RADARTUBAN – Keberhasilan pemasaran industri susu formula (sufor) disebut-sebut telah menggeser paradigma banyak orang tua dalam memberikan asupan bagi buah hatinya. Padahal, secara medis dan rekomendasi kesehatan dunia,
Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi satu-satunya standar emas (gold standard) yang tidak tergantikan oleh produk ultra proses manapun.
Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Nia Umar menekankan bahwa pemasaran susu formula adalah salah satu kisah sukses marketing paling berpengaruh di dunia.
Hal ini dia sampaikan dalam sebuah diskusi mendalam mengenai pentingnya ASI dan tantangan yang dihadapi ibu menyusui di tengah masifnya promosi sufor.
“Pemasaran susu formula itu sangat berhasil mengubah paradigma. Bahkan saat bayi baru lahir, orang sudah terbiasa memberikan kado berupa botol dot, seolah-olah itu adalah kebutuhan utama,” ujar Nia dalam tayangan di kanal YouTube Grace Tahir.
Empat Standar Emas Pemberian Makan Bayi
Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diadopsi Kementerian Kesehatan RI, terdapat empat pilar utama dalam pemberian makan bayi dan anak.
Pertama adalah Inisiasi Menyusu Dini (IMD) minimal satu jam setelah lahir. Kedua, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa tambahan apapun.
Ketiga, mulai usia 6 bulan, bayi diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang berasal dari menu rumahan bergizi seimbang, bukan makanan ultra proses pabrikan. Terakhir, menyusui diteruskan hingga usia 2 tahun atau lebih.
Nia menjelaskan bahwa sufor sebenarnya adalah produk ultra proses yang memiliki risiko kesehatan jangka panjang.
“Studi menunjukkan anak yang tidak mendapatkan ASI memiliki risiko lebih tinggi terkena obesitas, kanker, diabetes, hingga karies gigi di masa depan,” tegasnya.
Tantangan Tenaga Kesehatan dan Industri
Salah satu kendala terbesar dalam menyukseskan program ASI eksklusif adalah adanya konflik kepentingan antara industri susu formula dengan tenaga kesehatan.
Masifnya promosi yang dilakukan seringkali membuat ibu kehilangan kepercayaan diri untuk menyusui dan memilih jalan pintas melalui susu formula.
"Saya itu garangnya bukan sama ibu-ibu, tapi sama industri. Saya kesal dengan cara industri mempromosikan susu formula yang menyesatkan keluarga, yang membuat ibu-ibu tidak paham bagaimana bisa menyusui anaknya," ungkap Nia.
Dia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, termasuk kebijakan pemerintah terkait cuti maternitas.
Di beberapa negara dengan tingkat keberhasilan menyusui tinggi, dukungan diberikan melalui cuti yang lebih panjang dan keberadaan bank ASI di rumah sakit.
Baca Juga: Daftar Brand Asia Terpopuler di Dunia: Samsung Dominan, Indomie Tembus Panggung Dunia
ASI sebagai Cairan Hidup yang Cerdas
ASI bukan sekadar nutrisi, melainkan cairan hidup yang komposisinya berubah sesuai kebutuhan bayi. Nia mencontohkan pengalamannya saat terpapar Covid-19, di mana bayi yang disusuinya lebih cepat sembuh karena mendapatkan antibodi langsung dari ASI.
"ASI itu cairan hidup. Jika dilihat di bawah mikroskop, dia bergerak, berbeda dengan susu formula yang diam. Badan ibu bisa menangkap sinyal dari liur bayi untuk mengubah komposisi ASI sesuai kondisi kesehatan anak," jelasnya.
Menyusui bukan hanya hak anak, tetapi juga memberikan perlindungan kesehatan bagi ibu, seperti menurunkan risiko kanker payudara dan rahim.
Dukungan dari suami, keluarga, hingga tempat kerja menjadi kunci utama agar ibu bisa melewati masa kritis 14 hari pertama laktasi dengan sukses. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama