RADARTUBAN – Dalam beberapa waktu ini, muncul fenomena “Laki-laki tidak bercerita, tapi …., di media sosial khususnya TikTok.
Biasanya, tren ini diseetai dengan contoh-contoh menarik seperti “laki-laki tidak bercerita, tapi pikiranya berubah jadi rambut uban, lalu rambut ubannya menjadi cahaya di surga sana” atau “laki-laki tidak bercerita, tapi bekerja untuk keluarga” dan lain sebagainya.
Di satu sisi tren ini tampak lucu dan ringan, namun disisi lain, tren ini menyiratkan pesan yang lebih dalam tentang bagaimana masyarakat memandang peran laki-laki mengelola emosi.
Benarkah bahwa “diam” dan “tidak bercerita” adalah tanda kekuatan seorang laki-laki?
Menurut Prof. Dr. Argyo Demartoto, M.SI, Dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS), menyebut jika ytren ini berkaitan erat dengan gambaran kontruksi sosial tentang maskulinitas di Indonesia.
Dimana secara kontruksi sosial tentang maskulinitas dan feminitas, mewajibakan seorang laki-laki harus kuat dan tegar, tidak boleh menunjukan sisi lemahnya.
“konstruksi sosial tentang maskulinitas dan feminitas bahwa laki-laki itu harus aktif, kuat, tegar, dan tidak menunjukkan kelemahan, itu kemudian memberi label kepada laki-laki maupun perempuan di masyarakat," kata Argyo dikutip dari Kompas.com, Kamis (14/11).
Argyo juga menyatakan bahwa dalam kontruksi ini, laki-laki diharapkan menjadi figur yang mampu menahan perasaan, tidak mengeluh dan berperan sebagai penjaga ketenangan dalam keluarga dan masyarakat.
Di Indonesia itu kan akses, kemudian kontrol, pengambilan keputusan itu selalu didominasi oleh laki-laki," ujar Argyo.
Sehingga konsep maskulinitas ini menjadikan tekanan tersendiri bagi laki-laki, misalnya saja laki-laki harus tetap menyembunyikan perasaanya, bahkan dalam situasi emosional yang berat.
Sehingga memunculkan representasi jika, laki-laki tidak perlu bercerita karena bisa mengatasi sebuah masalahnya sendiri.
Namun menurut Argyo hal ini juga akan menjadi boomerang tersendri yang kembali kepada diri sendiri, yang dapat menyebabkan stres.
“Nah tetapi ada efeknya juga menurut saya, nanti ke depannya ada ada semacam boomerang yang kembali kepada kita kalau kita tidak bisa mengendalikan emosi kita yang memuncak. Secara psikologis kita jadi cemas atau stres," imbuh Argyo
Pendapat yang sama juga dikatakan oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, Dokter Ahli Kesehatan Jiwa, yang mengatkan jika cerita merupakan hal yang umum dan dapat meredakan emosi.
“Cerita itu cara alamiah untuk seseorang meredakan dan melepaskan emosinya. (Ketika laki-laki tidak bercerita) tentu emosinya jadi tertahan. Jadi tidak tahu rasanya dimengerti atau dipahami karena memang gak pernah menceritakan. Selain itu, seseorang jadi tidak mengembangkan keterampilan bercerita. Jadi, pada momen dia harus bercerita gak tahu juga caranya," tambah Joemi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama