Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Memahami Depresi: Bukan Soal Kurang Iman, tapi Luka Batin yang Butuh Penyembuhan

M. Afiqul Adib • Selasa, 27 Mei 2025 | 01:20 WIB
Artikel ini mengupas fakta depresi, stigma sosial, dan pentingnya mengenali serta merawat luka batin dengan tepat.
Artikel ini mengupas fakta depresi, stigma sosial, dan pentingnya mengenali serta merawat luka batin dengan tepat.

RADARTUBAN - Di era sekarang yang serba cepat dan penuh tuntutan, depresi bukan lagi hal yang langka.

Bahkan, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap 40 detik, satu orang di dunia meninggal akibat bunuh diri—dan mayoritas kasusnya berkaitan dengan depresi yang tidak tertangani.

Angka ini jelas bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras yang menunjukkan bahwa ada masalah besar di balik gemerlap dunia modern.

Sayangnya, masih banyak yang menganggap bahwa depresi adalah soal kurang iman atau kurang bersyukur.

Padahal, keimanan dan kondisi kejiwaan adalah dua hal yang berbeda. Iman adalah dimensi spiritual, sedangkan depresi adalah persoalan psikologis dan medis. Keduanya tidak bisa dipertukarkan begitu saja.

Depresi juga bukan sekadar rasa sedih. Sedih biasanya datang setelah kejadian yang jelas, seperti kehilangan orang terdekat atau kegagalan tertentu.

Sementara depresi bisa muncul tanpa sebab yang langsung terasa.

Bisa jadi itu akumulasi luka lama, rasa tidak berguna, atau perasaan kosong yang sulit dijelaskan.

Buku Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy memberi gambaran menyeluruh soal kondisi ini.

Regis, yang merupakan penyintas depresi, menjelaskan bahwa depresi bukan kondisi yang dicari-cari, sebagaimana penderita asma tak pernah memilih sulit bernapas.

Pikiran untuk menyakiti diri sendiri bahkan bisa muncul setiap hari, dan itu adalah fase yang sangat berat.

Di era digital ini, kondisi makin rumit. Manusia modern dijejali informasi tanpa henti—dari bencana, gosip, perang, hingga video viral.

Otak manusia, yang sejatinya terbatas dalam menampung dan memproses data, dipaksa terus bekerja tanpa jeda. Akibatnya, banyak orang mengalami kelelahan mental secara perlahan namun terus menerus.

Belum lagi tekanan sosial yang semakin tinggi. Generasi muda dituntut untuk tahu banyak hal: harus produktif, tampil sempurna di media sosial, rajin investasi, tapi tetap bisa liburan dan punya healing story.

Banyak yang akhirnya merasa tertinggal dan tak cukup baik, meski sebenarnya sedang berjuang keras setiap hari.

Di sisi lain, norma sosial juga punya andil dalam memperparah situasi. Misalnya, toxic masculinity yang masih melekat kuat membuat laki-laki enggan menunjukkan sisi emosionalnya.

Kalimat seperti “cowok kok nangis” mungkin terdengar biasa, tapi efeknya bisa membekas sepanjang hidup dan menghambat banyak pria untuk mencari bantuan.

Stigma terhadap kesehatan mental juga kerap membuat orang enggan terbuka. Tak sedikit yang takut dikira lemah, kurang iman, atau terlalu cengeng.

Padahal, mengakui perasaan sedih bisa sangat melegakan.

Seperti pengalaman penulis ketika ibunya meninggal dunia—berbagi cerita dan menuliskannya justru menjadi jalan untuk menyembuhkan diri.

Oleh karena itu, memahami depresi secara utuh sangat penting. Depresi bukan soal kurang kuat, tapi soal luka batin yang belum sembuh.

Dan seperti halnya luka fisik, luka batin pun perlu ditangani dengan serius, dengan cara yang tepat, dan dengan dukungan yang memadai.

Karena sesungguhnya, menangis bukan tanda lemah.

Dia adalah cara tubuh dan jiwa memberi sinyal: bahwa sudah waktunya kita beristirahat, menerima, dan mulai menyembuhkan diri. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#WHO #sedih #kejiwaan #Organisasi Kesehatan Dunia #statistik #depresi