Surat Terbuka untuk Mas Bupati: Selamatkan Generasi Mendatang

Ahmad Atho'illah • Dipublikasikan Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:04 WIB
Ahmad Atho'illah, Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban
Ahmad Atho'illah, Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban

RADARTUBAN - Dear, Mas Lindra. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Setelah cukup lama tidak menulis surat terbuka untuk panjenengan. Kali ini, izinkan saya menyampaikan pesan terbuka yang menjadi keresahan banyak orang tua melihat anak-anak semakin kehilangan attitude. Bicara kasar, tidak sopan, dan berperilaku tidak sewajarnya usia mereka.

Namun, sebelum jauh membahas soal keresahan tersebut, terlebih dahulu saya ucapkan selamat kepada Mas Lindra atas capaiannya dalam menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Tuban. Dari sebelumnya—setelah bertahun-tahun menjadi daerah termiskin nomor lima dari bawah, kini naik satu strip di posisi enam dari total 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Meski hanya naik satu tingkat dari bawah, tapi tetap harus disyukuri dan diapresiasi. Sebab, menurunkan angka kemiskinan bukan hal mudah.

Dan melalui surat terbuka ini pula, saya ingin menyampaikan bahwa kemiskinan dan attitude anak memiliki keterkaitan yang sangat erat, bahkan seperti sepasang sisi mata uang. Karena itu, jika ingin menurunkan angka kemiskinan secara signifikan dan sustainable, maka solusinya adalah membentuk karakter anak sejak dini.

Selain orang tua yang bertanggung jawab atas karakter anak di lingkungan keluarga, cara paling efektif dalam membentuk karakter anak adalah melalui sistem atau kebijakan pendidikan. Sebab—tanpa mengurangi rasa hormat dan kepercayaan terhadap orang tua dalam mendidik anak, tapi tidak semua orang tua mampu melakukan itu, sehingga dibutuhkan intervensi dari pembiasaan di lingkungan sekolah.

Sebagai orang tua dan cukup concern di bidang pendidikan, serta melihat langsung perilaku anak dari warung kopi ke warung kopi, saya mengalami pola pendidikan karakter hari ini mulai tergerus oleh perkembangan teknologi, khususnya game dan media sosial.

Ya, memang tidak semua anak yang bermain game dan media sosial membawa dampak buruk terhadap karakter. Namun, dari angka 100 mungkin hanya dua-tiga anak saja yang mampu memanfaatkan game dan media sosial dengan baik—untuk pembelajaran atau menunjang kompetensi. Selebihnya, berdampak negatif terhadap gaya hidup dan pergaulan.

Bermain game, misalnya, yang paling tampak adalah soal attitude. Dari sekian banyak warung kopi yang pernah saya singgahi, hampir tidak ada anak yang bermain game tidak mengucapkan kata-kata kasar. Saking kasarnya, organ vital laki-laki dan perempuan pun turut disebut sambil teriak. Dan parahnya lagi, kadang masih mengenakan seragam dan sambil merokok.

Pun dengan media sosial, dampak buruknya juga tidak main-main. Dan yang paling tampak adalah perilaku dan gaya hidup. Kini, perilaku dan gaya hidup anak-anak usia sekolah tak lagi berdasar kebutuhan, melainkan keinginan. Dasarnya, preferensi. Apa yang dilihat di media sosial menjadi tuntutan dan tuntutan yang harus ditiru.

Contoh paling nyata adalah keinginan untuk sama dengan apa yang dilihat di media sosial. Ketika ponsel iPhone dianggap keren, maka keinginan itu harus dipenuhi. Tidak memandang anak dari keluarga kaya maupun miskin, bagaimana pun caranya harus punya. Sebab, akan malu jika ponselnya tidak standar pergaulan media sosial.

Terkhusus bagi remaja putri, adalah preferensi dalam mematut diri. Sekarang ini, hampir tidak ada anak SMP, khususnya SMA yang tidak glowing, kulitnya putih, makeup-nya tebal, pakaiannya bermerek. Seakan berangkat ke sekolah bukan untuk menimba ilmu, tapi sekadar untuk tampil paling cantik. Dan mindset yang demikian ini tidak mengenal anak dari keluarga kaya maupun miskin. Karena pengaruh media sosial, semua ingin sama: cantik, glowing, kulit putih, dan seksi.

Izin, Mas Bupati, tidak bermaksud memberikan intervensi. Salah satu pemicu yang melanggengkan kemiskinan adalah hilangnya mindset dan kesadaran dalam memahami antara kebutuhan dan keinginan.

Sebagai contoh, hanya karena pergaulan dan mindset preferensi dari apa yang dilihat di media sosial, mereka dari keluarga tidak mampu, bahkan miskin, pun memaksa orang tuanya agar dibelikan ponsel iPhone. Dan bagi remaja putri, karena ingin sama seperti yang dilihat di media sosial dan temen sepergaulan, orang tuanya dengan penghasilan pas-pasan juga dipaksa untuk membelikan makeup hingga vitamin yang bisa memutihkan kulit.

Belum lagi soal kendaraan. Tidak sedikit anak usia remaja dari keluarga tidak mampu memaksa orang tua untuk membelikan motor yang bagus. Dan semua itu karena faktor preferensi media sosial dan pergaulan.

Inilah yang saya maksud bahwa kemiskinan saling terkait dengan karakter anak. Sebab, di era preferensi media sosial seperti sekarang ini, semua anak ingin tampil sama. Tidak memandang anak dari keluarga kaya maupun miskin. Itulah sebabnya, yang miskin akan semakin miskin, karena penghasilan orang tua habis untuk memenuhi perilaku konsumtif anak. Terlebih, bagi orang tua yang minim pengalaman dan kendali atas perilaku anak.

Itulah sebabnya, dan mohon maaf, sekalipun keluarga tidak mampu digelontor bantuan sosial saban bulan, tapi jika mindset anak tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, maka selama itu pula bantuan yang diberikan pemerintah tidak akan berdampak. Ibarat besar pasak daripada tiang, perilaku konsumtif anak tetap lebih besar daripada bantuan yang diberikan pemerintah. Itulah sebabnya mereka akan terus terkungkung dalam kemiskinan.

Pun dengan program transportasi Bus Si Mas Ganteng. Sekalipun menghabiskan anggaran ratusan miliar, tapi jika mindset anak tidak berubah, maka selama itu pula program ini tidak akan memberikan dampak apa pun terhadap keluarga miskin.

Semestinya, jika merujuk pada tujuan awal, program angkutan pelajar gratis ini sangat meringankan beban keluarga tidak mampu. Mereka-para siswa dari keluarga tidak mampu tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk naik kendaraan umum atau ongkos BBM ketika membawa kendaraan sendiri ke sekolah, tapi cukup naik Bus Si Mas Ganteng. Gratis, sehingga uang yang harusnya untuk ongkos BBM bisa ditabung atau digunakan untuk kebutuhan lain.

Tapi sayang, sebagian besar yang memanfaatkan Bus Si Mas Ganteng malah bukan anak-anak dari keluarga tidak mampu. Dan semua itu karena mindset. Memilih naik motor meski harus mengeluarkan ongkos BBM.

Dengan kondisi gaya hidup dan perilaku remaja kiwari yang sudah sekolektif ini, kalau hanya mengandalkan peran keluarga, maka tidak akan selesai. Dibutuhkan langkah taktis dan kebijakan ekstrem dari pemerintah untuk mengubah mindset.

Misalnya, menerapkan aturan jam malam bagi pelajar, sehingga tidak ada lagi anak-anak yang ngopi sambil nge-game hingga larut malam di warung-warung kopi. Buatkan banner—lengkap dengan aturan dan sanksinya, lalu pasang di setiap kafe dan warung-warung kopi.

Tutup atau cabut izinnya kafe dan warung kopi yang membiarkan anak mbolos saat jam sekolah dan ngopi hingga larut malam. Buat aturan di sekolah, semua siswi dilarang menggunakan makeup. Seluruh ponsel harus dikumpulkan saat jam pelajaran, kecuali dibutuhkan saat praktik atau ulangan menggunakan ponsel. Tambah feeder Si Mas Ganteng hingga menjangkau rute-rute pedesaan, lalu paksa anak agar tidak membawa motor ke sekolah.

Izin Mas Bup, jika kebijakan tersebut dianggap terlalu ekstrem. Pertanyaannya sekarang, pilih mana: membiarkan karakter generasi mendatang rusak atau diperbaiki dari sekarang meski dengan cara sedikit memaksa?

Ini bukan hanya soal Kabupaten Tuban, kondisi merosotnya karakter generasi muda hampir terjadi hampir merata di setiap daerah. Namun, apa salahnya kita mulai memperbaiki dari Tuban. Dan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
gaya hidup pendidikan kemiskinan