RADARTUBAN - Setelah cukup lama tidak bersua. Tepatnya setelah ngopi bareng sembari mendiskusikan konflik antara PBNU dan PKB pada 1 September 2024 lalu, yang kemudian jadi bahan tulisan berjudul: Saya Nahdliyin, tapi Bukan “NU-nya PBNU” dan “NU-nya PKB”.
Selumbari lalu, kawan karib saya—yang seorang nahdliyin muda dari ujung barat kota Tuban itu tetiba berkirim pesan melalui WhatsApp lengkap dengan serlok-nya: sebuah warung kopi tempat dulu kita ngopi.
Ya itulah karakter teman saya. Dia tahu, saya pasti akan nyusul, meski harus menunggu sekurang-kurangnya satu jam. Dan entah kebetulan atau memang sudah ditakdirkan, pertemuan kita selalu bersamaan dengan momentum konflik yang melibatkan PBNU.
Dan seperti biasa, meski kawan karib saya ini hidup di pelosok desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Namun, soal wawasan dan pengetahuannya tentang laju perkembangan zaman tidak perlu diragukan. Termasuk konflik di internal PBNU saat ini.
Wajar saja, kendati hidup di desa, kawan karib saya ini mampu memanfaatkan ponsel pintarnya dengan sangat baik.
Di saat mayoritas orang lebih gemar scroll—nonton short video dan bermain game, dia menggunakan handphone-nya untuk menambah pengetahuan tentang dunia luar.
Hampir saban hari, informasi dari dalam maupun luar negeri menjadi sarapan pagi dan makan malam menjelang tidur. Berdampingan dengan ratusan buku koleksinya. Bahkan, dia juga langganan Kompas.id.
Sesuatu yang sangat tidak akrab dengan kehidupan orang desa—yang waktunya habis untuk bertani. Namun, satu hal yang tidak ia lakukan, yakni menulis dengan AI. Sebab, dia paham betul dampak “menggadaikan” otak dengan ChatGPT.
Tidak ada yang berubah dengan kawan saya ini. Masih kurus, dengan rambut sedikit gondrong, dan motor yang dikendari juga masih sama seperti sebelas tahun lalu—saat kita dipertemukan dalam organisasi: Honda Supra.
Meski menunggu agak lama, tidak ada segurat pun ekspresi mecucu dari wajahnya.
“Wes tak pesenno, kopi pait gulone sitik,” katanya, dan diriku hanya bisa berkata, “hasyu…” Sebab sudah pasti kopi itu dingin. Dan tahu sendiri, bagaimana rasanya minum kopi dalam keadaan sudah dingin. Tapi, ya itulah kawan saya, setiap ketemu selalu saja bikin emosi. Tapi tidak dengan urusan diskusi.
Setelah mencecap kopi dan menghabiskan sesebat rokok, obrolan yang semula tanpa arah tetiba mengarah pada konflik di internal PBNU.
“NU…… NU, nek gak konflik kok koyok gak asyik,” ujarnya, lalu disusul dengan pertanyaan yang hampir sama seperti pertemuan sebelumnya, “masih NU?” tandasnya lalu tertawa.
Jawabanku masih sama, “nyel NU, tapi bangga dengan Muhammadiyah.” Hahahahaha… (bukan saya yang tertawa, tapi dia).
Lagi-lagi, kawan saya ini selalu memberikan analisa yang cukup unik. Menurutnya, tradisi musyawarah ala pesantren dan mengelola konflik dengan cara ala Gus Dur (yang tetap humor) adalah penyangga utama NU dalam mengelola setiap konflik.
Namun, rasa-rasanya konflik kali ini tidak mencerminkan ke-NU-an. “Tapi semoga ini perasaan saya saja. Sebab, konflik kali ini hambar sekali,” katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, jika konflik di PBNU seperti yang dirasakan, maka itu sangat bahaya.
“Dulu, setebal-tebalnya gesekan di internal NU, para kiai itu masih salat berjamaah. Pun konflik yang terjadi bukan konflik dalam arti yang sebenarnya,” jelasnya.
Yang dimaksud konflik bukan dalam arti yang sebenarnya, adalah konflik yang tidak dilandasi kepentingan pribadi atau kelompok di luar kepentingan bersama—untuk warga nahdliyin.
Dia pun mengingatkan ulang sejarah Muktamar NU ke-27 di Krapyak tahun 1989 silam. Ketika itu, Ketua Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), KHR Asad Syamsul Arifin menyatakan mufaraqah (memisahkan diri) dengan Gus Dur, yang saat itu terpilih kembali secara aklamasi sebagai Ketua Umum PBNU.
Bahkan, pernyataannya untuk mufaraqah itu disampaikan langsung di depan awak media. Praktis, kabar itu langsung tersebar luas, hingga membuat warga nahdliyin di kalangan grassroot bingung.
Sebab, pada Muktamar ke-27 di Situbondo, ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo itu mendukung penuh Gus Dur sebagai Ketua Tanfidz.
“Dan kita semua tahu bagaimana Kiai Asad mengelola konflik. Ketika ditanya wartawan, Kiai Asad dengan santai menjawab bahwa dirinya dengan Gus Dur tetap satu masjid, tapi tidak menjadi makmum. Alasannya, beliau tahu kalau Gus Dur kentut. Makanya beliau tidak mau jadi makmumnya Gus Dur,” katanya.
Lebih jauh dari itu—yang akhirnya terungkap, konflik yang dikelola Kiai Asad bertujuan untuk melindungi Gus Dur dari target “penghilangan” Orde Baru.
Dari sini, kata kawan saya, kita belajar bahwa konflik yang tidak dilandasi kepentingan personal bisa di-manage dengan sangat baik, bahkan masih bisa direspon dengan humor.
“Kita bisa belajar dari Gus Dur. Setiap kali menyelesaikan persoalan, baik di internal maupun luar NU, Gus Dur selalu menyelesaikannya dengan cara yang santai, bahkan dengan humor dan jokes-jokes lucu: Gitu aja kok repot.”
Namun, tegas kawan saya, kesantaian, humor, dan jokes-jokes lucu itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memang tidak memiliki kepentingan personal sama sekali di dalam organisasi. Ibarat kata, tanpa beban dan tanpa konflik kepentingan yang mengekang dirinya. “Pertanyaannya sekarang, kenapa konflik yang terjadi di tubuh PBNU kali ini terasa hambar dan sepertinya akan sulit dicairkan?”
“Tulis di kolom komentar,” kata kawan saya, dan tidak terasa ternyata sudah malam. Waktunya pulang ke Kecamatan B di ujung barat kota Tuban. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni