RADARTUBAN - Di tengah derasnya arus modernisasi dan penggunaan teknologi penangkapan ikan yang serba cepat, sebuah potret dedikasi budaya yang luar biasa ditunjukkan oleh seorang nelayan lansia di Tiongkok.
Pria berusia 86 tahun bernama Lao Huang tersebut mendadak viral dan mencuri perhatian dunia internasional karena dirinya diketahui menjadi salah satu dari sedikit orang yang masih aktif menjalankan tradisi memancing kuno yang kini sudah berada di ambang kepunahan.
Lao Huang memilih setia menggunakan metode tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ribuan tahun oleh leluhurnya di kawasan Sungai Li, Yangshuo, Guilin, Tiongkok.
Baca Juga: Ilmuwan Tiongkok Kembangkan Inovasi AI Berupa Rahim dan Robot Kehamilan
Tradisi menangkap ikan legendaris yang dijalankannya dikenal luas dengan nama "Cormorant Fishing" atau memancing menggunakan bantuan burung kormoran yang telah terlatih khusus.
Dalam praktiknya, nelayan lansia ini tidak menggunakan jala mekanis modern ataupun kail pancing biasa, melainkan mengandalkan ikatan batin dan kerja sama yang harmonis dengan kawanan burung air kormoran miliknya di atas rakit bambu sederhana.
Burung-burung tersebut akan menyelam ke dalam sungai yang jernih untuk menangkap ikan, sementara seutas tali longgar diikatkan di pangkal leher burung agar mereka tidak menelan ikan yang berukuran besar, sehingga nelayan dapat mengambil hasil tangkapan tersebut dengan lembut.
Eksistensi metode memancing kuno ini kini tergerus zaman dan beralih fungsi menjadi sebuah pertunjukan warisan budaya non-benda yang sangat bernilai bagi industri pariwisata lokal.
Pria lansia ini mengakui bahwa generasi muda saat ini sudah tidak ada lagi yang berminat menekuni profesi ini sebagai mata pencaharian karena proses pelatihannya yang rumit dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Melalui kegigihannya turun ke sungai setiap hari, lansia 86 tahun ini berharap dunia internasional dapat terus menghargai nilai-nilai kearifan lokal masa lalu serta menjaga kelestarian hubungan yang seimbang antara manusia, satwa, dan alam sekitar di era modern. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni