Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Nyamuk Wolbachia untuk Tekan Kasus DBD, Efektif atau Akan Jadi Pandemi Baru

Daffa Maheswara Iswidono • Jumat, 18 Oktober 2024 | 02:40 WIB

 

Ilustrasi nyamuk wolbachia.
Ilustrasi nyamuk wolbachia.

RADARTUBAN - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melaksanakan program pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan menyebarkan nyamuk Aedes aegypti yang mengandung bakteri Wolbachia sejak awal tahun 2023 di lima kota yang terkena dampak.

Inisiatif ini bertujuan untuk menurunkan angka penularan DBD di daerah seperti Semarang, Bandung, Jakarta Barat, Kupang, dan Bontang.

Namun, di tengah upaya ini, muncul berbagai narasi hoaks di media sosial yang mengklaim bahwa nyamuk Wolbachia adalah hasil rekayasa dari kalangan elite global dengan tujuan depopulasi dan berpotensi menyebabkan pandemi kedua yang lebih serius dibandingkan COVID-19.

Salah satu unggahan viral di Facebook bahkan menuduh bahwa penyebaran nyamuk ini bertujuan untuk "membunuh rakyat Indonesia."

Menanggapi hal ini, Kemenkes menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa bakteri Wolbachia tidak berbahaya bagi manusia.

"Wolbachia tidak menginfeksi manusia dan tidak menyebabkan penyakit baru," ungkapnya.

Program ini telah melalui serangkaian uji coba dan penelitian sejak 2011 dan terbukti efektif di sejumlah negara yang juga mengalami DBD, termasuk Brasil, Australia, Vietnam, dan Meksiko.

Dr. RA Adaninggar Primadia Nariswari, spesialis penyakit dalam, menambahkan bahwa penggunaan Wolbachia bukanlah hal baru.

"Penelitian ini telah dilakukan selama lebih dari satu dekade, dan hasilnya sangat positif di negara-negara lain," kata dia.

 

Meski teknologi ini sudah terbukti aman, keraguan masih muncul di beberapa kalangan masyarakat.

Di Bali, rencana pelepasan nyamuk Wolbachia yang awalnya dijadwalkan pada November 2023 terpaksa ditunda karena adanya pro dan kontra. Sebuah petisi daring menolak program ini telah mengumpulkan lebih dari 1.600 tanda tangan.

 

Pada tahun 2017, uji coba Wolbachia di Yogyakarta menunjukkan hasil yang menggembirakan, dengan penurunan kasus DBD mencapai 77% dan pengurangan rawat inap sebesar 86%.

Program ini juga mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021, yang menyebut teknologi Wolbachia sebagai salah satu metode pengendalian DBD yang paling efektif.

Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, dr. Riris Andono Ahmad, yang merupakan peneliti utama program Wolbachia di Indonesia, menegaskan bahwa bakteri Wolbachia hanya dapat hidup dalam sel serangga dan tidak menular ke manusia. "Nyamuk yang menggigit manusia tidak akan menularkan Wolbachia. Penelitian kami di Sleman juga menunjukkan tidak ada antibodi Wolbachia pada manusia yang terpapar gigitan nyamuk ini."

 

Menanggapi kekhawatiran masyarakat, Kemenkes dan pemerintah daerah berkomitmen untuk meningkatkan sosialisasi mengenai program ini. "Kami akan terus memberikan edukasi tentang manfaat teknologi Wolbachia dalam menekan kasus DBD," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu.

Dengan adanya bukti ilmiah yang kuat dan dukungan dari WHO, Kemenkes berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh berita hoaks terkait nyamuk Wolbachia dan dapat memahami manfaatnya dalam mengatasi DBD yang masih menjadi ancaman di Indonesia.

 

Klaim bahwa penyebaran nyamuk Wolbachia akan memicu pandemi kedua atau berbahaya bagi manusia adalah hoaks. Teknologi ini telah terbukti aman dan efektif dalam menekan kasus DBD di berbagai negara dan wilayah di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Pemerintah terus berupaya untuk memberikan informasi yang akurat dan mendorong masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berita palsu.

Editor : Yudha Satria Aditama
#kementerian kesehatan #pandemi #Nyamuk Wolbachia