RADARTUBAN - Jumlah anak berkebutuhan khusus di Jawa Timur khususnya kota Surabaya semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Para ahli menyebutkan penyebab gangguan tumbuh kembang anak, termasuk autisme, hingga kini belum sepenuhnya dipahami.
Faktor genetik, lingkungan, usia orang tua saat mengandung, hingga risiko kelahiran prematur dan kekurangan oksigen ketika bayi lahir, diyakini menjadi pemicu utama.
Selain itu, paparan polusi udara dan zat berbahaya dalam makanan juga disebut berperan dalam munculnya gangguan perkembangan anak.
Autisme, Cerebral Palsy, dan Speech Delay Jadi Momok
Tidak hanya autisme, gangguan lain seperti cerebral palsy serta speech delay juga menjadi tantangan dalam pertumbuhan anak.
Kondisi ini kerap menimbulkan kecemasan pada orang tua, terutama ketika akses pendidikan dan layanan terapi belum merata di kota besar seperti Surabaya.
Para pakar menilai keterlambatan tumbuh kembang anak perlu mendapat penanganan sejak dini.
Terapi intensif, pendampingan keluarga, hingga layanan rehabilitasi medis yang komprehensif menjadi kunci dalam mendukung perkembangan anak agar dapat mencapai potensi terbaik mereka.
Keterbatasan Sekolah dan Layanan Khusus
Kurangnya sekolah khusus dan pusat terapi bagi anak berkebutuhan khusus di Surabaya menjadi hambatan nyata.
Meski begitu, sejumlah klinik dan rumah sakit mulai mengembangkan program terpadu yang melibatkan psikolog klinis, fisioterapis, terapis okupasi, hingga terapis wicara.
Pendekatan multidisiplin ini diharapkan bisa menjawab kebutuhan tumbuh kembang anak dengan gangguan neurologis maupun keterlambatan bicara.
Menurut Gideon May Christian, S.Ft, M.Pd., salah satu terapis di RS Adi Husada Surabaya, dalam sehari ia bisa menangani 12 hingga 15 anak dengan berbagai kondisi.
“Setiap anak selalu dipantau dan dievaluasi secara rutin bersama dokter rehabilitasi medis serta dokter anak yang berkompeten di bidangnya. Jumlah pasien juga semakin bertambah dan kasus yang ditemui semakin bervariasi,” jelasnya.
Harapan untuk Penanganan Lebih Baik
Kehadiran layanan khusus bagi anak berkebutuhan khusus di Surabaya membawa harapan baru bagi orang tua.
Meski tantangan masih besar, perkembangan fasilitas dan tenaga profesional menunjukkan arah positif.
Para ahli menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak, baik keluarga, tenaga medis, maupun masyarakat, dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung anak-anak dengan autisme, cerebral palsy, maupun speech delay. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama