Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tetap Kritis dan Logis di Era Disrupsi AI

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 20 Desember 2025 | 23:05 WIB
Ahmad Atho’illah, Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban
Ahmad Atho’illah, Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban

RADARTUBAN- Kata Einstein, komputer memang sangat cepat dan tepat, tetapi bodoh. Sedangkan manusia sangat lamban dan tidak tepat, tetapi cemerlang

Sejalan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, kini manusia mulai lupa terhadap kompleksitas kinerja pikirannya sendiri. Seakan semua harus berjalan cepat seperti halnya komputer. Padahal, menurut Carl Honore, seorang penulis cum jurnalis dan tokoh slow movement asal Skotlandia, orang genius mengetahui secara persis, kapan waktu mempercepat dan memperlambat proses berpikir.

Pernyataan itu menegaskan bahwa orang dengan kemampuan intelektual tinggi tidak selalu berpikir cepat. Sebaliknya, kecerdasan dan kreativitas itu lahir dari proses yang kadang harus melambat. Sayangnya, di tengah arus perkembangan akal imitasi (AI) kiwari ini, kita perlahan kehilangan kendali dalam memahami pikiran. Ibarat kereta cepat, pikiran diajak terus berlari. Bahkan, demi mengejar laju teknologi, kita rela “menggadaikannya” pikiran dengan AI.

Sebagaimana yang kita rasakan beberapa tahun terakhir ini, praktik-praktik yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis seakan telah larut dalam arus disrupsi teknologi.

Alasan tuntutan yang serba cepat dan perkembangan teknologi yang seakan-akan harus diimbangi, praktik menulis yang semestinya membutuhkan keterampilan begitu kompleks dari berbagai aspek, seperti tata bahasa, kosa kata, struktur kalimat, pengembangan paragraf, serta kemampuan berpikir kritis dan logis untuk mengorganisasi ide secara sistematis, kini telah direduksi dengan ChatGPT.

Hanya dengan memasukan prompt ke dalam sistem kecerdasan buatan, sebuah artikel dan berita imitasi tersaji hanya dalam hitungan detik. Tidak ada yang salah dengan perkembangan teknologi. Larut atau tetap dalam kendali diri adalah sebuah pilihan.

Ketika menulis adalah proses berpikir kritis dan logis secara produktif (baca: konsisten) dalam menata bahasa dan mengolah kosa kata, maka AI telah menghilangkan semua esensi tersebut. Tidak jauh beda dengan joki yang dibayar untuk mengerjakan skripsi. Jangankan mampu menjelaskan isi skripsi secara logis, paham terhadap substansi pun tidak.

Demikian juga dengan kerja-kerja jurnalisme yang memanfaatkan ChatGPT, jangankan menghasilkan produk jurnalistik yang humanis, paham terhadap apa yang ditulis pun sudah untung. Padahal, sebuah berita yang ditulis seorang wartawan adalah produk intelektual. Lantas, siapa yang layak disebut intelektual jika “tugas” menyusun berita diserahkan kepada bukan manusia.

Sebagaimana yang disampaikan Sindhunata dalam bukunya: Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian Kompas, berita yang diproduksi tanpa melakukan sebuah perjalanan (baca: proses peliputan), ibarat wartawan yang telah kehilangan kaki.

Lebih tegas Sindhunata mengatakan, pengabaian terhadap “pekerjaan kaki” membuat jurnalis lambat laun akan kehilangan karakter humanisnya. Padahal, humanisme merupakan syarat wajib yang harus dimiliki seorang wartawan.

Artinya, melambat untuk tidak tergantikan oleh AI adalah salah satu upaya untuk menjaga nilai-nilai akademisi dan jurnalisme itu sendiri.

Dampak Negatif AI terhadap Pembelajaran

Salah seorang kawan berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Tuban mengatakan, di era sekarang ini, seorang dosen dituntut cermat terhadap pemanfaatan teknologi yang dilakukan oleh mahasiswa. Terlebih, di tengah pesatnya perkembangan AI seperti ChatGPT.

