RADARTUBAN - Desa Kiryas Joel yang dihuni oleh komunitas Yahudi Hasidik dari sekte Satmar di Orange County, New York, mencatatkan fenomena demografi dan sosial yang ekstrem.
Desa Kiryas Joel ini bahkan memiliki tingkat kelahiran tertinggi sekaligus menjadi kawasan termiskin di Amerika Serikat.
Terletak tak jauh dari gemerlap pusat keuangan dunia di Manhattan, Kiryas Joel memilih hidup dalam isolasi budaya yang ketat demi mempertahankan tradisi keagamaan leluhur mereka.
Selain itu, komunitas mereka juga memisahkan diri dari pengaruh gaya hidup modern dan nilai-nilai sekuler yang mendominasi kehidupan masyarakat sipil di sekitarnya.
Baca Juga: Potret Kelam Port-au-Prince, Kota Paling Berbahaya di Dunia yang Dikuasai Aliansi Geng Bersenjata
Fenomena demografi di desa ini menarik perhatian banyak pakar sosiologi dan ekonomi.
Di saat sebagian besar kawasan di negara maju tengah berjuang menghadapi ancaman penurunan populasi dan penuaan demografi, Kiryas Joel justru mengalami ledakan jumlah penduduk secara eksponensial.
Ledakan Populasi di Tengah Tren Penurunan Angka Kelahiran
Rata-rata setiap keluarga di komunitas ini membesarkan delapan hingga 12 anak.
Berdasarkan data statistik, angka kelahiran di desa tersebut menembus angka sekitar 262 per seribu wanita usia subur, sebuah angka spektakuler yang jauh melampaui rata-rata nasional Amerika Serikat yang hanya berada di kisaran 60 kelahiran per seribu wanita.
Tingginya angka fertilitas tersebut menjadikan Kiryas Joel sebagai salah satu kawasan dengan populasi termuda di seluruh Amerika Serikat, di mana usia median penduduknya tercatat berada pada angka 15,1 tahun.
Seperti yang dikutip dari kanal YouTube Kendati Demikian, komunitas ini secara sengaja menolak gaya hidup modern dan kemewahan sekuler demi menjaga tradisi keagamaan leluhur mereka secara murni.
Bagi warga lokal, memiliki keturunan dalam jumlah besar dipandang sebagai bentuk perintah agama sekaligus simbol kemenangan spiritual setelah peristiwa Holocaust yang hampir memusnahkan garis keturunan mereka di Eropa.
Dilema Ekonomi dan Akses Pendidikan Modern
Namun, pertumbuhan penduduk yang pesat dan prioritas hidup yang berpusat pada spiritualitas mendatangkan konsekuensi ekonomi yang cukup tajam. Secara statistik resmi, Kiryas Joel sering kali menempati urutan teratas sebagai salah satu kawasan paling miskin di Amerika Serikat.
Pendapatan per kapita warga tercatat sangat rendah, sehingga sebagian besar keluarga menggantungkan pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari pada berbagai program bantuan sosial pemerintah federal maupun negara bagian, seperti program kupon makanan (food stamps) dan jaminan layanan kesehatan Medicaid.
Faktor utama di balik tingginya tingkat kemiskinan formal ini berakar dari sistem pendidikan internal komunitas yang menitikberatkan perhatian pada studi keagamaan murni.
Sejak usia dini, para anak laki-laki difokuskan membedah Taurat dan Talmud di Yeshiva, sementara pendidikan pengetahuan umum seperti sains dan matematika tidak menjadi prioritas utama.
Ketimpangan kurikulum ini secara langsung membatasi akses warga untuk masuk dan bersaing di pasar kerja profesional modern di luar wilayah mereka.
Solidaritas Politik dan Pembentukan Kota Mandiri
Di sisi lain, kehidupan bermasyarakat di Kiryas Joel diatur oleh norma sosial dan agama yang amat ketat, termasuk aturan pakaian tertutup serta pemisahan ruang publik antara pria dan wanita.
Walau terisolasi secara budaya dan tertinggal secara ekonomi formal, komunitas ini memiliki daya tawar politik yang luar biasa besar melalui tradisi block voting.
Ribuan warga akan memberikan hak suaranya secara kompak kepada kandidat yang direkomendasikan oleh dewan rabi.
Konsolidasi politik yang solid ini akhirnya mengantarkan mereka pada pencapaian bersejarah saat resmi membentuk pemerintahan kota mandiri bernama Town of Palm Tree pada tahun 2019, yang menjadikannya kota resmi bertatanan Hasidik pertama di Amerika Serikat. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari