sejumlah jemaah haji dari negara lain pada Rabu (20/5) pagi. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Perjalanan sai jemaah haji Tuban yang tergabung di kloter SUB 29 diikuti sejumlah jemaah haji dari negara lain pada Rabu (20/5) pagi. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN — Menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang tinggal menghitung hari, jemaah haji diingatkan untuk lebih disiplin menjaga kondisi fisik.

Imbauan ini disampaikan kloter SUB 29 melalui maklumat yang dikeluarkan menyusul hasil evaluasi tim kesehatan yang menemukan banyak tamu Allah mengalami penurunan kondisi kesehatan usai menjalankan umrah sunah berulang kali.

Evendi Anwar, ketua kloter SUB 28 mengatakan, maklumat tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi agar seluruh jemaah dapat mengikuti rangkaian wukuf di Arafah secara optimal. Pasalnya, wukuf merupakan puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji yang menuntut kesiapan fisik prima.

Baca Juga: Baru Kloter 28 yang Memetakan Lokasi Tenda di Arafah dan Mina Persiapan Puncak Haji Dimatangkan

Berdasarkan evaluasi petugas kesehatan, terang dia, sebagian besar jemaah yang baru kembali dari umrah sunah dilaporkan mengalami kelelahan, gangguan kebugaran, hingga peningkatan suhu tubuh. ‘’Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu kesiapan jemaah menghadapi fase Armuzna yang membutuhkan stamina ekstra,’’ ujarnya.

Karena itu, lanjut Evendi, jemaah diminta mulai membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak. Terutama pelaksanaan umrah sunah berulang, khususnya bagi kelompok lanjut usia di atas 60 tahun dan jemaah kategori risiko tinggi (risti).

Kelompok terbang yang mambawahi 379 jemaah haji Tuban ini juga memberikan perhatian khusus kepada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), serta ketua rombongan dan ketua regu (karom-karu), agar lebih selektif dalam mengoordinasikan kegiatan jemaah. Mereka diminta tidak lagi memobilisasi jemaah untuk umrah sunah, hingga menjelang puncak Armuzna.

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan jemaah. Dalam maklumat itu disebutkan, apabila tetap mengoordinasikan kegiatan umrah sunah, pihak terkait diminta membuat surat pernyataan pertanggungjawaban atas risiko kesehatan jemaah apabila terjadi gangguan kesehatan selama kegiatan berlangsung.

Kewaspadaan juga ditingkatkan melalui pemantauan kondisi kesehatan yang lebih ketat. Evendi menyampaikan, sesuai arahan sekretaris sektor 1 yang membawahi pemondokan di Syisah, setiap jemaah yang tercatat memiliki suhu tubuh di atas 37 derajat Celcius akan langsung dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Dia berharap seluruh jemaah dapat memahami situasi ini dan menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama. ‘’Dengan menjaga stamina dan mengurangi aktivitas fisik berlebihan, jemaah diharapkan dapat menjalani puncak ibadah haji dengan lancar, khusyuk, dan dalam kondisi sehat,’’ ujar dosen Unsuri Surabaya itu.

Sementara itu, petugas penyelenggara ibadah haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi memperketat pengawasan terhadap jemaah lansia menyusul meningkatnya kasus gangguan demensia yang ditangani maupun dikonsultasikan ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan, perlindungan, dan pembinaan kepada jemaah, khususnya kelompok lansia yang masuk kategori berisiko tinggi.

Kemarin (20/5), beredar surat nota dinas bernomor DK-205/MK/05/2026 yang ditandatangai Kepala Daker Makkah Ihsan Faisal. Dalam surat tersebut disampaikan, peningkatan kasus gangguan kognitif pada jemaah lansia menjadi perhatian serius di tengah padatnya rangkaian ibadah haji serta tingginya suhu di Arab Saudi. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu penurunan kondisi fisik dan mental jemaah, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Demensia pada jemaah haji ditandai dengan gejala disorientasi terhadap tempat dan waktu, perubahan perilaku, hingga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Gejala ini banyak ditemukan pada jemaah lansia.

Petugas kesehatan mencatat, kondisi tersebut dapat dipicu oleh sejumlah faktor. Pertama, penyakit kronis yang tidak terkontrol seperti hipertensi dan diabetes mellitus yang diperberat oleh kelelahan fisik.

Kedua, dehidrasi akibat aktivitas luar ruangan dengan paparan suhu panas serta kurangnya asupan cairan. Ketiga, kekurangan mineral dan nutrisi esensial akibat menurunnya nafsu makan.

Baca Juga: Bakso Trotoar Makkah, Pengobat Rindu Jemaah Haji Tuban Lontong Dibungkus Plastik, tanpa Rajangan Daun Bawang dan Kubis

Merespons kondisi itu, jajaran sektor dan kloter diminta meningkatkan kewaspadaan. Kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah (KBIHU) diimbau membatasi aktivitas fisik jemaah lansia di luar rangkaian ibadah wajib, terutama bagi jemaah risiko tinggi.

Selain itu, para pembimbing juga diminta memberikan edukasi mengenai keringanan ibadah atau rukhshah yang dapat dimanfaatkan sesuai kondisi kesehatan jemaah.

Ketua regu dan ketua rombongan juga diminta melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi jemaah lansia. Pengawasan difokuskan pada kecukupan asupan cairan, nutrisi, serta perubahan perilaku yang mengarah pada gejala gangguan kognitif.

Apabila ditemukan penurunan nafsu makan atau tanda-tanda demensia, petugas diminta segera melaporkan kepada TKHK untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

Di sisi lain, tenaga kesehatan kloter diinstruksikan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa di KKHI maupun sektor apabila jemaah menunjukkan gejala demensia akut.

Koordinasi antarpetugas juga diperkuat. Pengawasan terhadap jemaah lansia dilakukan secara terpadu melalui sinergi petugas sektor, petugas kloter, tenaga kesehatan, serta para pendamping jemaah.

Langkah preventif ini diharapkan mampu meminimalkan risiko gangguan kesehatan pada jemaah lanjut usia, terutama menjelang puncak ibadah haji yang menuntut kesiapan fisik dan mental prima.

Keselamatan serta kesehatan jemaah, khususnya kelompok rentan, menjadi prioritas utama agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalankan dengan aman dan khusyuk.(ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Kloter #arafah #Haji