RADARTUBAN - Siklus haid yang berlangsung lebih dari 35 hari perlu mendapat perhatian, terlebih jika kondisi tersebut terjadi berulang.
Haid tidak teratur dapat dipicu perubahan pola hidup yang bersifat sementara hingga gangguan hormon seperti Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS).
Pembahasan mengenai siklus menstruasi tersebut disampaikan dr. Julita dalam tayangan edukatif di kanal YouTube DRV Channel. S
ecara umum, siklus haid normal berlangsung antara 21 hingga 35 hari, dihitung dari hari pertama menstruasi hingga hari pertama menstruasi berikutnya.
Jika jarak antarsiklus melebihi 35 hari, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Mengatasi PCOS dengan Pola Hidup Sehat, dr. Rati Jelaskan Cara Efektif untuk Wanita Muda
Menurut dr. Julita, gangguan hormon yang menyebabkan haid tidak lancar dapat dikelompokkan menjadi dua.
Pertama, gangguan yang bersifat sementara atau temporary dan umumnya berkaitan dengan kebiasaan serta pola hidup sehari-hari.
Perubahan pola makan secara drastis, diet yang terlalu ketat, hingga kenaikan berat badan secara tiba-tiba dapat memengaruhi keseimbangan hormon.
Kondisi serupa juga dapat terjadi akibat perubahan aktivitas olahraga yang tidak teratur.
Kebiasaan kurang tidur dan sering begadang turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Selain itu, tekanan pikiran akibat pekerjaan maupun pendidikan juga dapat memperburuk ketidakseimbangan hormon yang berpengaruh terhadap siklus menstruasi.
Jenis kedua merupakan gangguan hormon yang bersifat permanen. Salah satu kondisi yang termasuk di dalamnya adalah PCOS.
PCOS merupakan kondisi ketika indung telur tidak mematangkan sel telur secara sempurna.
Gangguan tersebut dapat memengaruhi proses ovulasi sehingga menstruasi menjadi tidak teratur dan proses pembuahan juga dapat terganggu.
PCOS yang tidak ditangani secara medis dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Paparan hormon estrogen secara terus-menerus tanpa keseimbangan hormon progesteron disebut dapat meningkatkan sejumlah risiko kesehatan.
Di antaranya obesitas, penurunan tingkat kesuburan, diabetes melitus, hingga peningkatan risiko kanker rahim.
Karena penyebabnya dapat berbeda, penanganan haid tidak teratur juga perlu disesuaikan dengan faktor pemicunya.
Gangguan yang bersifat sementara dapat terlebih dahulu ditelusuri dari perubahan kondisi tubuh dan pola hidup.
"Jika kelainan bersifat sementara, cari tahu penyebabnya misal setres, aktivitas berlebihan, atau perubahan pola makan/tidur bulan ini," sebagaimana dikutip dari kanal YouTube DRV Channel.
Jika pola hidup sudah kembali normal, tidak mengalami stres, dan pola tidur telah membaik tetapi siklus haid masih tidak berubah, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian.
"Jika setelah kembali ke fase normal tanpa setres atau gangguan tidur tapi siklus haid tetap tidak berubah, itu alarm untuk konsultasi ke dokter kandungan."
Pemeriksaan medis juga penting bagi perempuan yang mengalami PCOS atau memiliki frekuensi haid yang sangat jarang. Misalnya, menstruasi hanya terjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.
Dalam kondisi tersebut, konsultasi dengan dokter ahli diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai. Langkah tersebut penting untuk menjaga fungsi reproduksi dalam jangka panjang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni