RADARTUBAN — Rangkaian puncak ibadah haji segera dimulai. Jemaah haji Indonesia, khususnya asal Tuban yang tergabung di kloter 26, 27, 28, 29, dan sebagian kecil 30 mulai bersiap meninggalkan pemondokan menuju Padang Arafah.
Bagi para tamu Allah, fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) menjadi rangkaian ritual paling padat, melelahkan, sekaligus paling sakral dalam seluruh prosesi haji.
Sejak Minggu (24/5) malam atau bertepatan 7 Zulhijah 1447 Hijriah, jemaah mulai berkemas memilah barang bawaan yang akan dibawa selama beberapa hari ke depan. Mereka menyiapkan perlengkapan seperlunya agar memudahkan mobilitas.
Untuk jemaah laki-laki, perlengkapan utama yang dibawa hanya satu set pakaian ihram dan satu pakaian ganti. Sedangkan jemaah perempuan menyiapkan satu gamis putih, pakaian ganti, kaus kaki, dan kaus tangan.
Di luar itu, perlengkapan pribadi seperti seragam kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah (KBIHU), makanan ringan, perlengkapan mandi, obat-obatan, pengisi daya telepon genggam, power bank, gunting, alat cukur, wadah kerikil, tongkat bantu jalan, hingga bendera rombongan turut dipersiapkan.
Kesibukan jemaah dimulai sejak Senin (25/5) dini hari atau 8 Zulhijah. Mereka dijadwalkan mandi ihram sekitar pukul 02.00–03.30 waktu Arab Saudi (WAS) sebelum mengenakan ihram seusai salat Subuh.
Setelah seluruh rombongan siap, jemaah diarahkan turun ke lobi hotel sesuai instruksi ketua kloter. Pemberangkatan jemaah haji menuju Arafah diangkut 4 sampai 5 bus setiap kloter. Jadwal pemberangkatan bertahap setiap sesuai trip.
Mengacu jadwal pergerakan Armuzna, trip 1 (07.00-11.00), trip 2 (11.30-16.00), trip 3 (16.30-21.00), 4 (22.00-23.00), trip 5 (23.00-00.00), trip 6 (00.00-01.00), dan trip 7 (01.00-02.00).
Untuk sementara, seluruh jemaah haji Tuban masuk trip awal. Kloter 26 (trip 3), kloter 29 (trip 1), dan kloter 30 (trip 3). Sementara trip kloter 27 dan kloter 28 belum diketahui jadwal trip-nya.
Setibanya di Arafah, jemaah akan beristirahat di tenda sambil memperbanyak ibadah. Salat berjamaah, zikir, dan doa menjadi pengisi waktu menjelang puncak wukuf pada Selasa (26/5) atau 9 Zulhijah.
Puncaknya Selasa siang. Jutaan jemaah dari berbagai negara akan berkumpul di Padang Arafah untuk menjalani wukuf, inti ibadah haji yang menjadi penentu kesempurnaan pelaksanaan rukun Islam kelima tersebut.
Sekitar pukul 11.30–14.00 WAS, kutbah wukuf digelar bersamaan dengan salat Duhur dan Asar jamak takdim. Setelah itu, jemaah melanjutkan doa dan istighotsah secara bersama maupun mandiri di tenda masing-masing.
Di hamparan Padang Arafah itulah doa dan harapan dipanjatkan dengan khusyuk. Permohonan ampunan juga ditumpahkan.
Menjelang malam, jemaah kembali bersiap melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah. Barang bawaan mulai dikemas sejak pukul 18.00 WAS sebelum rombongan bergerak menuju titik kumpul.
Pemberangkatan dari Arafah ke Muzdalifah dijadwalkan bertahap mulai pukul 21.00 WAS hingga selesai. Khusus jemaah risiko tinggi dan pengguna kursi roda, mereka mengikuti program murur, yakni melintas di Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan demi mengurangi kelelahan dan kepadatan.
Baca Juga: Mendikdasmen Abdul Mu’ti Kenang Masa Sulit, Dulu Hanya Punya Satu Pasang Sepatu
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Mina pada Rabu (27/5) dini hari atau 10 Zulhijah. Setibanya di tenda Mina, jemaah melaksanakan salat Subuh sebelum bersiap melontar jumrah Aqabah.
Bagi jemaah yang sehat, pelontaran dilakukan langsung ke Jamarat. Sedangkan jemaah risiko tinggi diperbolehkan diwakilkan. Prosesi itu ditutup dengan tahallul awal sebagai tanda sebagian larangan ihram telah gugur.
Selama berada di Mina, jemaah menjalani mabit atau bermalam di tenda sambil melanjutkan lontar jumrah pada hari tasyrik. Pelontaran jumrah ula, wustha, dan aqabah dijadwalkan berlangsung mulai siang hingga petang.
Sementara itu, pada Jumat (29/5) atau 12 Zulhijah, jemaah yang mengambil nafar awal bersiap meninggalkan Mina menuju Makkah. Setelah melontar jumrah pada pagi hari, mereka mengemas barang bawaan dan bergerak kembali ke hotel secara bertahap mulai pukul 07.00 hingga 11.00 WAS.
Rangkaian Armuzna menjadi fase paling berat sekaligus paling dinanti seluruh jemaah haji. Karena itu, jemaah diingatkan menjaga stamina, memperbanyak minum air putih, serta mengurangi aktivitas yang tidak perlu sebelum memasuki puncak ibadah haji.
Misbahul Munir, ketua Kloter 28 mengatakan, kloter-nya yang tidak termasuk mandatory tanazul belum mendapat jadwal trip. ‘’Dereng wonten jadwal,’’ kata dia yang dikonfirmasi pada Jumat (22/5) siang.
KH Ihsan Asyari, pembimbing ibadah kloter 29 membenarkan rangkaian jadwal Armuzna tersebut. ‘’Waktunya bisa maju atau mundur, namun jemaah tetap mempersiapkan diri sesuai jadwal waktu yang telah ditentukan markaz,’’ ujarnya.
Khusus jumrah ula, wustha, dan aqabah, Kiai Ihsan mengimbau pelontarannya pada mulai pukul 16.00 WAS, persisnya setelah salat Ashar.
‘’Ini untuk menghindari heatstroke (kondisi gawat darurat akibat terpapar panas ekstrem, Red.),’’ ujarnya.(ds)
Editor : Yudha Satria Aditama