Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menghapus Stigma Maskulinitas: Pentingnya Kesehatan Mental pada Laki-Laki

Silva Ayu Triani • Selasa, 14 Oktober 2025 | 18:10 WIB
Ilustrasi seorang pria duduk termenung di luar ruangan dengan ekspresi lelah dan tertekan.
Ilustrasi seorang pria duduk termenung di luar ruangan dengan ekspresi lelah dan tertekan.

RADARTUBAN - Kesehatan mental laki-laki menjadi perhatian penting karena seringkali dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka.

Hal ini disebabkan oleh anggapan masyarakat bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tidak menunjukkan emosi.

Kondisi ini memicu masalah seperti stres yang terpendam dan tekanan batin, yang berdampak jangka panjang bagi kesehatan fisik dan psikologis.

Pembahasan soal kesehatan mental dan stigma maskulinitas ini diulas oleh Jainal Ilmi, S.Psi, M.Psi, seorang psikolog dalam podcast Kesehatan Mentalmu Lho! yang tayang dalam kanal YouTube Adjie SantosoputroTV.

Banyak laki-laki yang sejak kecil telah dibiasakan untuk menekan emosi mereka.

Mereka tidak diajari bagaimana mengenali, mengungkapkan, dan mengelola perasaan seperti sedih atau takut. Akibatnya, mereka merasa asing dengan emosinya sendiri.

Dokter Jainal menyebutkan bahwa pola asuh dan pendidikan di masa lalu sangat berperan dalam membentuk sikap ini, "Dari sejak kecil tidak diperbolehkan menangis, tidak diperbolehkan merasakan sedih."

Hal ini juga diperparah oleh representasi media yang menonjolkan laki-laki sebagai sosok superhero yang kuat tanpa cela.

Kurangnya ruang bagi laki-laki untuk bercerita menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan mental yang tidak tuntas.

Banyak laki-laki merasa tidak memiliki tempat yang aman untuk mengekspresikan beban pikiran atau tekanan hidup.

Mereka memilih berdiam diri, duduk di teras minimarket tanpa ada yang mengerti kondisi batinnya.

"Laki-laki cenderung tidak punya tempat untuk bercerita sehingga lebih baik ke minimarket saja beli kopi untuk menenangkan diri," ujar Dokter Jainal.

Stigma bahwa mencari bantuan psikolog adalah tanda kelemahan juga sangat melekat di masyarakat.

Dampak jangka panjang dari menekan emosi yang terlalu berat bisa berujung pada gangguan mental serius seperti stres berkepanjangan, kecanduan, bahkan pemikiran bunuh diri.

Risiko ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, penting bagi laki-laki untuk mulai belajar mengenal dan mengelola emosi secara sehat. Kecerdasan emosi atau kemampuan regulasi emosi menjadi kunci utama.

Proses ini bisa dimulai dengan latihan sederhana, seperti mengenali emosi yang dirasakan setiap hari dan belajar berhenti sejenak ketika emosi mulai memuncak.

Inisiatif untuk mengurangi stigma dan membuka ruang diskusi soal kesehatan mental laki-laki perlu didukung oleh keluarga, sekolah, serta masyarakat luas.

Edukasi sejak dini mengenai pentingnya mengelola perasaan dan mengenal emosi harus menjadi bagian dari pengasuhan dan kurikulum pendidikan.

Selain itu, saat ini layanan psikolog makin banyak yang menyediakan pendekatan dengan pelatihan untuk membantu pengembangan potensi diri, bukan hanya mengatasi masalah mental.

Masyarakat juga mesti mengubah pola pikir bahwa bercerita dan mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan.

Dengan pemahaman ini, laki-laki diharapkan bisa lebih sehat secara emosional dan psikologis sehingga kualitas hidup dan relasi sosial dapat meningkat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#maskulinitas #memendam emosi #pria #tekanan batin #kesehatan mental #stigma