RADARTUBAN- Di era ketika kata “healing” jadi mantra sakti generasi muda, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa sih sebenarnya yang kita cari?
Apakah healing itu benar-benar soal staycation di hotel estetik, kopi senja, dan caption “self reward”? Atau jangan-jangan, kita cuma sedang kabur dari tanggung jawab sistemik yang bikin kepala cenat-cenut?
Karena kalau dipikir-pikir, mungkin kita nggak butuh healing dalam bentuk liburan. Mungkin yang kita butuhkan adalah gaji layak dan teman yang mau dengerin.
Fenomena healing sering kali lebih mirip pelarian. Kita capek kerja, capek hidup, capek mikirin masa depan yang nggak jelas, lalu memutuskan untuk “healing” ke tempat yang jauh.
Tapi begitu pulang, stresnya masih nempel. Tagihan tetap datang. Deadline tetap menunggu. Bos tetap nyebelin.
Healing yang sesungguhnya bukan soal pergi, tapi soal berani tinggal.
Tinggal bersama rasa nggak nyaman, tinggal bersama pertanyaan yang belum terjawab, dan tinggal bersama diri sendiri yang belum utuh.
Healing bukan soal estetika, tapi soal keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Dalam ekonomi yang makin absurd ini, gaji layak bukan cuma soal angka, tapi soal martabat.
Banyak orang yang merasa stres bukan karena kurang liburan, tapi karena penghasilan nggak cukup buat hidup layak.
PHK di mana-mana, pengangguran meningkat, dan UMR kadang cuma cukup buat bayar kos dan makan nasi telur.
Kalau kamu punya gaji yang cukup, kamu bisa tidur lebih nyenyak, makan lebih sehat, dan punya ruang untuk berpikir jernih.
Healing jadi lebih mungkin terjadi karena kamu nggak terus-terusan mikir, “Besok makan apa?” atau “Tagihan listrik gimana?”
Selain gaji, teman yang greenflag juga jadi kunci healing yang sesungguhnya.
Teman yang mau dengerin tanpa ngegas, yang nggak ngejudge, dan yang bisa bilang, “Kamu capek ya? Cerita aja.” Itu lebih menyembuhkan daripada 3 hari di resort pinggir pantai.
Lingkungan yang suportif bikin kita merasa aman untuk jujur, untuk nangis, untuk bilang, “Aku nggak baik-baik aja.” Dan itu penting. Karena healing bukan soal sembuh total, tapi soal punya ruang untuk pulih pelan-pelan.
Jadi, sebelum kamu checkout hotel mahal demi “healing”, coba pikirkan: apa yang sebenarnya kamu butuhkan? Mungkin bukan liburan, tapi gaji yang cukup dan teman yang tulus.
Mungkin bukan escape, tapi sistem yang lebih adil dan lingkungan yang lebih ramah.
Karena healing yang sesungguhnya bukan soal pergi jauh, tapi soal punya alasan untuk tetap bertahan.
Dan kadang, alasan itu sesederhana: gaji layak dan teman yang greenflag. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni