RADARTUBAN - Bagi banyak pasangan suami istri, perjalanan mendapatkan momongan atau program hamil (promil) sering kali diwarnai oleh kebingungan dan kekhawatiran.
Mulai dari pertanyaan kapan harus mencoba cara alami, apakah harus langsung mengikuti program inseminasi, hingga anggapan keliru bahwa datang ke dokter fertilitas pasti akan langsung disarankan bayi tabung (IVF).
Menanggapi berbagai mitos dan fakta seputar kesuburan, dr. Darmaayanti, Sp.OG, Subsp.FER, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas, membagikan pandangan mendalam mengenai dunia promil.
Berikut adalah rangkuman informasi penting yang bisa menjadi panduan bagi Anda dan pasangan:
1. Keluhan Sama, Belum Tentu Penanganannya Sama
Setiap pasangan memiliki kondisi dasar yang berbeda. Meskipun usia pernikahan atau keluhannya tampak serupa, dokter harus melakukan penelusuran riwayat medis secara mendalam (anamnesa) serta pemeriksaan dasar sebelum menentukan langkah penanganan yang paling tepat.
Baca Juga: Luna Maya Jalani Prosedur Egg Freezing, Pilihan Cerdas untuk Menjaga Kesuburan
2. Pemeriksaan Dasar yang Harus Ditempuh
Sebelum memutuskan metode promil, pasangan suami istri perlu menjalani pemeriksaan awal:
Pada Suami: Cukup melakukan pemeriksaan analisa sperma untuk menilai kualitas, jumlah, dan motilitas (pergerakan) sperma.
Pada Istri: Memerlukan USG transvaginal (biasanya pada hari ke-2 atau ke-3 menstruasi) serta pemeriksaan fungsi tuba (seperti HSG) untuk memastikan saluran telur dalam kondisi baik dan tidak buntu.
Mitos vs Fakta: Apakah ke Dokter Fertilitas Pasti Disuruh Bayi Tabung?
Pandangan bahwa pergi ke klinik kesuburan pasti langsung diarahkan ke bayi tabung adalah hal yang keliru.
Jika hasil pemeriksaan dasar menunjukkan kondisi pasangan masih memungkinkan untuk mencoba cara alami, dokter akan menyarankan promil alami terlebih dahulu.
Mengenal Berbagai Tahapan Promil
Promil Alami: Hanya berupa perbaikan pola hidup, diet, olahraga, pemberian suplemen, serta edukasi mengenai masa subur dan frekuensi hubungan seksual yang tepat.
Dokter juga dapat memberikan obat untuk menstimulasi pertumbuhan folikel (sel telur).
Inseminasi Buatan (IUI): Proses di mana sperma suami dipilih yang paling berkualitas (melalui pencucian/pemrosesan) lalu dimasukkan langsung ke dalam rahim istri untuk mendekatkan jarak dengan sel telur.
Bayi Tabung (IVF): Dilakukan jika ditemukan masalah yang cukup berat, seperti kualitas sperma yang sangat rendah atau saluran tuba yang buntu, di mana proses pembuahan dilakukan di luar tubuh.
Jangan Terlalu Lama Menunggu Jika Ada Hambatan Berat
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya masalah ekstrem seperti jumlah sperma yang sangat rendah atau penyumbatan total pada saluran tuba pasangan disarankan untuk tidak menunda dan segera mengambil langkah medis lanjutan seperti bayi tabung demi efisiensi waktu dan hasil yang lebih optimal.
Kelola Stres dan Pasang Ekspektasi yang Realistis
Tingkat stres yang tinggi dapat memicu produksi hormon kortisol yang berdampak negatif pada hormon reproduksi dan pematangan sel telur. Oleh karena itu, penting untuk menjaga pikiran tetap rileks.
Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kehamilan (time to pregnancy) berkisar antara 6 hingga 18 bulan, sehingga dibutuhkan kesabaran dan proses yang konsisten.
Pesan Penting untuk Pasangan yang Sedang Berjuang
Bagi Anda yang sedang bingung menentukan arah promil, jangan hanya disimpan berdua atau berdiskusi tanpa arah.
Konsultasikanlah langsung kepada ahlinya agar langkah yang diambil lebih terarah, efektif, dan memangkas waktu serta biaya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni