Tren Kuliner Manis Gen Z, Ketika Sweet Tooth Mulai Menjadi Pembunuh Usia Muda

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 16:53 WIB
Sweet tooth menjadi tren di kalangan generasi muda, simak dampak konsumsi gula berlebih serta sejumlah sinyal tubuh yang perlu diwaspadai.
Sweet tooth menjadi tren di kalangan generasi muda, simak dampak konsumsi gula berlebih serta sejumlah sinyal tubuh yang perlu diwaspadai.

RADARTUBAN - Generasi Z tumbuh di tengah gempuran tren kuliner modern yang semakin beragam.

Minuman boba dengan aneka rasa, kopi susu dengan berbagai tambahan sirup, hingga dessert berpenampilan estetik kini mudah ditemukan dan menjadi bagian dari gaya hidup.

Kemudahan memesan makanan melalui aplikasi serta paparan tren kuliner di media sosial turut membuat sajian manis semakin mudah dikonsumsi. Rasanya yang manis dan tampilannya yang menarik membuat makanan maupun minuman tersebut sulit dihindari.

Namun, di balik kenikmatannya, konsumsi gula berlebih tetap perlu diwaspadai.

Baca Juga: Kopi Kekinian Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes? Ini Penjelasan di Balik Kandungan Gulanya

Asupan free sugars yang tinggi secara terus-menerus dapat meningkatkan asupan energi dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Konsumsi gula berlebih juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kerusakan gigi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar konsumsi free sugars dibatasi kurang dari 10 persen total energi harian. Pengurangan hingga di bawah 5 persen dinilai dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Minuman berpemanis menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan. Gula dalam bentuk cair dapat menyumbang kalori tanpa memberikan rasa kenyang yang sama seperti makanan padat.

Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan energi harian dapat meningkat dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Dalam jangka panjang, pola makan yang tidak sehat dan berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Karena itu, kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis perlu diimbangi dengan pola makan yang beragam, aktivitas fisik, serta pembatasan asupan gula.

Bukan berarti makanan manis harus sepenuhnya dihindari. Yang lebih penting adalah mengatur frekuensi, porsi, serta memperhatikan kandungan gula dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Dampak yang Perlu Diwaspadai

1. Asupan kalori berlebih

Makanan dan minuman tinggi gula dapat menambah asupan energi harian. Jika energi yang masuk lebih banyak daripada yang digunakan tubuh, kelebihannya dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

2. Risiko berat badan berlebih

Konsumsi minuman berpemanis secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko kenaikan berat badan. Karena itu, minuman manis sebaiknya tidak menjadi konsumsi rutin sepanjang hari.

3. Risiko kerusakan gigi

Gula bebas merupakan salah satu faktor penting dalam terjadinya karies gigi. WHO menyebut pembatasan konsumsi free sugars sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko kerusakan gigi.

4. Pola makan menjadi kurang sehat

Terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman manis dapat membuat asupan makanan bergizi menjadi kurang beragam. WHO merekomendasikan pola makan yang mengutamakan makanan minim proses, buah, sayur, kacang-kacangan, dan sumber pangan bergizi lainnya.

5. Risiko penyakit tidak menular

Pola makan tidak sehat, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang dan disertai kelebihan berat badan, dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Kenali Sinyal Tubuh

Beberapa keluhan tubuh kerap dikaitkan dengan konsumsi gula berlebih. Namun, gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengonsumsi terlalu banyak gula dan dapat disebabkan berbagai kondisi lain.

1. Sering haus dan buang air kecil

Rasa haus berlebihan dan frekuensi buang air kecil yang meningkat dapat menjadi tanda kadar gula darah tinggi. Jika keluhan berlangsung terus-menerus, pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

2. Mudah lelah

Rasa lelah dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk kurang tidur, aktivitas berlebihan, pola makan, maupun kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, keluhan tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat konsumsi gula.

3. Berat badan meningkat

Kenaikan berat badan dapat terjadi ketika asupan energi secara konsisten melebihi kebutuhan tubuh. Minuman dan makanan tinggi gula dapat menjadi salah satu sumber tambahan kalori.

4. Masalah kesehatan gigi

Gigi berlubang, gigi sensitif, atau masalah kesehatan mulut dapat berkaitan dengan konsumsi gula dan kebersihan gigi. Pembatasan free sugars membantu menurunkan risiko karies.

5. Luka sulit sembuh

Luka yang sulit sembuh, terutama jika disertai sering haus dan buang air kecil, perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi. Namun, kondisi tersebut juga memiliki berbagai kemungkinan penyebab lain.

Baca Juga: Klinik Utama Emrancare, Klinik Gigi Pertama di Tuban dengan Akreditasi Paripurna dan Layanan Digital Modern

6. Keinginan mengonsumsi makanan manis

Keinginan makan atau minum sesuatu yang manis dapat dipengaruhi kebiasaan, preferensi rasa, pola makan, maupun berbagai faktor lainnya. Karena itu, istilah “kecanduan gula” sebaiknya tidak digunakan secara sembarangan untuk menggambarkan kebiasaan menyukai makanan manis.

Pada akhirnya, menikmati boba, kopi susu, dessert, atau makanan manis lainnya bukan berarti harus dilarang sepenuhnya. Yang perlu diubah adalah kebiasaan mengonsumsinya secara berlebihan.

Generasi muda tetap bisa mengikuti tren kuliner tanpa mengabaikan kesehatan. Kuncinya adalah membatasi free sugars, memperhatikan label kandungan gula, memilih makanan yang lebih beragam dan bergizi, serta tidak menjadikan minuman manis sebagai konsumsi sehari-hari.

Karena hidup sehat bukan berarti menghilangkan rasa manis dari kehidupan, tetapi tahu kapan harus berhenti. (saf/yud)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
free sugars WHO Gen Z konsumsi gula