RADARTUBAN - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan setelah Menteri Energi Amerika Serikat (AS), Chris Wright, mengungkapkan bahwa aktivitas kapal di Selat Hormuz meningkat secara signifikan.
Harga minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi acuan internasional, turun sebesar 3 persen menjadi 91,40 dolar AS per barel setelah pernyataan pejabat AS tersebut.
Penurunan harga terjadi seiring dengan peningkatan lalu lintas di Selat Hormuz di tengah ketegangan AS-Iran yang terus memanas, meskipun ada upaya gencatan senjata di Timur Tengah.
Baca Juga: Trump Siapkan Keputusan Final soal Iran, Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Syarat Utama
Pernyataan Chris Wright memberikan kelegaan bagi pasar energi yang sebelumnya khawatir terhadap potensi gangguan pasokan dari wilayah strategis tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, sehingga setiap perubahan aktivitas di wilayah ini langsung berdampak pada harga minyak global.
Menteri Energi AS juga sebelumnya menyampaikan bahwa Iran memangkas produksi minyak 400.000 barrel per hari dan kemungkinan akan mengurangi produksi lebih lanjut.
Ketegangan AS-Iran Masih Berlanjut
Meskipun aktivitas kapal meningkat, konflik di Timur Tengah terus memanas dan menciptakan ketidakpastian bagi pasar energi global.
Para analis pasar menilai bahwa peningkatan lalu lintas Selat Hormuz merupakan indikasi positif bahwa risiko disrupsi pasokan energi terbesar mulai mereda.
Namun, pasar masih menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai kesepakatan antara AS dan Iran yang dapat menjamin stabilitas pasokan minyak jangka panjang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni