RADARTUBAN - Pernah nggak sih kamu duduk sendirian, niatnya cuma mau istirahat sebentar, tapi tiba-tiba otakmu muter kayak kipas angin rusak?
Mikirin hal-hal yang belum tentu kejadian. Mulai dari “Kenapa tadi dia jawab ‘oke’ doang?” sampai “Kalau aku bilang ‘iya’, nanti dikira agresif.
Tapi kalau ‘nggak’, takut disangka nggak niat.”
Padahal, masalahnya sepele. Tapi karena dibumbui pikiran sendiri, jadi ruwet kayak benang kusut.
Inilah yang disebut overthinking, dan sayangnya, kita semua pernah (atau sedang) jadi korbannya.
Overthinking: Sibuk Tapi Nggak Bergerak
Overthinking itu sering menyamar jadi produktivitas.
Kita merasa sibuk banget mikirin semua kemungkinan, tapi nggak ada satu pun keputusan yang diambil.
Alih-alih bergerak maju, kita malah kejebak dalam loop pikiran yang nggak ada ujungnya.
Kayak nonton trailer film terus-menerus tapi nggak pernah nonton film utuhnya.
Capek mental, bingung sendiri, dan akhirnya ya diem aja.
Era Digital, Kecemasan Sosial, dan Algoritma Pikiran
Di zaman sekarang, overthinking makin subur karena kita hidup di era digital yang serba cepat dan serba terlihat.
Media sosial jadi panggung besar, dan kita jadi aktor yang terus mikir: “Kalau aku posting ini, nanti dikira pamer nggak ya?” atau “Kenapa dia lihat story-ku tapi nggak bales chat?”
Fenomena ini berkaitan erat dengan kecemasan sosial, yaitu ketakutan berlebihan terhadap penilaian orang lain.
Dan di era digital, penilaian itu datang bukan cuma dari orang sekitar, tapi dari siapa pun yang bisa lihat profil kita.
Kita jadi terlalu sadar akan eksistensi diri, tapi lupa cara menikmati hidup. Kita terlalu sibuk mikirin “apa kata orang”, sampai lupa tanya “apa kabar diri sendiri?”
Kadang Kita Cuma Butuh Tidur, Bukan Overanalisis
Lucunya, banyak dari overthinking itu muncul bukan karena masalah besar, tapi karena kita kurang tidur. Iya, sesederhana itu.
Otak yang lelah cenderung lebih dramatis. Hal kecil bisa terasa seperti akhir dunia.
Padahal, kadang kita cuma butuh tidur nyenyak, bukan overanalisis.
Bukan diskusi panjang dengan diri sendiri soal “kenapa dia nggak bales chat”, tapi sekadar rebahan, tarik napas, dan bilang ke diri sendiri, “Udah, cukup mikirnya. Besok aja.”
Hidup Itu Sederhana, Kita Aja yang Ribet
Hidup sebenarnya nggak serumit itu.
Tapi kita sering kali bikin skenario sendiri di kepala, lengkap dengan twist dan plot yang bahkan belum tentu terjadi.
Kita takut gagal, takut ditolak, takut salah langkah, padahal semua itu bagian dari hidup.
Jadi, kalau kamu lagi overthinking sekarang, coba tarik napas. Tanyakan ke diri sendiri: “Masalah ini beneran penting, atau cuma aku aja yang kebanyakan mikir?”
Karena pada akhirnya, hidup itu bukan soal memikirkan semua kemungkinan, tapi soal berani melangkah meski belum tahu hasilnya.
Dan kadang, langkah pertama yang paling penting adalah tidur dulu. Siapa tahu, besok pagi semuanya terasa lebih ringan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama