RADARTUBAN - Para ilmuwan kini sepakat bahwa masa transisi dari remaja ke dewasa tidak lagi berakhir pada usia 18 atau 21 tahun seperti yang selama ini diyakini.
Dalam artikel yang diterbitkan di The Lancet Child & Adolescent Health, para peneliti mengusulkan untuk memperluas definisi masa remaja hingga usia 24 tahun.
Bahkan ada yang menyarankan hingga 30 tahun.
Penelitian ini menyoroti perubahan biologis, sosial, dan ekonomi yang memengaruhi perkembangan individu.
Misalnya, usia pubertas kini terjadi lebih awal, sementara peran dewasa seperti menikah, memiliki anak, dan mandiri secara finansial cenderung terjadi lebih lambat dibandingkan generasi sebelumnya.
Hal ini menciptakan periode transisi yang lebih panjang antara masa kanak-kanak dan kedewasaan.
"Perpanjangan masa remaja mencerminkan realitas kehidupan modern yang lebih kompleks dan penuh tantangan," ujar salah satu penulis studi tersebut.
Perubahan ini berdampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, kesehatan mental, dan kebijakan publik.
Dengan memahami bahwa individu hingga usia 30 tahun masih berada dalam fase transisi, layanan kesehatan mental dan program pengembangan diri perlu disesuaikan untuk mencakup kelompok usia ini.
Bagi banyak generasi muda, perpanjangan masa remaja ini menjadi kabar baik karena memberikan lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi identitas, mengejar pendidikan, dan mempersiapkan diri sebelum mengambil peran dewasa.
Namun, hal ini juga menandakan perlunya dukungan berkelanjutan dari keluarga, institusi pendidikan, dan pemerintah agar mereka dapat menjalani fase transisi ini dengan sukses.
Dengan pengakuan bahwa masa remaja kini berlangsung lebih lama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama