1 Januari 2025 menandai berakhirnya tahun politik 2024 yang begitu melelahkan. Pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) yang digelar bersamaan pada 14 Februari 2024, hingga peralihan kekuasaan telah tuntas dilaksanakan. Pun dengan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di 545 daerah se-Indonesia, juga tinggal menunggu
proses pelantikan. Termasuk di Tuban. Sudah dapat dipastikan tidak ada gugatan.
APABILA ada tahun terbaik bagi partai politik, 2024 adalah tahun terbaiknya Partai Golkar di Kabupaten Tuban. Bagaimana tidak, partai berlambang pohon beringin ini berhasil memenangi semua “kompetisi” pemilu. Dari pilpres, pileg, hingga pilkada.
Di pilpres, DPD Partai Golkar Tuban yang dinakhodai Aditya Halindra Faridzky berperan besar mengantarkan pasangan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka memenangi hasil pemungutan suara di Kota Legen dengan kemenangan mutlak di 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban.
Pada saat yang sama, capaian gemilang juga diraih Partai Golkar di pileg. Baik DPR RI, DPRD provinsi, maupun DPRD kabupaten. Di level DPR RI daerah pemilih (dapil) Tuban-Bojonegoro, dari enam nama yang melenggang ke Senayan, dua di antaranya merupakan kader partai beringin, yakni Haeny Relawati Rini Widyastuti dan Eko Wahyudi. Dari Pileg 2019 yang hanya mampu meloloskan satu calon.
Begitu pun di level DPRD provinsi, juga mampu menambah perolehan suara yang cukup signifikan, sekaligus mempertahankan perolehan dua kursi. Dan salah satunya merupakan kader asli Tuban, Aulia Hany Mustika Sari.
Tak tanggung-tanggung, perolehan suara putri sulung Haeny Relawati Rini Widyastuti, mantan Bupati Tuban periode 2001–2006 dan 2006–2011 mencapai 182.555 suara. Tertinggi di antara tujuh anggota DPRD Provinsi Jawa Timur lainnya dari dapil XII Tuban-Bojonegoro.
Bagaimana di level kabupaten? Jauh lebih menggila. Dalam kontestasi pileg DPRD tingkat II (kabupaten), partai dominan warna kuning ini sukses menjadi partai pemenang Pemilu 2024 di Kabupaten Tuban. Tak tanggung-tanggung, total kemenangannya mencapai 20 kursi dari lima daerah pemilihan (dapil).
Melesat dari pileg 2019 yang hanya 9 kursi. Menumbangkan dominasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang selama dua periode berturut-turut menjadi partai pemenang pemilu di Kota Batik Gedog. Ini sekaligus menjadi capaian tertinggi dalam sejarah pemilu di Tuban. Belum ada satu pun parpol yang mampu meraih kursi mencapai 40 persen dari jumlah kursi DPRD Tuban tersebut.
Lanjut di pilkada yang baru saja berlalu. Dominasi Partai Golkar di Tuban semakin tidak terbendung. Partai penguasa yang mengusung kembali calon bupati incumbent sekaligus Ketua DPD Golkar, Aditya Halindra Faridzky ini berhasil menang telak di 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban. Persentase kemenangannya pun sangat meyakinkan, yakni sekitar 83,49 persen berbanding 16,51 persen atas rivalnya, pasangan Riyadi–Wafi Abdul Rosyid.
Hasil positif ini sekaligus mengulang kembali kemenangan Aditya Halindra Faridzky pada Pilkada 2020—yang saat itu masih berpasangan dengan Riyadi (sekarang rival). Kala itu juga menang mutlak di 20 kecamatan.
Jauh mengungguli kedua rivalnya, yakni pasangan Khozanah Hidayati-Muhammad Anwar dan pasangan Setiajit-Armaya Mangkunegara.
Lantaran sudah dipastikan tidak ada gugatan atas hasil pilkada di Tuban, maka Februari 2025 nanti tinggal menunggu pelantikan paslon bupati-wakil bupati terpilih, Aditya Halindra Faridzky-Joko Sarwono menjadi Bupati-Wakil Bupati Tuban periode 2024-2029.
Skor 3-2 untuk Kemenangan Golkar
Dalam sejarah kepemiluan di Tuban, Golkar dan PKB memiliki history persaingan yang cukup panjang. Khususnya di pilkada.
Jika merunut sejarah pilkada langsung, titik tolak persaingan panas antara PKB dan Golkar sudah berjalan hampir dua dekade. Tepatnya dimulai pada Pilkada 2006, atau saat pilkada pertama pemilihan langsung digelar.
Saat itu, partai pohon beringin ini mengusung pasangan calon bupati dan dan wakil bupati, Haeny Relawati Rini Widyastuti-Lilik Soehardjono. Selain calon incumbent, Haeny juga menjabat Ketua DPD Golkar Tuban. Sementara di sisi lawan, PKB mengusung pasangan Noor Nahar Hussein-Go Tjong Ping.
Berdasar hasil rekapitulasi suara KPU, pasangan Haeny-Lilik unggul 51,74 persen suara, berbanding 48,26 suara untuk pasangan Noor Nahar-Tjong Ping. Skor 1-0 untuk kemenangan Golkar di “Liga” Pilkada 2006.
Kemenangan Partai Golkar pada Pilkada 2006 ini meninggalkan sejarah kelam pesta demokrasi di Bumi Ronggolawe. Penolakan hasil penghitungan suara oleh paslon bupati-wakil bupati yang diusung PKB bersama partai lain, berbuntut pada aksi anarkis hingga dikenang sebagai insiden obong-obongan.
Ribuan massa pendukung pasangan Noor Nahar Hussein-Go Tjong Ping yang tidak terima dengan hasil rekapitulasi KPUK Tuban melakukan aksi turun jalan hingga berujung insiden pembakaran Pendapa Kridha Manunggal dan kantor KPUK Tuban, serta sejumlah bangunan lain yang turut dirusak massa. Sejumlah politikus yang diduga sebagai dalang kerusuhan ditangkap dan menjadi tahanan politik. Mendekam hingga beberapa bulan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tuban.
“El Clasico” antara Golkar dan PKB berlanjut di Pilkada 2011. Haeny yang sudah dua kali menjadi bupati terbentur syarat pencalonan: kepala daerah hanya boleh menjabat dua periode. Karena itu, Haeny yang kembali maju pada Pilkada 2011 tidak lagi menjadi calon bupati, melainkan calon wakil bupati—berpasangan dengan calon bupati Kristiawan, kader Golkar cum Ketua DPRD Tuban waktu itu.
Sementara PKB yang berambisi membalas kekalahan di Pilkada 2006 mengusung salah satu tokoh NU yang kala itu memiliki pengaruh cukup besar di Tuban, yakni KH Fathul Huda. Tokoh yang saat itu menduduki jabatan sebagai Ketua PCNU Tuban itu dipasangkan dengan Noor Nahar Hussein, calon bupati yang dikalahkan Haeny pada Pilkada 2006.
Hasilnya, pasangan Fathul Huda-Noor Nahar Hussein menang telak, 55,4 persen. Sedangan Haeny yang menjadi wakil Kristiawan meraih 15,7 persen. Sisanya diperoleh empat pasangan lain. Skor imbang: 1-1 untuk Liga Pilkada 2006 dan 2011.
Kemenangan Pilkada 2011 sekaligus Pileg 2014 seakan menjadi modal luar biasa bagi PKB untuk kembali menegaskan diri sebagai parpol penguasa di Pilkada 2016 sekaligus pemenang pemilu di Pileg 2019.
Untuk kedua kalinya pasangan Fathul Huda-Noor Nahar Hussein memenangi pilkada melawan pasangan independen—yang kata orang-orang hanya sebagai calon boneka, karena tidak mendapat lawan. Skor menjadi 2-1 untuk kemenangan PKB atas Golkar di Pilkada 2016.
Dua periode menepi seakan menjadi waktu yang cukup bagi Golkar untuk come back. Titik balik itu terjadi pada pilkada serentak 2020. Kali ini generasi Haeny yang tampil, yakni putra ketiganya, Ketua DPD Golkar Aditya Halindra Faridzky yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.
Dia mendapat mandat maju sebagai calon bupati diusung Golkar. Berpasangan dengan Riyadi, mantan Kepala Desa Maibit, Kecamatan Rengel sebagai calon wakil bupati.
Sementara di sisi lawan, PKB yang sudah tidak bisa lagi mengusung Fathul Huda sebagai calon bupati karena sudah dua periode, dan Noor Nahar yang tidak berkenan maju sebagai calon bupati, akhirnya mengusung pasangan Khozanah Hidayati-Muhammad Anwar.
Hasilnya, pasangan Aditya Halindra Faridzky-Riyadi yang diusung Golkar menang telak di 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban. Tak tanggung-tanggung, perolehan suaranya mencapai 59,4 persen.
Melampaui perolehan suara pasangan Fathul Huda-Noor Nahar Hussein pada Pilkada 2011. Sedangkan pasangan Khozanah Hidayati-Muhammad Anwar yang diusung PKB hanya mampu meraup suara 23,8 persen. Sisanya untuk pasangan lain. Hasil come back Golkar yang dipimpin Aditya Halindra Faridzky sukses menyamakan skor menjadi 2 sama (Golkar 2 - PKB 2).
Sementara itu, pada Pilkada 2024 lalu seakan sudah tidak ada “El Clasico” antara PKB dan Golkar. PKB yang tidak cukup percaya diri mengusung calon sendiri—melawan calon bupati incumbent, akhirnya malah berkoalisi dengan Golkar untuk mengusung pasangan Lindra-Joko.
Meski tidak ada persaingan antara PKB dan Golkar. Namun sepertinya semua bersepakat bahwa Pilkada 2024 dimenangkan oleh Partai Golkar. Dengan demikian, skor berakhir 3-2 untuk kemenangan Golkar.
Merasa sudah kalah dengan Golkar, kini PKB tengah menyiapkan strategi untuk memenangkan Pilkada 2029 mendatang. “Kami targetkan, 2029 nanti kader nahdliyin bisa kembali menjadi bupati. Untuk itu, mulai sekarang kami (PKB dan NU, Red) akan menyiapkan kader terbaik guna menyongsong Pilkada 2029,’’ kata Ketua DPC PKB Tuban Miyadi.
Patut ditunggu. Namun yang pasti, Golkar juga tidak akan berdiam diri. Menggeser dominasi perolehan 20 kursi DPRD dan dua periode sebagai partai penguasa bukan perkara mudah. Butuh strategi dan perencanaan yang matang. Dan tentu yang tidak kalah penting: amunisi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama