RADARTUBAN - Gelombang tinggi mencapai lima meter, hembusan angin kencang berkecepatan 80 kilometer per jam, serta jarak pandang yang terbatas tidak menyurutkan langkah para petugas pandu kapal (harbor pilots) di Pelabuhan Emden dan muara Sungai Ems, Jerman.
Di tengah gelombang badai dan cuaca ekstrem Laut Utara, mereka tetap menjalankan profesi paling berbahaya demi memastikan navigasi lalu lintas kapal kargo dapat berjalan dengan aman.
Melalui tayangan dokumenter yang diunggah oleh saluran YouTube DW Dokumenter, gambaran risiko tinggi serta tantangan fisik yang dihadapi oleh para pekerja maritim tersebut diperlihatkan secara gamblang dan penuh ketegangan.
Jerman tercatat memiliki sekitar 800 tenaga pandu kapal profesional yang bertugas mengarahkan kapal-kapal raksasa bermuatan dari kawasan pelabuhan menuju laut lepas atau sebaliknya.
Baca Juga: Minim Armada Laut, Damkar Tuban Belum Memiliki Kapal Khusus Pemadam Kebakaran
Salah satu petugas senior, Gehard Yansen, mengungkapkan bahwa keterampilannya dalam bernavigasi sangat diuji ketika kondisi alam memburuk secara mendadak.
"Kami selalu bekerja dalam cuaca ekstrem. Hari ini agak lebih ekstrem dari biasanya karena kami berlayar melawan angin dengan kondisi air surut," ujar Gehard Yansen dalam tayangan video tersebut.
Tugas utama seorang pandu kapal sejatinya bukan untuk mengemudikan kemudi kapal secara langsung, melainkan memberikan petunjuk arahan navigasi kritis kepada kapten kapal kargo agar tidak kandas atau menabrak struktur dermaga akibat dorongan arus dan angin.
Risiko ancaman bahaya memuncak saat kapal kargo harus melewati jalur sempit Sungai Ems serta melakukan manuver pelepasan kapal tunda (tugboat).
Namun, momen paling berbahaya dari profesi ini terjadi saat proses penjemputan dan pemindahan petugas pandu di tengah laut lepas.
Petugas harus memanjat atau menuruni tangga kayu (pilot ladder) setinggi beberapa meter di lambung kapal tanpa tali pengaman, lalu melompat ke atas perahu penjemput yang terus berguncang hebat di atas ombak.
"Ini bagian paling berbahaya dari pekerjaan kami. Seperti melompat dari satu truk ke truk lain saat sedang melaju cepat di jalan tol," ungkap Dominik, rekan sesama pandu kapal.
Jika kondisi cuaca buruk melampaui batas aman hingga operasi perahu penjemput maupun helikopter dihentikan total, para pandu kapal terpaksa harus bertahan di atas kapal kargo hingga sampai di pelabuhan tujuan berikutnya di negara lain.
Dedikasi serta tingkat kewaspadaan tinggi menjadi kunci utama bagi para petugas untuk meminimalisasi risiko kecelakaan fatal di tengah ganasnya Samudra Utara.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni