RADARTUBAN - Hamparan Padang Arafah menjadi titik temu jutaan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia.
Sejak tiba secara bertahap pada Senin (25/5) atau 8 Zulhijah, tamu Allah yang mengenakan ihram langsung menempati tenda masing-masing. Tanpa terkecuali jemaah haji dari Tuban yang tergabung di kloter SUB 26, 27, 28, 29, dan sebagian kecil 30.
Sebagian besar memilih berada di dalam tenda di tengah terik menyengat dan angin gurun yang panas. Suhu udara mencapai 40 derajat Celcius. Selama berada di dalam tenda warna putih tersebut, mereka memperbanyak zikir, berdoa, membaca talbiyah, dan salat berjamaah.
Seluruh jemaah haji bersiap menyambut wukuf pada Selasa (26/5). Hari yang bertepatan dengan 9 Zulhijah inilah yang menjadi puncak ibadah haji sekaligus inti dari seluruh rangkaian rukun Islam kelima.
Baca Juga: Jemaah Haji Tuban Bersiap Menuju Arafah Bersiap Jalani Rangkaian Armuzna
Di Padang Arafah, jutaan manusia berkumpul tanpa sekat status sosial maupun kebangsaan. Semua larut dalam permohonan ampunan dan harapan kepada Allah.
Sekitar pukul 11.30–14.00 waktu Arab Saudi (WAS) atau 15.30-18.00 WIB, kutbah wukuf digelar bersamaan dengan pelaksanaan salat Duhur dan Asar jamak takdim.
Jawa Pos Radar Tuban memperoleh susunan petugas prosesi puncak wukuf yang melibatkan gabungan petugas haji, pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), serta jemaah.
Misbahul Munir, ketua kloter SUB 28 mengatakan, dalam wukuf, dirinya bertugas memimpin bacaan talbiyah. Khutbah wukuf disampaikan Syaiun Ngalim. Judulnya, Tri Sukses Haji : Jalan Menuju Haji Mabrur dan Kemaslahatan Bangsa.
Adapun Hadi Nur Salim menjadi muazin, sementara KH Abdul Aziz memimpin salat jamak takdim Duhur-Asar. Bacaan istighotsah dipimpin KH Abdul Khalim Abdul Khamid yang sekaligus membacakan doa penutup.
KH Ihsan Asyari, pembimbing ibadah kloter SUB 29 menyampaikan, dirinya bertugas menyampaikan kutbah wukuf dengan tema hikmah ritual haji. KH Hafidz memimpin talbiyah dan istighotsah. Syukur bertugas sebagai muazin, sedangkan
KH Ahmad Muin menjadi imam salat jamak takdim Duhur-Asar. Doa penutup dibacakan AW Evendi, ketua kloter.
Kloter SUB 26 menetapkan pembimbing bacaan talbiyah dipercayakan kepada
Ustad Zaenal Arifin. Sementara kutbah wukuf disampaikan oleh Gus Nurul Yaqin Anas.
Adapun tugas muazin diemban Ustadz Mustaghfirin. Untuk imam shalat jamak taqdim Dhuhur dan Ashar sekaligus memimpin istighotsah serta doa bersama, dipercayakan kepada KH Muhammad Ahmad Ainul Yaqin (Gus Mad).
Usai wukuf, jemaah melanjutkan doa sendiri-sendiri maupun istighotsah bersama. Di tempat itulah banyak jemaah menumpahkan semua harapannya: memohon kesehatan, keselamatan keluarga, hingga ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
Diperkirakan mulai pukul 18.00, jemaah haji berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah.
Pemberangkatan dari Arafah dijadwalkan berlangsung bertahap mulai pukul 21.00 WAS hingga selesai. Khusus jemaah risiko tinggi dan pengguna kursi roda, pemerintah menerapkan program murur, yakni melintas di Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan.
Baca Juga: Hari ini, Scanning LJK Rampung Lomba Literasi Numerasi Jawa Pos Radar Tuban X Dinas Pendidikan
Skema tersebut diterapkan untuk mengurangi kelelahan sekaligus menghindari kepadatan ekstrem.
Setelah prosesi di Muzdalifah selesai, perjalanan dilanjutkan menuju Mina pada Rabu (27/5) dini hari atau 10 Zulhijah. Setiba di Mina, jemaah melaksanakan salat Subuh sebelum bersiap melontar jumrah Aqabah.
Bagi jemaah yang sehat, pelontaran dilakukan langsung di Jamarat. Sementara jemaah risiko tinggi diwakilkan. Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan tahallul awal sebagai penanda sebagian larangan ihram telah gugur.
Selama berada di Mina, jemaah menjalani mabit atau bermalam di tenda. Mereka juga melanjutkan lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah pada hari-hari tasyrik yang berlangsung mulai siang hingga petang.
Adapun pada Jumat (29/5) atau 12 Zulhijah, jemaah yang memilih nafar awal dijadwalkan meninggalkan Mina menuju Makkah. Setelah melontar jumrah pada pagi hari, mereka mulai mengemas barang bawaan dan kembali ke hotel secara bertahap mulai pukul 07.00 hingga 11.00 WAS.
Di tengah padatnya rangkaian Armuzna, persoalan konsumsi juga menjadi perhatian jemaah. Sejak Minggu (24/5) pagi atau sehari sebelum keberangkatan ke Arafah, layanan katering reguler dihentikan sementara. Sebagai pengganti, jemaah menerima ready to eat (RTE), makanan siap saji yang dapat langsung dikonsumsi tanpa dimasak.
Menu yang dibagikan, antara lain, nasi uduk, rendang daging, semur ayam, kari ayam, dan gulai ayam. Namun, tidak semua jemaah langsung cocok dengan makanan kemasan tersebut.
Sebagian memilih merendam kemasan RTE menggunakan air panas sebelum disantap. “Untuk nasinya keras. Karena tidak ada pilihan lain, ya dimakan saja,” ujar Hartini, jemaah kloter 29 yang mengaku hanya cocok dengan lauknya.
Iman R., kepala Sektor 1 mengatakan, salah satu pertimbangan mengganti menu katering dengan RTE karena pemerintah Arab Saudi menerapkan pembatasan mobilitas kendaraan bermotor menjelang puncak haji dengan memblokade sejumlah titik jalan.
Menjelang Armuzna, kata dia, Kasir Sarmadi, satu-satunya jemaah haji Tuban yang masih dirawat di Awad Al Bishri Hospital Makkah, dijemput pada Minggu (24/5) sore WAS.
Begitu tiba di pemondokannya, Tayeb Hotel, Makkah, jemaah yang tergabung di kloter 29 itu langsung bergabung dengan jemaah lain. Sebelumnya, jemaah asal Desa Brangkal, Kecamatan Parengan itu mengalami sesak napas dan didiagnosis menderita paru obstruktif kronis (PPOK). Mulanya, Kasir dirawat di Al Noor Specialist Hospital Makkah sebelum dipindahkan ke Awad Al Bishri.
Iman menyampaikan, total jemaah yang meninggal di sektornya hingga Minggu (24/5) berjumlah sepuluh orang. Sektor 1 membawahi 54 kloter utuh dan 4 kloter pecahan. Jumlah total jemaahnya 20.598 orang.
Sementara itu, menjelang pemberangkatan ke Arafah, koordinasi antarpetugas diintensifkan. Dalam rapat yang dipimpin petugas sektor M. Saifuddin dengan petugas kloter dan ketua rombongan tidak hanya dibahas jadwal keberangkatan dan penempatan tenda, namun juga ne simulasi penanganan jemaah risiko tinggi dan lansia, termasuk proses naik-turun bus selama fase Armuzna berlangsung.(ds)
Editor : Yudha Satria Aditama