RADARTUBAN – Eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz terus menunjukkan dinamika yang kompleks.
Kendati berada di bawah bayang-bayang blokade ekonomi dan ancaman militer, pemerintah maupun masyarakat setempat dinilai tetap tenang menghadapi tekanan internasional tersebut.
Dinamika geopolitik yang menyeret negara-negara Teluk seperti Oman dan Arab Saudi ini menjadi sorotan dua analis politik internasional, Reza dan Pizaro.
Pengamat Politik Internasional, Reza, mengungkapkan bahwa tingginya kapabilitas intelijen AS tidak serta-merta menjamin ketepatan pengambilan keputusan di Gedung Putih.
Menurutnya, karakter kepemimpinan Presiden AS Donald Trump kerap mengabaikan masukan rasional dari para jenderal maupun pakar akademis.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 5 Persen Usai Trump Ancam Bombardir Iran, Pasar Langsung Bergejolak
“Masalahnya intelijen yang terbaik pun belum tentu diterima oleh Donald Trump. Kan dia itu punya narcissistic personality disorder yang enggak mau dengar orang. Para jenderalnya sudah mengatakan, 'Udahlah selesaikanlah. Anda cari exit strategy yang bagus,'” tegas Reza.
Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa ketenangan Iran tidak lepas dari dukungan diplomatik serta finansial yang diperoleh dari KTT BRICS.
Melalui skema tersebut, Tehran mendapatkan ruang berdagang menggunakan mata uang lokal seperti Yuan, Rubel, dan Rupee India, sehingga dampak isolasi perdagangan sejak belasan tahun lalu dapat diminimalisasi.
Meski dihadapkan pada inflasi tinggi, kepercayaan publik terhadap pemerintah menjadi benteng pertahanan utama di dalam negeri.
Di sisi lain, analis geopolitik Pizaro menyoroti posisi dilematis Kesultanan Oman. Oman berupaya menawarkan solusi kompromi (win-win solution) dengan membagi kendali jalur laut vital tersebut secara seimbang bersama Iran.
Namun, langkah ini berisiko ditolak mentah-mentah oleh Washington yang menginginkan penguasaan penuh atas area strategis itu.
Pizaro menilai eskalasi ini turut memperburuk hubungan Iran dengan negara Teluk lainnya, termasuk Arab Saudi yang menjadi sasaran serangan milisi Houthi.
Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya opsi diplomasi yang dibuka pihak Amerika.
“Saya lihat Amerika itu kayak menikmati perang antara Saudi dengan Iran. Memang visinya membakar Timur Tengah untuk menghambat tumbuhnya ekonomi Tiongkok di situ,” ujar Pizaro.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda meredanya perselisihan di kawasan tersebut.
Hadirnya Beijing yang mulai menawarkan diri sebagai mediator menjadi sinyal bahwa konflik ini telah berada pada titik kewaspadaan tertinggi bagi stabilitas global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni