RADARTUBAN - Rocky Gerung adalah maestro debat pilih tanding yang dimiliki negara ini. Sekalipun seluruh pakar se-Indonesia berkumpul, sepertinya tidak ada satu pun yang mampu menandingi kehebatannya dalam mengolah kata dan logika.
Untungnya Tuhan sudah memberikan barrier bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Khataman nabiyyin. Penutup para nabi. Dengan begitu, tidak ada yang menganggap Rocky Gerung sebagai nabi.
Pernyataan ini memang sedikit berlebihan, bahkan sangat. Namun, itulah yang tampak di publik. Rocky Gerung adalah gambaran manusia cerdas yang hampir kaffah. Setiap kata, frasa, dan kalimat yang keluar dari mulutnya seakan tidak ada yang salah. Semua yang diucapkan terdengar benar. Bahkan sekalipun salah, lawan bicaranya tetap dipaksa untuk mengakui kebenaran atas apa yang diucapkan.
Dan untungnya Tuhan juga telah memberikan barrier bahwa Alquran adalah kitab suci terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Sebab, hampir saja Rocky Gerung menjadi kitab suci berjalan. Setiap dalil yang diucapkan saat debat diklaimnya sebagai kebenaran. Ketika ada yang membantah, maka yang diucapkan adalah kesalahan, bahkan sebelum diucapkan oleh lawan. Contoh yang masih hangat adalah saat berdebat di acara TV Rakyat Bersuara.
Di momen itu, semua lawan debatnya dipaksa untuk mengikuti jalan pikirannya. Seakan yang diargumenkan adalah kebenaran mutlak. Termasuk dalil-dalilnya tentang MBG dan KDMP. Orang-orang yang mempersoalkan dan tidak sepakat dengan program makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih termasuk golongan manusia-manusia dungu dan tolol.
Harus saya akui, bahwa saya termasuk orang yang mengagumi kecerdasan Rocky Gerung. Sampai hari ini. Tidak berubah. Banyak yang mengatakan bahwa Rocky Gerung adalah akademisi cum pengamat politik sombong. Namun yang perlu dicatat, kesombongan dia setara dengan kecerdasannya. Orang Jawa menyebutnya sumbut. Sebab, banyak orang sombong tapi tidak seimbang dengan keilmuannya. Dan Rocky adalah keseimbangan antara kepongahan dan kecerdasan itu sendiri. Pada level itu, saya mengaguminya.
Hanya saja, belakangan ini saya melihat jalan pikiran Rocky Gerung terkesan dipaksakan. Utamanya saat membela program MBG dan KDMP. Namun, sekalipun terkesan dipaksakan, apa yang diucapkan adalah hal ideal. Persis dan masih konsisten seperti yang pernah diucapkan pada Agustus 2023 lalu. Ketika ditanya kriteria pemimpin ideal untuk Indonesia menjelang Pilpres 2024. Rocky dengan tegas mengatakan bahwa pemimpin ideal versi dirinya adalah menjalankan amanah konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat fakir miskin.
Bagi Rocky Gerung, Prabowo memenuhi kriteria pemimpin ideal tersebut. Dan itu diejawentahkan dalam program MBG dan KDMP. Karena alasan itulah, Rocky terkesan membela mati-matian dua program tersebut. Bahkan reputasinya pun siap dipertaruhkan.
Namun sayang, kali ini Rocky Gerung terkesan lupa bahwa benar belum tentu pener sehingga setiap persoalan yang muncul dari program MBG dan KDMP terabaikan. Bahkan sama sekali tidak dianggap sebagai masalah.
Saya menyimak dari awal sampai akhir program diskusi Rakyat Bersuara bertajuk “Isu Panas Program Prioritas”. Program yang dipandu host Aiman Witjaksono itu menghadirkan analis sosial politik UNJ Ubedilah Badrun; pakar ekonomi Ichsanuddin Noorsy; Guru Besar FISIP Unair Henri Subiakto; Deputi 3 Bakom RI Kurnia Ramadhana; juru bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso; dan maestro debat Rocky Gerung yang ditempatkan sebagai narasumber utama untuk membedah kebijakan dan program prioritas pemerintahan.
Tak hanya sekali, saya menyimak dan mendengar debat berdurasi 3 jam 11 menit itu hingga dua kali. Dan persis seperti yang diucapkan Henri Subiakto. Saya pun sependapat bahwa nalar kritis Rocky Gerung tidak kurang sejengkal pun. Termasuk mengkritisi pejabat pemerintah. Hanya saja, kini posisinya sebagai zirah Prabowo. Seakan semua boleh mengkritik pejabat pemerintah, tapi tidak untuk Prabowo. Beda saat Jokowi sebagai presiden. Apa pun yang diucapkan dan dilakukan Jokowi adalah kedunguan. Termasuk menteri-menteri dan pejabat di lingkaran Jokowi.
Lantas, apa yang membuat arah kritik Rocky Gerung berubah—dari general menjadi radikal break? Bagi saya cukup sederhana, dan hal ini semakin menegaskan bahwa bayang-bayang orang Jokowi masih cukup membasis di lingkaran kekuasaan. Karena itu, kritik yang diarahkan adalah radikal break—tindakan tegas untuk memutus keterikatan secara total dari pola, kebiasaan, atau jaringan kekuasaan lama yang diklaim menghambat gerak dan langkah Prabowo.
Bagi Rocky, Prabowo adalah presiden ideal. Sebab, hanya dia yang dianggap mampu mengejawentahkan amanat konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa dan memelihara fakir miskin. Praktiknya, MBG (mencukupi kebutuhan gizi anak) dan KDMP (perlawanan terhadap kapitalis). Bahkan, dengan cukup berani dia berseloroh, Prabowo adalah jubirnya dalam mengejawentahkan paham sosialis.
Pada konteks paham sosialis, saya pun bersepakat. Namun, seperti yang pernah diucapkan Sujiwo Tejo: hidupnya Rocky hanya di atas kertas. Ideal, tapi tidak menginjak tanah.
Karena itu, puluhan ribu siswa yang keracunan setelah mengonsumsi MBG tidak dianggap sebagai masalah. Bahkan, berempati terhadap korban pun tidak. Termasuk segala persoalan yang mengiringi jalannya pembangunan koperasi desa. Rocky seakan benar-benar menutup mata dan telinga.
Hilangnya empati Rocky terhadap anak-anak, orang tua, dan guru yang menjadi korban keracunan MBG itu tampak dari program diskusi Rakyat Bersuara bertajuk “Rocky vs Everybody, Bicara Program Prioritas”.
Lebih dari tiga jam berdebat panas terkait program MBG dan KDMP, tidak pernah sekalipun ada kata mencerminkan empati terhadap korban keracunan MBG yang keluar dari mulut Rocky. Sebaliknya, dia dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada MBG beracun. Dan sebagai pembenar atas argumennya, dia menantang publik untuk membuktikan kalau MBG beracun, dan siapa yang meracuni? ‘’Proses secara hukum,’’ katanya. Padahal, selama ini tidak ada yang mengatakan diracun. Diksi yang dipakai publik adalah keracunan/tumbang setelah mengonsumsi MBG. Lantas, apa maksudnya? Benarkah ada sabotase?
Namun, pada tulisan ini substansinya bukan soal praduga. Melainkan perubahan arah kritis Rocky Gerung. Pernyataannya di atas sama sekali tidak menggambarkan kecerdasan organik seorang Rocky. Sebaliknya, pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa Rocky adalah Prabowo dan Prabowo adalah Rocky. Keduanya sudah menyatu. Berubah menjadi power rangers. Karena itu, mengkritik Prabowo sama halnya mengkritik Rocky.
Namun, bukan Rocky jidat tidak denial. Sekalipun fakta di lapangan menunjukkan karut-marutnya program MBG dan KDMP, dia tetap dengan kepercayaan diri tinggi mengatakan, bahwa sepuluh tahun mendatang, orang-orang yang tidak sepemikiran dengan dirinya bakal meminta maaf, seperti halnya ketika dulu mengkritik Jokowi. Seakan kebenarannya tunggal hanya milik dirinya.
Wabakdu, meski masih kritis dan tetap konsisten dengan diksi dungu dan tololnya, Rocky yang sekarang bukan Rocky yang dulu. Satu di antara yang telah hilang darinya adalah rasa empati. Dan soal siapa yang benar sepuluh tahun mendatang. Yang jelas, Rocky bukan nabi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni