RADARTUBAN - Ibu kota Bangladesh, Dhaka, kini menempati posisi puncak sebagai salah satu megapolitan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi sekaligus kualitas hidup terburuk di dunia.
Memasuki tahun 2024, jumlah penghuni kota ini melonjak drastis hingga menyentuh 23,9 juta jiwa yang terpaksa berdesakan di dalam wilayah seluas 300 kilometer persegi.
Sebagaimana dihimpun dari tayangan kanal YouTube Kendati Demikian, rasio kepadatan penduduk di Dhaka telah menembus angka fantastis, yakni mencapai 79.667 jiwa per kilometer persegi.
Tingginya angka tersebut menyajikan pemandangan kota yang teramat sesak, riuh, dan memprihatinkan di setiap sudut wilayahnya.
Baca Juga: India Bakal Sebar Buaya Untuk jaga Perbatasan dengan Bangladesh
Kondisi pemukiman di ibu kota ini kian mengkhawatirkan.
Berdasarkan riset Center for Urban Studies, sekitar 40 persen dari total warga Dhaka terpaksa menggantungkan hidup di kawasan kumuh tanpa dukungan sanitasi layak, ketersediaan listrik, maupun pasokan air bersih.
Potret buram ini terlihat jelas di Korail, salah satu kawasan permukiman terkumuh yang berada tepat di jantung kota.
Kawasan ini dihuni oleh lebih dari 100.000 jiwa yang menempati gubuk-gubuk rentan banjir beratap seng dan berbahan bambu. Di tempat ini, keterbatasan sanitasi berada pada taraf yang mengelus dada, di mana satu fasilitas toilet harus digunakan secara bergantian oleh 10 kepala keluarga.
UNICEF bahkan mencatat setidaknya 3 juta jiwa warga Dhaka sama sekali tidak memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang higienis.
Krisis kehidupan warga kian diperparah oleh kelangkaan air bersih akibat pencemaran lingkungan yang masif.
Sungai Buriganga yang menjadi penopang utama kebutuhan air masyarakat telah tercemar berat oleh paparan limbah industri.
Data Bangladesh Water Development Board menunjukkan bahwa kandungan bakteri patogen serta logam berat di sungai tersebut telah jauh melampaui batas aman kesehatan.
Alhasil, warga terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean panjang atau mengeluarkannya biaya ekstra untuk membeli air bersih dari daerah lain.
Tak hanya krisis lingkungan dan sanitasi, kelumpuhan sektor transportasi turut menyiksa mobilitas harian warga. Merujuk laporan Bank Dunia, durasi perjalanan rata-rata para pekerja di Dhaka membengkak signifikan dari yang semula hanya 30 menit pada 2004 menjadi lebih dari 90 menit pada 2024.
Studi Japan International Cooperation Agency (JICA) mengungkapkan, bahwa parahnya kemacetan lalu lintas ini memicu kerugian ekonomi bagi kota hingga mencapai 4 miliar dolar AS saban tahunnya akibat pemborosan bahan bakar dan hilangnya jam kerja produktif.
Dampak buruk dari keterpurukan tata kota ini berujung pada penurunan derajat kesehatan publik.
Polusi udara ekstrem yang menyelimuti langit Dhaka kini berada pada tingkat membahayakan yang diperkirakan memangkas angka harapan hidup warga setempat hingga 6 sampai 7 tahun.
Di saat yang sama, ancaman krisis iklim masa depan kian mengintai.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memproyeksikan bahwa kenaikan permukaan air laut berpotensi menenggelamkan 17 persen daratan Bangladesh pada tahun 2050, yang diprediksi akan memicu gelombang pengungsian iklim hingga 20 juta orang.
Krisis multidimensi ini akhirnya menelan korban paling rentan, yakni generasi muda.
Data UNICEF mencatat setidaknya 4,5 juta anak usia sekolah di Bangladesh terpaksa putus sekolah akibat himpitan kemiskinan struktural.
Anak-anak tersebut terpaksa meninggalkan bangku pendidikan dan terjun ke dunia kerja demi menopang kelangsungan ekonomi keluarga mereka. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari