Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Asal-usul Ungkapan Minal Aidin Wal Faizin yang Jadi Tradisi Lebaran di Indonesia

Nadia Nafifin • Sabtu, 22 Maret 2025 | 19:03 WIB
Asal-usul Ungkapan Minal Aidin Wal Faizin
Asal-usul Ungkapan Minal Aidin Wal Faizin

RADARTUBAN - Saat Idul Fitri, umat Muslim di berbagai belahan dunia sering mengucapkan minal aidin wal faizin sebagai doa dan harapan untuk sesama. Di Indonesia, ungkapan ini telah menjadi bagian dari tradisi Lebaran.

Menariknya, ucapan ini pertama kali muncul di Madinah setelah sebuah peristiwa besar, yaitu kemenangan umat Islam dalam peperangan.

Mereka kembali dalam keadaan selamat dan berjaya, sehingga ungkapan tersebut menjadi simbol doa dan kebahagiaan.

Sejak itu, minal aidin wal faizin yang berarti termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan meraih kemenangan, digunakan sebagai doa dan harapan baik, terutama saat Idul Fitri.

Seiring berjalannya waktu, ungkapan ini semakin dikenal dan digunakan di berbagai negara, terutama di Indonesia, meskipun sebenarnya bukan bagian dari salam resmi dalam bahasa Arab. Berikut ini adalah asal-usul ungkapan minal aidin wal faizin.

 Baca Juga: Sudah Mencapai 45 Persen, Masjid Negara IKN Akan Digunakan untuk Salat Idul Fitri 2025.

Ungkapan minal aidin wal faizin memiliki sejarah yang berkaitan dengan Perang Badar, pertempuran penting antara umat Islam dan kaum Quraisy.

Berdasarkan berbagai sumber, Idul Fitri pertama kali dirayakan pada tahun 624 Masehi atau tahun kedua Hijriah, bertepatan dengan berakhirnya perang tersebut.

Perang Badar terjadi pada 17 Ramadhan, di mana pasukan Rasulullah SAW berjumlah jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan Quraisy.

Kaum Muslimin hanya terdiri dari 313 orang, sedangkan pasukan Quraisy mencapai 1.000 orang. Namun, dengan pertolongan Allah SWT, umat Islam berhasil meraih kemenangan.

Kemenangan ini kemudian dirayakan dengan penuh syukur sebagai bentuk terima kasih kepada Allah SWT. Dari peristiwa tersebut, muncul ungkapan minal aidin wal faizin, yang dalam versi lengkapnya berbunyi Allahummaj ‘alna minal ‘aidin wal faizin, yang berarti Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan memperoleh kemenangan.

Pada perayaan Idul Fitri pertama ini, umat Islam merayakan dua kemenangan sekaligus. Pertama, keberhasilan menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, yang mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri.

Kedua, kemenangan dalam Perang Badar, yang menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam.

Perang Badar merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang terjadi pada bulan Ramadhan di masa awal perkembangan Islam.

Bagi umat Muslim, Ramadhan bukan hanya bulan suci, tetapi juga waktu untuk melatih diri dalam menahan lapar, haus, serta mengendalikan emosi. Nabi Muhammad SAW bahkan bersabda dalam hadisnya:

“Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.”

Baik masyarakat Madinah maupun Indonesia memiliki tradisi mengucapkan minal aidin wal faizin sebagai ungkapan kegembiraan. Namun, makna di balik kebahagiaan tersebut memiliki perbedaan berdasarkan konteks sejarah dan budaya masing-masing.

Bagi masyarakat Madinah pada masa itu, ungkapan minal aidin wal faizin mencerminkan kemenangan dalam pertempuran fisik. Sementara itu, bagi masyarakat Indonesia, ungkapan ini lebih diartikan sebagai kemenangan dalam menahan hawa nafsu selama bulan Ramadhan.

Meskipun maknanya berkembang sesuai dengan konteks budaya, sebagian besar masyarakat Indonesia tetap menganggap bahwa mengucapkan kalimat tersebut saat Idul Fitri bukanlah hal yang keliru.

Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa ungkapan minal aidin wal faizin berasal dari syair yang berkembang di masa Al-Andalus, wilayah yang kini mencakup Spanyol dan Portugal. Syair ini dikatakan ditulis oleh Shafiyuddin Al-Huli.

Baca Juga: Foto Zayyan Membawa Sajadah Trending di X, Idol Korea Pertama yang Mengucapkan Selamat Idul Fitri

Dalam kitab Dawawin Asy-Syi’ri al-Arabi ala Marri Al-Ushur (jilid 19, halaman 182), ungkapan tersebut disebutkan sebagai bagian dari nyanyian yang biasa dinyanyikan oleh para perempuan saat merayakan hari raya.

Syair ini menggambarkan kegembiraan serta doa bagi sesama agar termasuk dalam golongan orang-orang yang kembali dalam keadaan suci dan meraih kemenangan.

Seiring waktu, ucapan ini menyebar dan menjadi bagian dari berbagai tradisi perayaan Idul Fitri, termasuk di Indonesia.

Meskipun asal-usulnya berbeda, makna ungkapan ini tetap mencerminkan harapan akan kebahagiaan, kesucian, serta keberkahan bagi umat Muslim yang merayakannya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#islam #doa dan harapan #minal aidin wal faizin #lebaran #Indonesia #idul fitri