Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

MBG dan “Tidak Ada Makan Siang Gratis”

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 15 Februari 2025 | 15:10 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

Tidak ada yang buruk dari program makan bergizi gratis (MBG). Hanya saja, program ini sudah salah sejak diucapkan. Dan akhirnya malah seperti adagium klasik, there is no such thing as free lunch. Tidak ada makan siang yang gratis. Untuk merealisasikan program kampanye Prabowo-Gibran ini ada “harga” yang harus dibayar. Dan kini semua merasakan dampaknya: efisiensi anggaran besar-besaran secara serampangan—demi ruang fiskal untuk perluasan cakupan MBG.

SECARA paradoks, se­makin banyak kita ber­kor­ban untuk sebuah cerita imajiner, maka semakin gi­gih pula kita untuk me­wujudkannya. Sebab, kita tidak akan kuasa menepis keinginan untuk memberi makna pada pengorbanan dan penderitaan yang telah timbulkan—dari cerita ima­jiner yang terlanjur diciptakan.

Dalam bukunya Homo De­us, Yuval Noah Harari me­nye­but, dalam konteks politik, hal de­mikian di­is­tilah­kan sebagai “Anak Kita Tidak Ma­ti Sia-sia”.
Sebagai mantan prajurit dan koman­dan jenderal Kopassus, Pre­siden Prabowo paham betul dengan istilah tersebut.

Istilah itu terangkai dalam sejarah Italia memasuki Pe­rang Dunia Pertama pada 1915. Para politisi Italia me­nyampaikan pidato yang berapi-api di parlemen, me­reka bersumpah memu­lih­kan sejarah, dan berjanji mengambalikan kejayaan Romawi. Lalu, ratusan ribu tentara Italia terbakar se­mangatnya dan berteriak, “Demi Trento dan Trieste”. Dengan semangat ratusan ribu tentara tersebut, semua mengira bahwa kemenangan akan mudah didapat.

Namun, kenyataannya ber­beda. Angkatan perang Austro-Hungaria—kekaisa­ran Eropa Tengah—yang akan dilawan oleh tentara Italia memiliki garis per­tahanan yang sangat kuat. Dalam pertempuran per­tama, Italia kehilangan 15.000 tentara. Kemudian berlanjut pada pertempuran kedua, sebanyak 40.000 tentara Italia meninggal.

Dan seperti sebuah cerita imajiner, Italia tidak kuasa untuk tidak memberikan makna pada pengorbanan dan penderitaan yang telah timbulkan. Sehingga berlan­jut pada pertempuran ketiga, keempat, dan hingga tentara Italia hampir habis. Kurang lebih dua tahun pertem­puran, kurang lebih 700.000 tentara Italia terbunuh, dan lebih dari satu juta lainnya terluka.

Sebenarnya, setelah keka­lahan perang pertama, para politisi Italia sudah diberikan dua pilihan oleh pihak Au­tro-Hungaria. Pertama, me­­ngakui kekalahan dan kesalahannya, dan kedua, menandatangani perjanjian damai. Namun, bagi seorang politisi, mengakui kegagalan atau kesalahan adalah me­maafkan kebodohannya. Sebab itu, sudah barang ten­tu pilihan yang ditawar­kan Austro-Hungaria tidak menguntungkan politisi Italia.

Sehingga, pilihannya terus berperang. Hingga muncul istilah yang cukup ikonik tersebut, “anak-anak kita tidak mati sia-sia”. Sebab, jika berhenti berperang atau menyerah—meskipun sudah bisa dipastikan bakal kalah lagi, maka keputusan perang yang diucapkan oleh seorang politisi Italia adalah kebodohan—keputusan tanpa rencana dan pertimba­ngan yang matang, sehingga mengakibatkan ratusan ribu tentara mati sia-sia. Semen­tara mengakui kesalahan dan memaafkan kebodohan atas dirinya sendiri, bukan­lah tipikal seorang politisi.

Logika yang sama juga ber­laku pada pemerintahan Skotlandia pada 1999. Waktu itu, Skotlandia memutuskan untuk membangun gedung baru parlemen. Rencana awal, pembangunan diper­kira­kan memakan waktu 2 tahun dan membutuhkan biaya 40 juta poundsterling atau sekitar Rp 800 juta. Namun, rencana tersebut tidak sesuai dengan target.

Dan seperti cerita politisi Italia, lantaran tidak ingin dianggap gagal dan me­ngakui kebodohannya, serta uang yang sudah dikeluarkan tidak “mati” sia-sia, maka pembangunan tetap dilan­jutkan dengan anggaran yang membengkak hingga 400 juta poundsterling atau sepuluh kali lipat dari ren­cana awal dan baru tuntas dalam waktu empat tahun.

Cerita pemerintah Skot­landia itu jamak dialami oleh pejabat di negara ini. Bukan rahasia lagi—begitu banyak proyek gagal sesuai rencana awal, tapi tetap dilanjut. Semua itu lantaran tidak ingin dianggap gagal dan dipaksa untuk mengakui kebodohannya.

IKN dan MBG: Tantangan Mengakui Kegagalan dan Memaafkan Kebodohan
Contoh hari ini yang paling relate dan tampak adalah pembangunan Ibu Kota Nu­santara (IKN). Saat awal di­bangun, pemerintah era Pre­siden Jokowi sangat percaya diri bahwa proyek pemba­ngunan Ibu Kota ba­ru itu bakal sesuai rencana dan terget.

Namun, kini harus diakui bersama bahwa ke­nyataannya berbeda sama sekali. Dan jika dilihat dari kondisi hari ini, sepertinya sudah berada pada skenario gagal. Baik dari sisi target, nilai investasi dan keter­ba­tasan modal, hingga rencana pemindahan aparatur sipil negara (ASN) yang sudah berkali-kali mundur dari jadwal.

Namun, seperti halnya politisi Italia dan pemerintah Skot­landia yang enggan memaafkan kebodohan dan kegagalannya, maka pemba­ngu­nan IKN akan terus berlanjut dan “memakan” lebih banyak korban. Seperti pemerintah Skotlandia, pemerintahan era Jokowi yang kini dilanjutkan Pra­bowo akan berkata, “uang yang sudah dikeluarkan tidak akan mati sia-sia”. Pem­bangunan akan tetap dilanjutan sembari masa bodo untuk mengakui ke­gagalan dan kebodohannya.

Pun tidak jauh beda dengan kemungkinan nasib program makan bergizi gratis (MBG). Hemat penulis, keberlang­sungan program ini seperti­nya tidak jauh beda dengan konteks kegagalan politisi Italia di Perang Dunia Per­tama, pemerintah Skotlandia yang gagal dalam meren­canakan pembangunan ge­dung parlemen, dan pembangunan IKN.

Jamak diketahui bahwa MBG bukanlah program inisiatif yang baru dimuncul­kan pe­merintah Indonesia. Di banyak negara, program ini sudah dijalankan. Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Dan semua itu ter­gantung perencanaan yang matang. Bukan salah ucap saat kampanye.

Di Swedia, program MBG berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas pendi­dikan dan kesehatan secara umum (Lundborg, 2022). Di Amerika Serikat, program MBG difokuskan di daerah-daerah miskin saja. Kebi­jakan ini berhasil meningkat­kan kualitas gizi, prestasi akade­mik, kehadiran di sekolah, dan menghapus stigma ke­miskinan akibat program sebelumnya yang dide­sain means-tested (Davis, 2022).

Bukankah Sudah Ada Program PKH
Lantas, bagaimana dengan MBG di Indonesia. Hemat penulis, program ini sudah salah sejak diucapkan pada saat kampanye, dan ber­potensi menjadi kesalahan yang terus berlanjut. Se­derhananya, setidaknya hingga saat ini, target sa­saran dari kebijakan ini masih tidak jelas. Apa se­benarnya yang ingin dicapai dari program MBG, dan apakah MBG ini memang instrumen yang paling tepat untuk meningkat­kan gizi anak-anak Indonesia? Atau program ini hanya sekadar instrumen politik?

Anggap saja bahwa tujuan program MBG untuk me­ningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Tapi bukankan sudah ada Program Keluarga Harapan (PKH) yang juga menelan anggaran puluhan triliun. Bahkan, tujuan pro­gram PKH sepertinya lebih komplet ketimbang MBG dan dengan sasaran yang jelas: untuk keluarga tidak mampu.

Yakni, bertujuan me­ngurangi beban ekonomi keluarga miskin dengan mem­berikan bantuan uang tunai; mendorong peru­bahan perilaku yang lebih baik dalam hal kesehatan dan pendidikan; mening­katkan taraf kesejahteraan sosial keluarga miskin; dan mem­bantu keluarga miskin meng­akses layanan kese­hatan, pendidikan, pangan dan gizi, perawatan, dan pendampingan.

Komponen program PKH pun sudah sangat jelas. Kom­ponen kesehatan, mi­sal­nya, meliputi ibu hamil/menyusui, anak berusia nol sampai dengan enam tahun. Komponen pendidikan, un­tuk anak SD/MI atau sederajat, anak SMA/MTs atau sederajat. Lalu, kom­ponen kesejahteraan sosial, meliputi lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Jika tujuannya adalah un­tuk membantu pemenuhan gizi anak dari keluarga tidak mampu, bukankah program PKH sudah cukup. Atau pro­gran PKH dianggap ga­gal? Jika gagal, maka pe­merintah juga harus gentle mengakui kegagalan progran PKH sekaligus memaafkan kebodohan yang telah lalu.

Belum lagi bantuan sosial lain yang juga bejibun, baik bantuan dari pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah kabupaten, bahkan bantuan dari peme­rintah desa juga sudah ada. Termasuk bantuan kese­hatan untuk anak stunting juga sudah ada.

Sementara itu, program dengan cakupan penerima manfaat yang—setidaknya hingga saat ini masih tidak jelas—karena diberikan un­tuk semua siswa, baik dari ke­luarga tidak mampu kaya ini membutuhkan anggaran yang begitu besar. Tahun ini saja, misalnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut kebu­tuhan ang­garan MBG untuk menyasar target 82,9 juta penerima manfaat mencapai Rp 100 triliun.

Anggaran yang sangat fan­tastis ini dipredikasi akan terus membengkak setiap tahunnya. Sebab, meraka akan berkata, “Kita sudah menenggelamkan anggaran ratusan triliun dalam men­jalankan program ini di tahun pertama, dan kita akan benar-benar dicela jika berhenti menjalankan program ini di tahun-tahun berikutnya.

Untuk itu, biar saja kita terus menambah anggaran demi melanjutkan program ini. Sebab, jika program ini di­anggap gagal dan kita me­ngakui itu, maka kita harus siap untuk me­maafkan ke­bodohan kita.” (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#gagal #Makan Bergizi Gratis #pendidikan #IKN #Mbg #anggaran #efisiensi