Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Di Tanah Suci, Jemaah Haji Tuban Rawat Tradisi Tahlil-Salawat ala NU

Dwi Setiyawan • Minggu, 31 Mei 2026 | 17:12 WIB
Jemaah haji Tuban yang tergabung di kloter 27 menggelar menggelar pembacaan sholawat dan tahlil bersama di pemondokannya, Fariz Ajyad 2 Hotel, Makkah. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Jemaah haji Tuban yang tergabung di kloter 27 menggelar menggelar pembacaan sholawat dan tahlil bersama di pemondokannya, Fariz Ajyad 2 Hotel, Makkah. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN — Malam Jumat memiliki tempat istimewa bagi umat Islam. Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), malam yang dikenal sebagai sayyidul ayyam atau penghulu hari itu tidak sekadar pergantian waktu menuju Jumat, namun juga momentum memperbanyak doa, salawat, dan zikir.

Tradisi itu pula yang terus dijaga jemaah haji Tuban yang tergabung di kloter SUB 27 selama berada di Tanah Suci. Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji, mereka tetap meluangkan waktu menggelar pembacaan salawat dan tahlil bersama, sebagaimana yang biasa dilakukan di kampung halaman.

Suasana hangat dan khusyuk rutin terlihat setiap malam Jumat di pemondokan jemaah yang menempati Fariz Ajyad 2 Hotel, Makkah.

Baca Juga: Satu Jemaah Haji Tuban Dilarikan ke RS, Dua Lemas, Terowongan Mina Diwaspadai karena Kadar Oksigen Rendah

Lantunan salawat menggema dari musala hotel, diikuti suara tahlil dan doa yang dibaca berjamaah. Sejenak, kerinduan terhadap tradisi keagamaan di tanah air seperti terobati di tengah hiruk-pikuk Kota Makkah.

Kegiatan tersebut dipandu pembimbing ibadah muda kloter SUB 27, Wahid Ahmad Ali. Menurut dia, tradisi salawat dan tahlil sengaja dijadwalkan rutin sejak jemaah masih berada di Madinah hingga kini di Makkah.

Acara biasanya diawali sambutan sekaligus penyampaian informasi terbaru terkait pelaksanaan ibadah haji. Setelah itu, jemaah bersama-sama membaca salawat nabi dan mahalul qiyam dengan harapan memperoleh syafaat Rasulullah SAW.

Bagi sebagian jemaah, kegiatan itu bukan hanya rutinitas ibadah tambahan, melainkan juga ruang melepas rindu pada suasana religius di kampung halaman. Terlebih, mayoritas jemaah kloter 27 berasal dari lingkungan warga NU yang akrab dengan tradisi tahlilan dan salawat.

Tak hanya salawat. Jemaah juga diajak mendoakan para ahli kubur dan keluarga yang telah wafat. Doa-doa dipanjatkan melalui pembacaan surat Al-Fatihah, tahlil, tahmid, dan kalimat-kalimat thayyibah secara bersama-sama.

Di sela padatnya persiapan menghadapi Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), hal tersebut menjadi penguat spiritual sekaligus perekat kebersamaan antarsesama jemaah.

Wahid mengatakan, kegiatan itu sengaja dipertahankan sebagai bagian dari upaya merawat tradisi ahlussunnah wal jamaah (aswaja) di mana pun berada. Termasuk saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.

Menurut dia, ibadah haji bukan hanya soal ritual fisik, tetapi juga menjaga nilai-nilai keagamaan dan tradisi baik yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

Di tengah jutaan manusia dari berbagai negara berkumpul di Makkah, lantunan salawat dan tahlil jemaah asal Tuban itu seolah menjadi penanda bahwa tradisi keislaman Nusantara tetap hidup dan tumbuh.(ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#tajlil #Tuban #Haji