RADARTUBAN - Selama ini, kita sering kali menganggap depresi sebagai momok. Sesuatu yang harus dihindari, dilawan, atau bahkan disembunyikan.
Padahal, seperti luka fisik yang mengajarkan kita cara lebih berhati-hati, luka psikis juga punya sisi positif jika kita mau melihatnya dengan lebih jujur dan manusiawi.
Dalam buku Loving The Wounded Soul karya Regis Machdy, dijelaskan bahwa tidak semua bentuk stres itu buruk.
Ada satu istilah dalam psikologi yang disebut eustress, yaitu stres positif yang justru mendorong kita untuk berkembang.
Misalnya, ketika harus presentasi di depan banyak orang, kita mungkin dilanda panik dan stres.
Tapi karena tekanan itu, kita jadi belajar lebih keras, latihan lebih serius, dan akhirnya tampil maksimal.
Bayangkan kalau hidup cuma mulus-mulus aja, mungkin kita nggak pernah tumbuh jadi versi terbaik dari diri sendiri.
Lebih jauh lagi, Regis juga menyebutkan bahwa depresi bisa jadi jembatan untuk mendekatkan kita dengan orang lain.
Di saat kita merasa hancur, kadang kita memberanikan diri menghubungi satu-dua teman terdekat, yang selama ini mungkin hanya jadi silent reader di story Instagram kita.
Momen itu, sesederhana apapun, bisa memperdalam makna pertemanan.
Kita jadi sadar bahwa kita nggak sendirian. Ada orang-orang yang masih peduli, dan hubungan antarmanusia jadi terasa lebih tulus dan hangat.
Tidak berhenti di situ, depresi juga bikin kita lebih sadar terhadap diri sendiri. Kalau biasanya kita sibuk berlari, ke sana kemari, memenuhi tuntutan dunia, depresi memaksa kita untuk duduk sejenak.
Untuk mendengar suara hati yang selama ini terabaikan. Kita mulai mengenal batas fisik dan mental kita.
Kita belajar menerima kekurangan, mengakui bahwa tidak semua hal harus sempurna. Proses ini disebut Regis sebagai bentuk dari self-awareness, self-acceptance, dan pada akhirnya menuju self-love.
Bayangkan kalau kita tidak pernah jatuh, mungkin kita tak pernah tahu bagaimana rasanya berdiri lagi dengan kekuatan sendiri.
Tidak pernah merasa rapuh, kita tak akan menghargai keberanian yang muncul saat memilih bangkit. Dalam banyak kasus, justru dari masa-masa kelam itulah kita menemukan makna hidup yang paling jujur. Yang nggak dibentuk dari tuntutan sosial, tapi dari keheningan dan refleksi.
Dan satu hal yang patut diapresiasi dari buku ini: bahasanya ringan, tidak menggurui, tapi tetap komprehensif.
Cocok untuk siapa saja yang ingin mengenal depresi tanpa merasa sedang dimarahi atau didiagnosis.
Tapi, seperti yang sudah dipesan penulisnya dan saya ulangi di sini: jangan beli buku bajakan.
Dukung penulisnya, karena berbagi luka juga butuh keberanian dan dedikasi yang tidak main-main.
Jadi, lain kali kalau merasa hancur, jangan buru-buru merasa gagal. Bisa jadi, itulah momen di mana dirimu sedang membentuk versi baru dari siapa kamu sebenarnya.
Depresi bukan musuh, kadang ia cuma cara tubuh dan pikiran kita bilang: “Hei, aku butuh dirimu juga, bukan cuma tuntutan dunia.” (*)
Editor : Yudha Satria Aditama