RADARTUBAN - Ketika seorang perempuan memasuki usia antara 45 hingga 55 tahun, tubuhnya akan mengalami sebuah fase biologis yang disebut sebagai menopause.
Kondisi ini didefinisikan secara medis sebagai titik di mana siklus menstruasi pada rahim berhenti secara permanen.
Namun, sebelum benar-benar sampai pada tahap tersebut, terdapat periode transisi yang dikenal sebagai fase pra menopause.
Fase ini berlangsung selama beberapa tahun dan berfungsi sebagai masa penyesuaian tubuh sebelum siklus menstruasi benar-benar berhenti.
Selama proses menopause berlangsung, perempuan akan merasakan transformasi yang sangat nyata, baik dari sisi fisik maupun stabilitas emosional.
Dampak yang muncul cukup beragam, mulai dari meningkatnya risiko gangguan suasana hati seperti depresi hingga perubahan pada tampilan fisik.
Gejala yang umum dirasakan antara lain kecenderungan berat badan yang mudah naik, kondisi kulit yang menjadi kering dan kehilangan kecerahannya, rasa kering pada area intim (vagina), hingga kemunculan sensasi panas yang menyebar ke seluruh tubuh atau yang dikenal sebagai hot flashes.
Selain gejala fisik, perempuan yang telah berada di tahap menopause juga memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan serius, terutama obesitas serta penyakit kardiovaskular atau gangguan jantung.
Maka dari itu penerapan pola makan yang bernutrisi dan sehat menjadi langkah yang sangat krusial bagi perempuan untuk mengarungi masa transisi ini dengan aman.
Merujuk pada data kesehatan yang dipublikasikan oleh laman resmi Kementerian Kesehatan (keslan.kemkes.go.id), terdapat enam jenis asupan makanan yang sangat dianjurkan bagi perempuan di fase menopause :
1. Produk Olahan Susu
Penurunan produksi hormon estrogen secara drastis saat menopause berdampak langsung pada kepadatan tulang.
Untuk mengantisipasi risiko tulang kropos atau osteoporosis, kebutuhan kalsium tubuh menjadi jauh lebih tinggi.
Maka dari itu, sangat disarankan bagi perempuan untuk meningkatkan konsumsi produk-produk seperti yogurt, susu, dan keju guna menjaga kekuatan struktur tulang mereka.
2. Daging Merah dan Sumber Zat Besi
Masa menopause juga sering kali diikuti dengan merosotnya kadar zat besi dalam tubuh.
Perempuan dianjurkan untuk memilih bahan pangan yang memiliki konsentrasi zat besi tinggi, seperti telur, serelia, serta daging sapi.
Kecukupan asupan zat besi ini berfungsi vital untuk menjaga stamina tubuh agar tetap bertenaga dan mendukung kesehatan secara umum.
3. Produk Kedelai
Gejala hot flashes atau rasa panas yang muncul secara tiba-tiba akibat minimnya hormon estrogen dapat diredam dengan mengonsumsi kacang kedelai secara rutin.
Hal ini dikarenakan kedelai kaya akan senyawa isoflavon, sejenis zat yang mampu bekerja menyerupai hormon estrogen alami di dalam tubuh manusia.
4. Biji-bijian Utuh
Mengingat adanya peningkatan risiko penyakit jantung pada fase ini, mengonsumsi sumber pangan seperti gandum, beras merah, quinoa, dan barley sangatlah bermanfaat.
Selain mengandung serat, biji-bijian tersebut kaya akan vitamin B yang berperan penting dalam membantu tubuh mengelola tingkat stres serta memastikan sistem pencernaan tetap berfungsi dengan baik.
5. Air Mineral
Kebutuhan akan hidrasi yang optimal tidak boleh disepelekan, terutama untuk menjaga elastisitas kulit agar tidak mudah mengalami dehidrasi atau timbulnya kerutan dini.
Selain itu, mengonsumsi air mineral sesuai dosis yang disarankan juga berperan dalam menjaga kelembapan vagina serta meminimalkan keluhan perut kembung yang sering terjadi.
6. Asupan Kaya Vitamin E
Vitamin E merupakan nutrisi kunci yang dapat ditemukan pada berbagai bahan alami seperti minyak ikan, tomat, apel, kecambah, seledri, bayam, selada air, kiwi, brokoli, dan kacang almond.
Nutrisi ini memiliki peran ganda yaitu pertama, membantu mencegah munculnya perasaan depresi yang sering menjadi gejala psikologis menopause.
Kedua, Vitamin E berfungsi sebagai tameng pelindung bagi organ jantung dari berbagai potensi penyakit yang mengancam perempuan di masa tersebut. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni