RADARTUBAN — Setelah menyelesaikan lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah pada Jumat (29/5) pagi, sebagian jemaah haji asal Tuban mulai bersiap meninggalkan Mina.
Mereka memburu waktu agar sebelum matahari terbenam sudah keluar dari kawasan padang pasir yang terletak sekitar lima kilometer di timur Kota Makkah tersebut.
Batas waktu itu menjadi penentu bagi jemaah yang mengambil nafar awal, yakni meninggalkan Mina pada 12 Zulhijah setelah menyelesaikan rangkaian lontar jumrah selama dua hari. Jika masih berada di Mina hingga matahari terbenam, jemaah otomatis harus mengikuti nafar tsani dan bermalam sehari lebih lama.
“Kalau setelah matahari terbenam masih di Mina, maka harus nafar tsani,” ujar KH Ihsan Asyari, pembimbing ibadah Kloter SUB 29.
Dia memastikan seluruh jemaah dalam kloternya yang berjumlah 379 orang memilih nafar awal. Kendati demikian, pihaknya tetap memberikan kebebasan kepada jemaah untuk menentukan pilihan sesuai kemampuan fisik dan kesiapan masing-masing.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban menyebutkan, sedikitnya 483 jemaah asal Tuban memilih nafar tsani. Rinciannya, seluruh jemaah Kloter 26 sebanyak 380 orang, dua jemaah dari Kloter 27, serta 91 jemaah dari Kloter 28. Adapun jemaah Kloter 30 hingga kini belum merilis data pilihan nafar mereka.
Jemaah yang mengambil nafar tsani baru akan meninggalkan Mina pada Sabtu (30/5) atau 13 Zulhijah, setelah kembali menuntaskan lontar jumrah.
“Alhamdulillah, jemaah KBIHU Al Fajri Tuban yang tergabung di Kloter 28 tetap komitmen mengambil nafar tsani,” kata Kasdikin, salah seorang ketua rombongan KBIHU Al Fajri.
Nurul Yaqin Anas, ketua kloter 26 mengatakan, sebagian jemaahnya memilih nafar tsani, namun banyak yang daftar nafar awal.
Di tengah kelancaran pelaksanaan ibadah jumrah, cobaan sempat dialami jemaah kloter 28 saat melaksanakan lontar jumrah aqabah pada Rabu (27/5) pagi atau 10 Zulhijah. Kesalahan arah yang dilakukan salah seorang pemandu membuat rombongan jemaah tersesat dan kehilangan jalur kembali menuju tenda di Mina.
Akibatnya, jemaah berjalan berputar-putar lebih dari satu jam di tengah kepadatan manusia dan suhu panas. Kondisi itu membuat sejumlah jemaah terpencar, bahkan beberapa ditemukan dalam keadaan pingsan.
Ketua Kloter 28 Misbahul Munir mengatakan, sedikitnya 28 jemaah sempat terpisah dan tercecer hingga ke sejumlah lokasi, seperti kawasan sai Masjidil Haram, Bin Dawud Syisyah, hingga Mina Al Wadi Hospital.
“Untuk mencari jemaah yang hilang, petugas harus jalan kaki karena taksi dan kendaraan umum tidak beroperasi,” ujarnya.
Menurut dia, sebagian jemaah baru berhasil kembali ke tenda setelah waktu Asar, Magrib, bahkan Isya. Meski demikian, seluruh jemaah akhirnya dapat ditemukan dan kembali berkumpul bersama rombongan masing-masing.(ds)
Editor : Yudha Satria Aditama