Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bongkar Rahasia Kecerdasan Anak, Prof Stella Kristi: Jangan Buru-buru Kasih Les!

Adinda Dwi Wahyuni • Sabtu, 25 April 2026 | 08:30 WIB
Bongkar rahasia kecerdasan anak, tanpa les. (RADARTUBAN/AI)
Bongkar rahasia kecerdasan anak, tanpa les. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Mencetak generasi cerdas tidak selamanya harus dibayar mahal dengan tumpukan jadwal les maupun fasilitas sekolah yang mewah.

Kunci utama perkembangan kognitif anak justru terletak pada interaksi sederhana yang sering kali disepelekan orang tua di rumah.

Hal tersebut dikupas tuntas oleh pakar ilmu kognitif sekaligus Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Kristi.

Dalam bincang hangat di kanal YouTube Tirto ID, ilmuwan lulusan Harvard University ini menegaskan bahwa anak tidak lahir sebagai tabula rasa atau kertas kosong.

Sebaliknya, bayi sudah dibekali dengan core knowledge atau pengetahuan inti sejak lahir, mulai dari pemahaman ruang, angka, hingga interaksi sosial dasar.

Baca Juga: Kecerdasan Sang Anak Diwarisi Ayah Atau Ibu? Berikut Penjelasannya

Bukan Sekadar Hafalan Angka

Prof. Stella menjelaskan bahwa kemampuan matematika anak bisa diasah tanpa harus memaksa mereka menghafal rumus sejak dini. 

Cara yang paling efektif justru dengan memasukkan unsur angka dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, saat makan bersama, orang tua bisa mengajak anak menghitung jumlah potongan buah di piring.

"Melibatkan angka dalam pembicaraan sehari-hari terbukti secara saintifik meningkatkan kemampuan akademik matematika anak di sekolah nantinya," jelasnya.

Menurut dia, yang terpenting bukan benar atau salahnya jawaban anak, melainkan pembiasaan otak untuk mengenali pola dan struktur numerik secara alami.

Bahaya Laten Les Terlalu Dini

Salah satu poin krusial yang disoroti Prof. Stella adalah tren memberikan les akademik pada anak usia dini.

Meski tampak seperti "mencuri start" untuk unggul, tindakan ini justru berisiko mematikan kemampuan learning to learn atau belajar untuk belajar.

Ketika anak terbiasa dengan lingkungan les yang serba terstruktur, mereka cenderung menjadi pasif dan hanya menunggu instruksi guru.

"Anak tidak punya ruang untuk mempertanyakan hal baru karena semuanya sudah disuapi. Padahal, kemampuan berpikir kritis dan mandiri adalah modal utama agar tidak tergantikan oleh kecerdasan buatan (AI) di masa depan," tegas ilmuwan yang pernah melakukan riset di Tiongkok tersebut.

Metode Perbandingan dan Kekuatan Kata

Guru besar ini juga membagikan tips "murah meriah" untuk meningkatkan IQ anak, yakni dengan memperkaya kosakata melalui diskusi aktif.

Riset menunjukkan bahwa jumlah kosakata anak di usia 5 tahun berkorelasi kuat dengan kesuksesan karier mereka di masa dewasa.

Selain itu, metode perbandingan (comparison) dianggap sebagai cara jitu mengasah problem solving. Orang tua bisa memancing logika anak dengan analogi sederhana.

Contohnya, membandingkan fungsi makanan bagi tubuh manusia dengan fungsi pengisian daya (charging) pada ponsel. Dengan melihat persamaan struktur dari dua hal yang berbeda, anak dilatih untuk memahami pola besar yang berguna dalam menyelesaikan berbagai masalah hidup.

Lingkungan Teman Lebih Utama dari Fasilitas

Mengenai pilihan sekolah, Prof. Stella memberikan pandangan yang cukup mengejutkan.

Baginya, fasilitas gedung yang megah atau kurikulum yang mentereng bukanlah variabel utama yang menentukan kesuksesan anak.

Faktor yang paling menentukan justru adalah ekosistem teman sebaya atau peer group.

"Masukkanlah anak di lingkungan di mana teman-temannya memberikan pengaruh positif. Fasilitas itu nomor sekian. Saya dulu sekolah di tempat yang minim fasilitas, tapi tetap bisa menembus Harvard karena lingkungan dan kemauan untuk terus menantang diri," pesannya.

Ia menekankan pentingnya memberikan tantangan yang optimal—tidak terlalu mudah hingga membosankan, namun tidak terlalu sulit hingga membuat stres—agar performa anak tetap berada pada titik puncak.  (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#prof stella kristi #les #kecerdasan anak #Kemampuan Belajar #pola pikir