RADARTUBAN- Oxford University Press baru-baru ini menetapkan istilah brain rot atau pembusukan otak sebagai Word of the Year.
Istilah ini merujuk pada penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi berlebihan konten digital yang minim nilai edukatif.
Fenomena ini mengundang keprihatinan para ahli, termasuk komunitas neurologi, terhadap potensi risiko penggunaan layar berlebihan terhadap kesehatan mental dan perkembangan otak.
Menurut Dr. Andreana Benitez dari University of South Carolina School of Medicine, otak yang terus terpapar konten dangkal dapat mengalami kelelahan kognitif layaknya tubuh yang terlalu sering mengonsumsi junk food.
Walau bukti klinis terkait kerusakan struktur otak masih diperdebatkan, data CDC mencatat remaja di Amerika menghabiskan rata-rata empat jam lebih sehari di depan layar, sementara orang dewasa lebih dari enam jam per hari.
Maraknya penggunaan gadget sejak anak-anak berusia dini memicu kekhawatiran para pakar.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan layar yang intens dapat meningkatkan kerentanan terhadap masalah emosi dan fisik pada remaja.
Dr. Costantino Iadecola dari Weill Cornell Medical Center menekankan bahwa meski dampaknya pada struktur otak belum terbukti jelas, hilangnya aktivitas fisik dan kurangnya interaksi sosial karena screen time berlebih dapat menghambat perkembangan neurologis optimal, terutama pada masa kanak-kanak.
Tak hanya durasi, jenis konten yang dikonsumsi juga menjadi sorotan.
Dr. Benitez menjelaskan bahwa paparan terhadap materi digital yang negatif atau tidak merangsang intelektualitas bisa memperburuk kondisi psikologis, bahkan mengganggu persepsi seseorang terhadap realitas.
Oleh karena itu, dia mendorong anak-anak dan orang tua untuk lebih selektif dalam mengonsumsi konten serta membiasakan berpikir kritis terhadap informasi yang ditemui.
Ia juga menyarankan untuk menghindari penggunaan perangkat elektronik menjelang tidur guna mencegah insomnia.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar orang tua menyusun panduan penggunaan layar di rumah yang mendorong kreativitas, hubungan sosial, dan aktivitas luar ruangan seperti seni atau olahraga demi perkembangan yang seimbang.
Sebuah panel ahli yang dibentuk oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan agar anak-anak di bawah tiga tahun sebaiknya tidak diperkenalkan pada layar sama sekali.
Untuk anak-anak di bawah 15 tahun, penggunaan media sosial disarankan dibatasi secara ketat.
Laporan mereka menyoroti potensi risiko paparan konten negatif yang merusak kesehatan mental anak dan meningkatkan kemungkinan depresi serta kecemasan.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni