Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Di Hadapan Ketua MPR, Ketua Parlemen Iran Klaim AS Terdesak hingga Minta Gencatan Senjata

Ika Nur Jannah • Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:19 WIB
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. (Instagram @iraninindonesia)
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. (Instagram @iraninindonesia)

RADARTUBAN - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) baru bisa berjalan efektif jika sebuah negara siap bertempur. 

Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima kunjungan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh ketua MPR RI Ahmad Muzani, Jumat (10/7).

Ghalibaf menceritakan, mengenai detail keterlibatan diplomatik yang pernah dilakukannya. Ia menyebut bahwa pemerintah Iran tidak memiliki rasa percaya sedikitpun terhadap Amerika Serikat. 

"Dalam negoisasi, saya secara eksplisit menyampaikan kepada wakil presiden AS bahwa kami sama sekali tidak memiliki kepercayaan terhadap Washington," Ujar Ghalibaf.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 5 Persen Usai Trump Ancam Bombardir Iran, Pasar Langsung Bergejolak

Menurutnya, Iran dipastikan selalu dalam posisi siaga penuh tanpa menurunkan kewaspadaan sedikitpun.

Jika Amerika Serikat mengingkari perjanjian yang ada, negaranya tidak akan ragu untuk melakukan pertahanan total.

"Begitu orang-orang AS menghianati pemahaman yang telah disepakati, kami siap sepenuhnya untuk pertahanan habis-habisan. Kami akan berdiri Teguh melawan mereka secara meyakinkan demi memperjuangkan hak-hak bangsa Iran," Ungkapnya.

Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak berniat memicu peperangan, tetapi tidak akan tinggal diam atas segala bentuk penindasan maupun tunduk pada kesewenang-wenangan. 

Dia menganggap AS, Israel, dan NATO mengalami kegagalan secara strategis karena awalnya mengira bisa menundukkan Iran hanya dalam beberapa hari sebelum konflik membesar. 

Namun, kuatnya tekanan di bidang politik, ekonomi, ekspor media justru menyudutkan posisi Washington serta Tel Aviv. Situasi ini pada akhirnya memaksa Amerika Serikat meminta gencatan senjata. 

"Mereka telah merasakan kekuatan dan kesiapan militer Iran, dan mereka tahu kami tidak akan membiarkan. AS lolos begitu saja," Tutur Ghalibaf. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#mohammad bagher ghalibaf #gencatan senjata #iran #Amerika Serikat #mpr ri