Kekaisaran Kuno Pernah Bergetar karena Ketapel, yang Sekarang Dianggap Mainan Anak

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 06:08 WIB
Efek penetrasi proyektil ketapel tali kuno pada manekin gel balistik. (Tangkapan layar Youtube NORTH02)
Efek penetrasi proyektil ketapel tali kuno pada manekin gel balistik. (Tangkapan layar Youtube NORTH02)

RADARTUBAN — Ketika membahas senjata mematikan, banyak orang mungkin langsung membayangkan senjata api modern dengan teknologi canggih dan daya tembak tinggi. 

Namun, jauh sebelum bubuk mesiu ditemukan, berbagai peradaban kuno ternyata telah mengembangkan senjata sederhana yang memiliki efektivitas luar biasa di medan perang, yakni ketapel tali atau sling.

Meski hanya terdiri atas seutas tali dan kantong kecil untuk menempatkan proyektil, senjata ini pernah menjadi salah satu alat tempur andalan berbagai pasukan kuno. 

Kemampuannya melontarkan batu maupun peluru timbal dengan kecepatan tinggi membuat ketapel tali menjadi ancaman serius bagi lawan di medan pertempuran.

Baca Juga: Efek Ajaib ASMR Bagi Otak, Bisa Jadi Senjata Ampuh Redakan Cemas dan Insomnia

Kemampuan tersebut baru-baru ini kembali menjadi sorotan setelah kanal YouTube NORTH 02 melakukan serangkaian eksperimen untuk menguji performa ketapel tali menggunakan peralatan modern. 

Dalam pengujian tersebut, tim mencoba membandingkan efektivitas lontaran batu biasa dengan proyektil timbal berbentuk bikonikal (biconical lead projectile) yang banyak digunakan pada masa lampau.

Hasilnya menunjukkan bahwa bentuk proyektil yang lebih aerodinamis mampu bergerak lebih stabil saat melaju di udara. 

Dalam salah satu pengujian, proyektil timbal seberat sekitar 50 gram mencapai kecepatan hingga 235 kaki per detik (_feet per second_). Berdasarkan perhitungan energi kinetik, lontaran tersebut menghasilkan energi sekitar 128 joule.

Ketika berat proyektil ditingkatkan menjadi sekitar 200 gram, energi kinetik yang dihasilkan turut meningkat hingga mendekati 299 joule. Temuan ini menunjukkan bahwa ketapel tali mampu menghasilkan daya hantam yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan banyak orang.

Saat memperlihatkan hasil pengujian tersebut, penguji dari kanal NORTH 02 mengaku terkejut dengan besarnya energi yang dihasilkan oleh senjata sederhana tersebut.

"Jadi hanya dengan seutas tali dan sebuah bola timbal, kekuatan tanganku sudah setara dengan sebuah pistol," ujarnya dalam video eksperimen tersebut.

Pengujian kemudian berlanjut menggunakan gel balistik dan replika perlengkapan pelindung yang terinspirasi dari perlengkapan militer Romawi kuno.

Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana dampak benturan proyektil terhadap target yang menyerupai kondisi nyata di medan perang.

Dalam sejumlah percobaan, proyektil timbal menunjukkan kemampuan penetrasi yang cukup tinggi.

Benturan yang dihasilkan tidak hanya menciptakan kerusakan pada lapisan luar target, tetapi juga memperlihatkan bagaimana energi dari lontaran dapat ditransfer secara signifikan ke area yang terkena dampak.

Melihat hasil tersebut, sang penguji kembali mengungkapkan keterkejutannya.

"Benda ini terbang menembus tulang iga dan keluar dari sisi lain balok. Astaga, benda-benda ini sangat mematikan, benar-benar seperti peluru," tegasnya setelah menyaksikan hasil uji penetrasi proyektil.

Secara historis, ketapel tali merupakan salah satu senjata jarak jauh tertua yang digunakan manusia.

Senjata ini dikenal luas di berbagai wilayah dunia, mulai dari pasukan Romawi, para Balearic slingers yang terkenal karena keahliannya, hingga berbagai peradaban di benua Amerika seperti Inka dan Maya.

Selain mudah dibuat, ketapel tali juga memiliki sejumlah keunggulan strategis. Amunisinya relatif mudah diperoleh, bobot perlengkapannya ringan, serta mampu menjangkau target dari jarak yang cukup jauh.

Kombinasi faktor tersebut menjadikannya senjata yang efektif dan ekonomis bagi banyak pasukan pada zamannya.

Sejarah bahkan mencatat bahwa luka akibat proyektil timbal dari ketapel tali cukup umum ditemukan dalam peperangan kuno.

Para tabib dan ahli bedah Romawi dilaporkan mengembangkan berbagai teknik serta peralatan khusus untuk menangani proyektil yang tertanam di tubuh para prajurit yang terluka.

Eksperimen yang dilakukan NORTH 02 memberikan gambaran baru mengenai kemampuan teknologi perang kuno yang sering kali diremehkan. 

Di balik bentuknya yang sederhana, ketapel tali ternyata memanfaatkan prinsip fisika yang mampu menghasilkan energi besar dan daya hantam yang mengesankan. 

Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa jauh sebelum hadirnya teknologi modern, manusia telah mampu menciptakan senjata efektif yang memainkan peran penting dalam sejarah peperangan dunia. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Senata peluru timbal ketapel tali romawi