RADARTUBAN - Neuropati diabetik menjadi ancaman kesehatan serius bagi penderita diabetes.
Kondisi ini menimbulkan kerusakan saraf yang dapat menyebabkan berbagai gejala, terutama kesemutan dan kebas di anggota tubuh seperti kaki dan tangan.
Penyakit ini terjadi akibat gula darah yang tidak terkontrol dalam tubuh dan dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita secara signifikan.
Oleh karena itu, upaya pencegahan dan penanganan dini sangat diperlukan untuk menghindari komplikasi yang lebih serius.
Informasi ini diungkap oleh dr. Nezzar Erraldin, Sp.N, seorang spesialis neurologi/saraf dari RS EMC Cibitung, dalam podcast EMC Podcast Corner yang tayang di kanal YouTube RS EMC.
Neuropati diabetik merupakan akibat dari komplikasi diabetes yang menyerang saraf perifer, khususnya di kaki dan tangan.
Kerusakan ini terjadi karena tingginya kadar gula darah yang tidak terkontrol.
Gula darah tinggi melemahkan pembuluh darah kecil yang memberi makan saraf, sehingga mengganggu fungsi saraf dan menyebabkan keluhan seperti kesemutan, kebas, serta nyeri yang mengganggu.
Gejala awal yang paling sering dirasakan pasien adalah kesemutan simetris di kedua tungkai yang disertai kebas dan rasa terbakar.
“Kesemutan adalah gejala paling sering, biasanya muncul di kaki dan terasa simetris di kanan dan kiri,” jelas dr. Nezzar.
Sensasi nyeri di kulit seperti tersetrum dengan tingkat kepekaan berlebihan juga umum terjadi, kondisi ini dikenal dengan alodinia.
Penderita diabetes yang tidak rutin memeriksa kondisi kesehatannya sering kali tidak menyadari sudah memasuki tahap neuropati hingga saraf mulai rusak.
Pencegahan utama neuropati diabetik adalah pengendalian gula darah melalui pola hidup sehat.
Meminum obat diabetes secara rutin, menjaga pola makan rendah gula dan karbohidrat, serta rajin berolahraga menjadi langkah wajib untuk mencegah kerusakan saraf yang makin parah.
“Kontrol gula darah sangat penting agar tidak terjadi komplikasi pada saraf,” ujar dr. Nezzar.
Jika sudah terkena, pengobatan bertujuan mengurangi rasa nyeri dan menstimulasi penyembuhan saraf meski pemulihannya berlangsung lama.
Terapi obat nyeri dan vitamin saraf biasanya diberikan untuk membantu meringankan gejala dan menjaga kualitas hidup pasien.
Selain itu, keluhan kesemutan yang muncul saat melakukan aktivitas tertentu, seperti naik kendaraan lama, bisa disebabkan oleh saraf yang terjepit bukan selalu karena neuropati diabetik.
Oleh karena itu, pengenalan tanda serta pemeriksaan medis adalah langkah penting untuk diagnosis tepat dan penanganan yang sesuai.
Neuropati diabetik adalah komplikasi diabetes serius yang perlu diwaspadai.
Deteksi dini, kontrol gula darah yang ketat, serta gaya hidup sehat adalah kunci untuk mencegah dan mengelola kondisi ini agar tidak memperburuk kesehatan saraf. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni