RADARTUBAN - Pernah merasa terjebak di antara kebutuhan orang tua dan tanggungan anak, sampai dompet rasanya menipis terus?
Selamat datang di dunia 'Generasi Sandwich'! Banyak dari kita yang pusing tujuh keliling soal keuangan, tapi tahukah Anda, akar masalahnya mungkin bukan cuma soal uang?
Mas Melvin Mumpuni, pendiri Finansialku, mengungkapkan fakta mengejutkan tentang bagaimana mindset kita terhadap uang bisa jadi penentu utama kesehatan finansial.
Diskusi ini membuka mata kita lebar-lebar.
Gen Z Boros? Ini Dia Biang Keroknya!
Baru-baru ini, sebuah artikel mengungkap kalau 70 persen pendapatan Gen Z di Indonesia ludes untuk konsumsi.
Gadget baru, baju kekinian, kopi setiap hari... familiar? Mas Melvin menyebut ini bukan kebetulan!
Kemudahan pembayaran modern seperti QRIS dan Paylater bikin kita belanja tanpa mikir. Belum lagi, banyak "kebutuhan" yang sebenarnya cuma buatan.
Ingat cerita organ hewan yang "dipromosikan" jadi makanan enak pas Perang Dunia II di Amerika? Sama! Kebutuhan kita seringkali "diciptakan" agar kita terus belanja.
Lalu, bagaimana melawannya? Ada dua cara jitu:
- Finansial: Bikin anggaran ketat dan lacak setiap pengeluaran.
- Non-Finansial: Latih mindfulness. Sadari apa yang benar-benar Anda butuhkan, bukan cuma ikut-ikutan tren. Kendalikan pengeluaran Anda, jangan biarkan pengeluaran mengendalikan Anda!
"Cari Uang Itu Sulit?" Stop Mindset Jadul Ini!
Pernah dengar nasihat "cari uang itu susah"? Mas Melvin mengaku dulu juga punya mindset ini. Kebiasaan ini bisa membuat kita secara tidak sadar benar-benar kesulitan mencari uang.
Tapi, ada pencerahan:
"Cari uang itu sulit kalau enggak ngerti caranya."
Kutipan ini mengubah segalanya! Kunci untuk tidak kesulitan adalah belajar dari mereka yang sudah sukses. Jangan cuma mengeluh, tapi cari tahu strateginya!
Buka "Sembilan Pintu Rezeki" Anda!
Mas Melvin membagi sumber penghasilan menjadi sembilan "pintu rezeki" yang bisa kita buka satu per satu:
- Active Income: Uang yang Anda dapatkan langsung dari pekerjaan Anda (misal: gaji bulanan).
- Investment Income: Uang yang bekerja untuk Anda melalui kepemilikan (misal: keuntungan dari saham).
- Passive Income: Aset yang menghasilkan uang untuk Anda (misal: royalti atau franchise).
Mulailah dengan satu pintu, lalu buka pintu-pintu lainnya. Semakin banyak pintu yang terbuka, semakin menyenangkan perjalanan keuangan Anda!
Melejitkan Penghasilan: Vertikal atau Horizontal?
Ingin penghasilan meroket? Ada dua jalur yang bisa Anda tempuh:
- Pertumbuhan Vertikal: Naik jabatan di pekerjaan yang sama (dari staf jadi manajer).
- Pertumbuhan Horizontal: Diversifikasi sumber pendapatan (misal: jadi staf kantoran, tapi akhir pekan jadi fotografer, lalu uangnya diinvestasikan ke franchise).
Apa Itu Aset dan Liabilitas Sebenarnya?
Seringkali kita salah kaprah soal aset dan liabilitas. Mas Melvin memberikan definisi sederhana namun powerful:
"Aset itu adalah segala sesuatu yang kelihatan enggak kelihatan tapi bisa menghasilkan pemasukan."
Contohnya? Kamera yang disewakan, produk digital, royalti (seperti Air Jordan milik Michael Jordan), bahkan hubungan baik dengan orang lain bisa jadi aset!
Sebaliknya, liabilitas adalah kebalikannya:
"Liability itu segala sesuatu kelihatan enggak kelihatan malah keluarin uang buat kita,'' kata Mas Melvin.
Mobil Anda bisa jadi liabilitas jika hanya mengeluarkan biaya tanpa menghasilkan apapun.
Sandwich Generation: Masalahnya Bukan Tanggungan, tapi...
Bagi Anda yang merasa "Generasi Sandwich," seringkali masalah utama bukanlah tanggungan pada orang tua atau anak, melainkan... penghasilan yang tidak cukup.
Ibarat meja kafe berkaki satu (gaji UMR) yang menopang beban berat. Solusinya?
"The problem is income."
Tambahkan "kaki-kaki" baru pada meja Anda dengan diversifikasi pendapatan.
Dan yang paling penting: berkomunikasi secara terbuka dengan orang tua tentang kondisi keuangan dan tujuan masa depan. Ini memang sulit, tapi krusial!
Pensiun di Usia Berapa? Jawaban Tak Terduga
Pertanyaan klasik: kapan waktu yang tepat untuk merencanakan pensiun? Mas Melvin punya pandangan yang menantang.
"Pensiun itu bisa di usia berapa pun asalkan satu ee Kamu sudah siap dengan uangnya," kata dia.
Tidak ada usia ideal, yang ada adalah kesiapan finansial dan gaya hidup yang Anda inginkan. Hitung berapa uang yang Anda butuhkan untuk pensiun nyaman, lalu mulailah menabung dan berinvestasi. Jangan sampai di masa tua, Anda malah merepotkan anak-anak.
"Selalu ada opsi ketiga, selalu ada opsi keempat," terang dia.
Ini bukan cuma tentang memilih antara dua opsi (misal: beli HP atau tabung nikah), tapi menciptakan opsi baru yang memungkinkan Anda meraih keduanya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama