RADARTUBAN - Gejala depresi pada remaja bukan ditandai perasaan sedih, namun juga sering dengan keluhan fisik.
"Biasanya gejala depresi itu variasi pada remaja lebih ke bukan hanya perasaan sedih, tetapi malah sering ada keluhan fisik, sakit kepala misalnya, sakit perut," ujar dokter spesialis kedokteran jiwa Petrin Redayani Lukman, sebagaimana dilansir dari Antara.
Dia mengupas hal tersebut dalam acara Bicara Sehat Hari Kesehatan Jiwa: Cegah Stunting dan Depresi untuk Capai Remaja Sehat Hakiki, Selasa (10/10).
Petrin mengungkapkan gejala lain yang bisa dirasakan remaja yakni kecemasan, rasa takut, fobia sosial, takut berpisah dengan orangtua, cepat marah, dan tantrum saat suasana hati buruk.
"Remaja lebih cederung irritable, enggak enak perasaanya, mau marah saja. Itu berarti kita perlu waspada apakah anak atau murid sudah menunjukkan gejala depresi," ujarnya.
Remaja yang depresi, lanjut dia, juga dapat saja menarik diri dari pergaulan, menyalahgunakan alkohol atau zat adiktif, penurunan minat, sulit tidur, dan kurang percaya diri.
Depresi merupakan perasaan sedih yang berkelanjutan dan hilangnya minat untuk beraktivitas.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 1 dari 10 kelompok usia 15 - 24 tahun mengalami gangguan emosional, salah satunya depresi.
Menurut Petrin, remaja dengan gejala depresi perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut oleh tenaga kesehatan, salah satunya psikoterapi.
"Biasanya dokter akan menilai self esteem-nya seperti apa, apa yang menjadi stressor dia, bagaimana faktor risiko, itu akan kami coba diskusikan sehingga akhirnya si anak bisa mendapatkan jalan keluar dari permasalahannya," jelas dia.
Pasien depresi juga bisa diberikan obat-obat antidepresan supaya suasana hatinya lebih baik dan perasaan sedihnya terangkat.
"Bisa curhat, diskusi, psikoterapi dengan dokter. Kalau diterapi, biasanya kondisi depresinya akan membaik atau remisi dalam waktu satu hingga dua tahun dalam proses terapi," kata dia.
Petrin mengingatkan depresi yang tidak ditatalaksana dengan tepat dapat menyebabkan gangguan emosional, sosial dan akademis, meningkatkan risiko penyalahgunaan zat adiktif, meningkatkan risiko perilaku agresi dan kekerasan serta bunuh diri.
Yang perlu diwaspadai depresi pada anak dan remaja dapat menetap hingga dewasa.
Dia kemudian merujuk data sebuah riset yang menyatakan 60 persen anak dan remaja dengan depresi pernah memiliki ide bunuh diri dan 30 persen telah melakukan percobaan.(ds)
Editor : Kifani Amalija Putri