Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Terlalu Sibuk Bekerja? Ini Dampak Serius bagi Tubuh dan Pikiran yang Wajib Diwaspadai

Alifah Nurlias Tanti • Kamis, 17 Juli 2025 | 23:10 WIB
Kerja Terlalu Keras Picu Penyakit Kronis
Kerja Terlalu Keras Picu Penyakit Kronis

RADARTUBAN — Gaya hidup produktif dan ambisi karier memang patut diapresiasi.

Namun, di balik rutinitas kerja yang padat dan target yang terus dikejar, ada bahaya tersembunyi yang bisa menggerogoti tubuh dan pikiran secara perlahan.

Studi dari Alodokter dan Sleepbuddy, Rabu (16/7), mengungkap bahwa kerja berlebihan tanpa jeda dapat menimbulkan dampak kesehatan serius, bahkan berujung pada penyakit kronis.

Tanpa disadari, semangat yang terus membara bisa berubah menjadi tekanan berat jika tak disertai manajemen waktu istirahat yang baik.

Dalam jangka panjang, tubuh bukan hanya kehilangan tenaga, tapi juga terancam mengalami gangguan mental dan penurunan kualitas hidup.

Salah satu dampak paling umum adalah kelelahan ekstrem, akibat kurang tidur dan waktu istirahat yang minim.

Kinerja otak dan konsentrasi pun ikut merosot, menjadikan produktivitas justru anjlok meski jam kerja meningkat.

Di sisi mental, tekanan berkepanjangan dapat memicu depresi, dengan gejala seperti sulit tidur, penurunan nafsu makan, kehilangan minat, hingga munculnya pikiran menyakiti diri sendiri.

Tak berhenti di situ, stres akibat kerja juga berperan dalam meningkatkan risiko diabetes, lantaran mengganggu fungsi hormon insulin dalam mengontrol gula darah. Apalagi jika gaya hidup turut tidak sehat dan minim aktivitas fisik.

Bahaya lain yang mengintai adalah penyakit jantung. Durasi kerja melebihi sepuluh jam per hari bisa meningkatkan kadar hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang membahayakan sistem kardiovaskular.

Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa bekerja lebih dari 55 jam per minggu dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif dan memicu gejala demensia, mulai dari masalah ingatan hingga perubahan karakter dan emosi.

Pesan pentingnya: tubuh bukan mesin, dan istirahat bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan.

Menjaga keseimbangan antara kerja dan waktu pemulihan adalah langkah bijak yang bisa menyelamatkan fisik dan mental dalam jangka panjang. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#penyakit kronis #jantung #gaya hidup #gangguan mental #depresi #kerja berlebihan