Dia bercerita, sekali waktu memberikan tugas kepada mahasiswanya untuk menuliskan pengalaman pribadi menghadapi mental health di dua kelas yang diampunya. Dalam studi kasus yang dilakukan tersebut, dia menemukan tulisan yang rata-rata mirip. Dari hasil analisanya, dia menduga, tulisan yang dihasilkan mahasiswanya itu menggunakan AI. Dan ternyata benar. “Bayangkan, untuk menuliskan pengalamannya tentang stres yang dihadapi saja tidak mampu menggunakan gagasannya sendiri. Lalu bagaimana bisa berpikir kritis dan logis,” katanya. Karena itu, dia mengamini betul bahwa ruang akademisi harus diselamatkan dari disrupsi AI.

“Jika AI digunakan untuk menggantikan pikiran, maka sudah dapat dibayangkan, generasi muda kita ke depan tidak akan mampu berpikir logis dan kritis. Padahal, orang-orang cerdas dan kreatif itu itu lahir dari cara berpikir kritis dan logis,” tandasnya.

Mendidik Memanfaatkan AI sejak Dini

Sebagai orang tua dari anak generasi Alpha, saya memahami betul tantangan disrupsi AI terhadap generasi kiwari. Dibutuhkan kebiasaan dan penekanan terhadap anak agar tidak salah dalam memahami AI.

Sepekan lalu, anak saya yang saat ini duduk di bangku kela 6 madrasah ibtidaiyah (MI) mendapat tugas mengarang dari gurunya dalam bahasa Inggris. Temanya, meneladani kisah Thomas Alva Edison, penemu penemuan lampu pijar.

Kendati sampai saat ini dia belum memiliki HP sendiri. Namun, dia cukup memahami perkembangan AI. Termasuk ChatGPT dan Tanya Meta AI di aplikasi WhatsApp milik ibunya. Dan sore itu saya memergoki dirinya meminta bantuan AI untuk membuat cerita pendek tentang Thomas Alva Edison. Saat itu pula saya memberikan pemahaman hingga dia menangis, lalu tidur (jika diceritakan terlalu panjang).

Singkat cerita, setelah bangun tidur dan pikirannya kembali fresh, dengan sedikit saya bantu (dalam bahasa Indonesia), dia akhirnya menyusun sendiri cerita pendek tentang penciptaan lampu pijar yang ditemukan oleh Thomas Alva Edison—tanpa bantuan AI.

Dengan bekal kebiasaannya membaca, cerita pendek itu akhirnya tersusun cukup rapi dalam waktu kurang lebih satu jam. Dibanding menggunakan AI, tentu proses menulis menggunakan akal sendiri sangat lambat. Namun, di situlah pilihannya: melambat untuk tetap kritis dan logis, atau cepat tapi kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Dan berikut hasilnya:

The Inventor of The Light Bulb

​Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hello, my friends.

​This time, I want to tell you about the inventor of the light bulb, Thomas Alva Edison. The light bulb was invented because Thomas Alva Edison felt anxious when the night was dark.

Then, he thought of making something that could glow at night. After long contemplation, an object called the incandescent lamp was created by Thomas.

​Did Thomas find the light bulb immediately? No. Thomas went through a very long process. He experimented many times—even hundreds of times—until he finally succeeded in creating a lamp that glowed, precisely on October 21, 1879.

​In his first successful experiment, the incandescent lamp managed to light up for 40 hours. Feeling unsatisfied, Thomas continued to develop his invention until he finally made a lamp that used a carbonized bamboo filament, which was able to stay lit for 1,200 hours. His invention was officially patented on November 4, 1879.

​From this story, we can learn about the persistence and the "never-give-up" spirit of Thomas Alva Edison. This also confirms that every success and achievement requires a process; it is not instant…

​Thank you…

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#AI #ChatGPT #berpikir kritis