RADARTUBAN- Insomnia kronis tak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga berpotensi mempercepat penuaan otak.
Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology dan dilansir CNN Indonesia menunjukkan, penderita insomnia memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kognitif hingga demensia.
Risiko Gangguan Kognitif Lebih Tinggi
Penelitian ini melibatkan lebih dari 2.500 orang dengan rata-rata usia 70 tahun. Sebanyak 16 persen tercatat menderita insomnia kronis.
Dari kelompok tersebut, 14 persen mengalami gangguan kognitif atau demensia, dibanding hanya 10 persen pada peserta tanpa insomnia.
Secara statistik, insomnia kronis meningkatkan risiko penurunan kognitif hingga 40 persen.
Kondisi ini setara dengan penuaan otak sekitar 3,5 tahun lebih cepat dibanding mereka yang tidur normal.
Efek pada Otak dan Penyakit Alzheimer
Ahli saraf dari Mayo Clinic, Diego Carvalho, menyebut insomnia kronis bisa menjadi tanda peringatan dini atau bahkan penyebab penurunan fungsi otak di masa depan.
Hasil tes penelitian memperlihatkan penderita insomnia mengalami penurunan kemampuan berpikir lebih cepat.
Lebih jauh, penderita insomnia tercatat memiliki lebih banyak plak amiloid—protein yang berkaitan dengan Alzheimer—serta kerusakan jaringan otak akibat gangguan pembuluh darah kecil.
Tidur Cukup Bisa Melindungi Otak
Studi ini juga menemukan bahwa kualitas tidur yang baik dapat melindungi otak. Peserta dengan durasi tidur lebih lama menunjukkan lebih sedikit kerusakan jaringan.
Carvalho menegaskan pentingnya mengatasi insomnia bukan hanya demi tidur nyenyak, tetapi juga untuk menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia.
Pesan para peneliti jelas: biasakan tidur cukup dan segera cari bantuan medis jika kesulitan tidur berlangsung lama. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni