RADARTUBAN - Masalah kulit kering kerap dialami Tasya Farasya, terutama saat menjalani ibadah puasa Ramadan.
Influencer dan beauty enthusiast tersebut mengungkapkan bahwa kondisi kulit kering sudah ia rasakan bahkan di luar bulan puasa, namun keluhannya semakin terasa ketika asupan cairan berkurang selama Ramadan.
“Di bulan puasa pasti jadi makin kering. Saking keringnya, kulit di betis bisa seperti ‘melukis’,” ujar Tasya saat menghadiri peluncuran program Vaseline Gluta Hya Hydration Clinic di Mall Kota Kasablanka.
Ia menjelaskan, kulit yang terlalu kering akan menampakkan garis-garis putih halus saat tersentuh atau tergores ringan.
Kondisi tersebut membuat permukaan kulit tampak kusam dan terasa lebih kasar dibanding biasanya.
Baca Juga: 4 Manfaat Jojoba Oil untuk Kulit Kering: Rahasia Kulit Lembap, Halus, dan Terhidrasi Alami
Perubahan Gaya Hidup Jadi Kunci Menjaga Kesehatan Kulit
Tasya juga menyadari bahwa seiring bertambahnya usia, perubahan tekstur kulit tubuh kini lebih cepat terlihat.
Jika sebelumnya dampak kurangnya perawatan tidak langsung terasa, kini perubahan kecil saja sudah memberi efek nyata. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk mengubah kebiasaan, terutama dalam menjaga asupan cairan.
“Dulu aku lebih memprioritaskan kopi. Sekarang aku memaksa diri minum air putih sekitar dua sampai tiga liter per hari, apalagi sejak rutin berolahraga dan lebih peduli dengan kesehatan kulit,” tuturnya.
Ia mengakui, kurangnya konsumsi air sangat memengaruhi kondisi kulit. Ketika asupan cairan menurun, kulit menjadi lebih cepat kering dan kehilangan kelembapan alaminya.
Karena itu, Tasya kini lebih disiplin menjaga hidrasi, khususnya saat puasa ketika waktu minum terbatas.
Kulit Dehidrasi dan Tanda-tandanya
Dokter kulit Amanda Lestari menjelaskan bahwa berkurangnya asupan cairan selama puasa membuat kulit rentan mengalami dehidrasi.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti tanah kering yang lama tidak mendapat air.
“Kalau cairan berkurang, kulit akan tampak tandus dan kehilangan kelembapan,” ujarnya.
Secara klinis, Amanda menyebut beberapa tanda kulit dehidrasi, antara lain guratan kulit yang tampak lebih jelas, kulit bersisik atau mengelupas, serta melemahnya lapisan pelindung kulit yang dapat memicu iritasi, kemerahan, hingga bruntusan.
Ia juga membagikan uji sederhana yang bisa dilakukan di rumah, yakni dengan menggores ringan permukaan kulit menggunakan kuku atau benda tumpul.
“Jika muncul garis putih yang bertahan, itu menandakan kulit kurang terhidrasi. Biasanya lebih cepat terlihat di tangan dan kaki karena sering terpapar udara,” katanya.
Baca Juga: Dermatolog Peringatkan Risiko Eksfoliasi Berlebihan, Bisa Sebabkan Kulit Kering dan Iritasi
Cara Mencegah Kulit Kering saat Puasa
Untuk mencegah kulit kering selama Ramadan, Amanda menekankan pentingnya perawatan dari dalam dan luar.
Dari sisi hidrasi internal, ia menyarankan konsumsi air putih minimal 2–2,5 liter per hari. Selama puasa, pola minum dapat dibagi, misalnya dua gelas saat sahur, empat gelas dari berbuka hingga malam, dan dua gelas sebelum tidur.
Sementara dari luar, penggunaan pelembap tubuh menjadi langkah penting untuk menjaga kelembapan kulit agar tidak mudah menguap.
“Saat puasa, pelembap itu wajib. Kulit juga butuh perhatian,” ujarnya.
Idealnya, pelembap digunakan dua kali sehari setelah mandi. Namun, bagi pemilik kulit sangat kering, frekuensi pemakaian bisa ditingkatkan.
“Setiap selesai wudu juga bisa diaplikasikan ulang, bahkan bisa sampai lima kali sehari,” tambahnya.
Puasa memang memberikan manfaat bagi regenerasi tubuh dan keseimbangan metabolisme. Namun, tanpa strategi hidrasi yang tepat, kulit dapat terdampak secara signifikan.
Perawatan yang seimbang dari dalam dan luar menjadi kunci agar manfaat puasa tetap optimal tanpa mengorbankan kesehatan kulit.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni