RADARTUBAN- Rata-rata IQ di Indonesia masih tergolong rendah, dan penyebabnya tidak hanya dari faktor genetik atau stimulasi lingkungan.
Salah satu aspek penting yang sering diabaikan adalah kecukupan zat besi.
Pada dua tahun pertama kehidupan, zat besi berperan besar dalam perkembangan otak dan daya pikir anak.
Kekurangan zat besi pada masa emas ini dapat berdampak jangka panjang, mulai dari penurunan konsentrasi, kesulitan belajar, hingga berkurangnya kreativitas.
Di kanal YouTube GraceTahir. Dr.Agnes Tri Harjaningrum, penasehat organisasi Nutrisi Keluarga, mengupas tuntas bagaimana nutrisi ini bisa menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak.
Selain memahami risiko dan dampaknya, episode ini juga membahas langkah nyata yang bisa dilakukan, mulai dari mengenali tanda-tanda kekurangan zat besi, memahami kebutuhan nutrisi harian, hingga mengetahui sumber makanan terbaik untuk perkembangan otak.
Ancaman terhadap kualitas generasi emas Indonesia semakin nyata. Data Kementerian Kesehatan mencatat hampir separuh balita Indonesia (48%) mengalami anemia defisiensi besi.
Kondisi ini tidak hanya membuat anak mudah lemas, tetapi juga dapat merusak perkembangan otak dan menurunkan kecerdasan secara permanen (irreversible).
Dokter Agnes Tri Harjaning menegaskan bahwa zat besi ibarat “bahan bakar” vital bagi darah, otak, dan sistem kekebalan tubuh.
Kekurangan nutrisi ini sangat berbahaya, terutama pada periode dua tahun pertama kehidupan anak yang dikenal sebagai masa emas perkembangan otak.
“Kalau sampai kekurangan zat besi, dampaknya bisa menetap seumur hidup. Anak bisa kesulitan belajar, emosinya tidak stabil, bahkan kecerdasannya bisa berkurang,” ungkap Dr. Agnes.
1. Dampak Permanen pada Kognitif dan Perilaku Anemia defisiensi besi di usia dini menghambat pembentukan selubung saraf otak.
Akibatnya, perkembangan kognitif dan perilaku anak bisa terganggu. Penurunan IQ: Anemia berat yang tidak ditangani dapat menurunkan IQ hingga 8–9 poin secara permanen.
Gangguan Emosi & Imunitas: Anak lebih mudah tantrum, sulit mengendalikan emosi, serta sering sakit karena sistem imun melemah.
2. Gejala & Akar Permasalahan Ironisnya, anemia sering luput dari perhatian karena anak bisa tetap terlihat aktif meski kadar hemoglobin rendah.
Susah Makan Akut (GTM): Anak tidak merasa lapar seharian karena hormon lapar (ghrelin) ditekan akibat kekurangan zat besi.
Dipicu Sejak Hamil: Bayi prematur, lahir dengan berat badan rendah (BBLR), atau ibu hamil yang anemia sangat berisiko menurunkan masalah ini pada anak.
MPASI Keliru: Setelah 4 bulan, zat besi dalam ASI menurun drastis. MPASI yang didominasi karbohidrat tanpa cukup protein hewani memperparah risiko anemia.
3. Solusi Kunci: Protein Hewani & Batasi Susu Dr. Agnes menekankan pemenuhan zat besi melalui sumber yang mudah diserap tubuh.
Protein Hewani Wajib: Daging merah, hati ayam, dan sumber protein hewani lain kaya zat besi (heme iron) yang sangat efektif diserap tubuh.
Batasi Susu: Konsumsi susu lebih dari 500 ml per hari dapat menghambat penyerapan zat besi karena tingginya kalsium yang bersifat mengikat.
Para orang tua diimbau lebih jeli memperhatikan pola makan anak, terutama di dua tahun pertama yang disebut golden period.
Pemenuhan zat besi yang cukup bukan sekadar menjaga kesehatan, tetapi juga investasi masa depan bangsa.
“Cukupkan zat besi sejak hamil, patuhi konsumsi tablet tambah darah, berikan MPASI seimbang, dan jangan biarkan anak kita kehilangan masa emasnya.
Generasi sehat adalah modal utama menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Dr. Agnes di kanal YouTube Grace Tahir.
Anemia defisiensi besi adalah “musuh dalam selimut” yang bisa diam-diam melemahkan kecerdasan generasi penerus bangsa.
Pencegahan sejak hamil, pemberian MPASI bergizi seimbang, dan kebiasaan sehat di rumah adalah langkah kecil namun berdampak besar untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan tangguh. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni